Hidup sebagai laki-laki memang susah-susah gampang. Terasa gampang karena laki-laki punya banyak hak istimewa dibanding perempuan di masyarakat, seperti lebih leluasa bermain keluar rumah maupun mengejar karier dan lebih bebas.  Tapi segala hak istimewa yang dimiliki laki-laki pasti juga diikuti oleh tanggung jawab sosial yang besar.

Coba deh lihat di sekeliling kamu, laki-laki banyak yang dituntut oleh kriteria sosial untuk mapan, harus mampu mengontrol kondisi pasangan dan, bahkan kadang ada yang sampai frustasi dan  memakai cara-cara kekerasan ketika ia tak mampu mengendalikan kondisi yang ada diluar dirinya.

Padahal pada kenyataannya banyak lho laki-laki yang tidak bisa memenuhi semua kriteria-kriteria sosial yang dilekatkan pada dirinya. Bayangkan betapa sulitnya kamu kalau dalam kondisi belum mapan, tapi dituntut ini itu oleh pasangan atau orang tua. Gak nyaman kan? Nah, zaman sekarang sudah saatnya kamu untuk tahu beberapa hal tentang   konsep “Laki-Laki Baru”. Apa itu? Lebih lengkapnya ada dibawah ini.

1 Menjadi laki-laki itu dibentuk secara sosial

laki-laki punya pilihan menjadi laki-laki via www.flickr.com

Para “laki-laki baru” menyadari bahwa ia tumbuh dan dibentuk oleh lingkungan sosial dan budaya masyarakat. Segala hak istimewa yang dimilikinya sebagai laki-laki adalah pemberian dari masyarakat.

Advertisement

Jadi sebenarnya para “laki-laki baru” menyadari ia punya pilihan untuk menolak atau menerima bentukan sosial yang diberikan. Seperti mitos laki-laki tidak boleh menangis, laki-laki harus kuat hingga pantang berkeluh kesah.

Ia tahu sebagai laki-laki baru ia berhak  menjadi sosok yang lembut, bersedih atau menjadi diri yang terbebas dari mitos-mitos tentang laki-laki dalam masyarakat.

2. Citra diri laki-laki itu tidak tunggal

Citra diri laki-laki yang tidak tunggal via www.flickr.com

Banyak laki-laki mengidamkan sosok citra diri yang ideal. Bahwa laki-laki yang menang dalam perkelahian, merokok dan minum minuman keras,  menghabiskan banyak uang untuk ke gym untuk membentuk tubuh yang ideal seperti citra iklan, sampai punya banyak cewek untuk dianggap sebagai laki-laki.

Sedangkan para “laki-laki baru” memegang prinsip bahwa semakin kamu tulus memberikan kasih sayang, menghormati pasangan dan menolak melakukan cara-cara kekerasan maka kamu semakin laki-laki.

3. Menyelesaikan masalah tidak dengan adu fisik

Laki-laki tidak melakukan kekerasan fisik via www.flickr.com

‘Ayo kita selesaikan masalah kita secara laki-laki’ , ungkapan itu pasti sering kamu dengar. Seolah penyelesaian persoalan laki-laki harus diselesaikan dengan adu fisik.

Padahal persoalan yang dialami laki-laki bisa diselesaikan dengan cara-cara yang tak perlu dengan kekerasan. Para “laki-laki baru” lebih mengedepankan penyelesaian masalah lewat diskusi, berbicara baik-baik dan solutif  ketika menghadapi permasalahan dengan pasangan maupun lingkungannya.

4. Mampu berkomunikasi asertif (dua arah)

Laki-laki yang asertif via www.flickr.com

Komunikasi asertif adalah bentuk komunikasi yang jujur, mampu melibatkan empati pada lawan bicara dan mampu mengontrol kemarahan. Komunikasi asertif inilah yang digunakan oleh para laki-laki baru untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan siapapun.

Komunikasi dua arah menghindarkan dominasi kepada pasangan atau pun lawan bicara. Komunikasi jenis ini juga menciptakan hubungan yang setara dengan pasangan atau dengan lingkungan sekitar.

5. “Laki-Laki Baru” Marah secara positif

Laki-laki yang mampu tersenyum dan mengendalikan rasa marah via www.flickr.com

Marah itu manusiawi, tetapi marah menjadi tidak wajar ketika kamu menumpahkannya dengan cara memukul dan merugikan orang lain. Maka penting untuk kamu untuk belajar teknik time outTeknik time out atau jeda ini berguna ketika kamu sedang marah.

Ketika “lelaki baru” sedang marah, ia tidak langsung menumpahkan amarahnya. Ia akan berusaha mengendalikan emosinya dengan menarik nafas panjang atau menenangkan diri terlebih dahulu. Para “laki-laki baru” adalah sosok yang mampu mengendalikan marahnya secara positif dan tidak terjebak dengan emosinya sendiri.

6. Para “Laki-Laki Baru” Lebih Menghormati perempuan

Menghormati perempuan via thesocietypages.org

Laki-laki baru memegang prinsip bahwa perempuan adalah partner yang setara. Ia memperlakukan perempuan dengan penuh rasa hormat dan tidak melakukan tindakan yang menyakiti atau menyinggung perempuan. Ia menyadari bahwa menyakiti perempuan seperti halnya ia menyakiti hati ibunya yang juga seorang perempuan.

7. Menjalin relasi yang “tumbuh”

Laki-laki yang bersedia tumbuh bersama via www.flickr.com

Ketika memiliki pasangan,” laki-laki baru” memiliki prinsip bahwa dalam hubungan, ia dan pasangannya adalah pribadi yang tumbuh. Relasi yang terjalin antara keduanya pun juga tumbuh bersama. Sehingga tidak ada istilah membatasi dalam komitmen sebuah hubungan.

8. Tak malu melakukan pekerjaan domestik.

Laki-laki memasak dan mengerjakan pekerjaan domestik via www.flickr.com

Hari ini kamu pasti sering melihat laki-laki yang menjadi chef. Ya, “laki-laki baru” tidak lagi malu untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik, seperti mencuci, menyapu hingga memasak. Ia dengan senang hati melakukan pekerjaan domestik karena pekerjaan itu bukan hanya bisa dilakukan oleh perempuan, tetapi juga laki-laki.

9. Paham tentang kesehatan reproduksi diri, pasangan atau anak. 

Laki-laki sadar kesehatan reproduksi pasangan dan anak via www.flickr.com

Banyak laki-laki yang tak mengetahui tentang pentingnya kesehatan reproduksi. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi menjadi penting kalau kamu berkeinginan menjadi “laki-laki baru”. Contohnya saja mengetahui berbagai penyakit yang bisa menyebabkan gangguan reproduksi seperti: kanker, gangguan kehamilan dan janin, hingga resiko  HIV/AIDS yang bisa kamu alami.

Penting juga bagi “laki-laki” baru untuk tahu kondisi kesehatan reproduksi pasangan. Mereka tidak akan rikuh mengingatkan pasangannya cek pap-smear saat melihat keputihan pasangan yang tidak wajar. “Laki-laki baru” juga melek terhadap pendidikan kesehatan reproduksi anak.

Pemahaman ini membuat laki-laki baru memiliki kemampuan untuk bisa mendampingi istrinya dalam proses kehamilan, persalinan hingga kelak menjadi ayah.

10. Tidak tinggal diam saat melihat perempuan mengalami kekerasan.

Laki-laki menolak kekerasan via www.flickr.com

Kebanyakan laki-laki cenderung diam atau tidak perduli ketika melihat perempuan disakiti atau mengalami kekerasan.

“Laki-laki baru” memiliki pandangan bahwa ia tidak boleh diam ketika melihat terjadinya kekerasan pada perempuan di sekitarnya. Ia akan bergerak, melakukan sesuatu demi menghentikan siklus kekerasan tersebut.

Nah, dari beberapa penjelasan diatas apakah kamu dan laki-laki disekitarmu sudah termasuk dalam kriteria “laki-laki baru”? Jika belum, kamu bisa memulainya dari sekarang.

Laki-laki baru, baru laki-laki!