Terlepas dari skripsi dan segala tetek bengeknya ternyata masih ada hal lain yang lebih menantang untuk kita. Uniknya, hal ini tidak membutuhkan pengetahuan soal metode penelitian dan referensi. Tidak pula menuntut kita membuktikan argumentasi. Bahkan ini sesederhana mendengarkan kata hati.

Namanya pun mudah saja: Belajar Percaya

Berbeda dengan perjuangan biasa yang memaksa kita mengerahkan segala upaya, justru kali ini kita dituntut untuk punya keberserahan tingkat dewa. Meyakini saja, ada tangan paling terampil yang akan mengatur segalanya. Menjalani semua yang ada di depan mata dengan prasangka baik padaNya.

Tidak mudah memang jadi Hamba penurut. Kita saja yang kadang terlalu keras kepala ingin dijelaskan semua dengan runut

Kita-kita ini kadang kerasa kepala ingin dijelaskan sesuatu dengan runut via www.engagedandinspired.com

Selepas lulus dari bangku kuliah yang sudah dijalani sekian lama, rasa ingin segera menjadi sesuatu membuat kita lantang bertanya:

Advertisement

“Lalu setelah ini apa?”

Ada rasa haus untuk segera meraih cita-cita. Apa saja yang ada di depan mata kita sambar tanpa pikir panjang setelahnya. Pekerjaan impian, kesempatan beasiswa, sampai pilihan untuk membangun hidup bersama seseorang yang kita anggap pasangan sejiwa. Tidak penting apa, hidup hanya harus terus bergerak saja. Berhenti sementara membuat kita merasa tidak tumbuh sebagai manusia.

Tapi bukankah kreativitasNya memang sering tak terduga? Sesuatu yang kita anggap jeda lama bisa saja jadi kelas akselerasi buatNya. Ini bukan soal tumbuh, berkembang — dengan runut. Namun bagaimana kita sedang didikNya untuk jadi hamba yang lebih penurut.

Bukankah dengan keyakinan penuh biasanya kebaikan akan ikut?

Saat kita menatap langit-langit kamar, tak tahu sedang disetir ke mana. Maukah kita percaya Ia ada? Ia tak pernah pergi jauh-jauh dari sana

Ia tak pernah ke mana-mana. Selalu di sana via www.engagedandinspired.com

Seperti pasangan pelaku cinta jarak jauh yang tak bisa bersama setiap waktu, rasa percaya kadang hanya harus tumbuh lewat logika sederhana macam itu.

Ia memang tak bisa direngkuh pinggangnya, disandari dadanya, lalu diajak bicara kapan saja.

Tapi keyakinan bahwa ia selalu ada membuat kita lebih tenang saat nafas terhela.

Tidak mudah memang mengikuti ruteNya yang kadang berliku dan penuh improvisasi. Namun dalam perjalanan yang bumpy macam itu ia tak pernah meninggalkan kita sendiri. Ia selalu ada dalam tiap keputusan impulsif yang kita ambil, ia ada di belakang kepala setiap rasa tak percaya menyergap lama. Membuat kita seperti kehabisan nafas karenanya.

Saat kita memandang langit-langit kamar dan tak tahu sedang dibawa ke mana, kadang kita hanya harus menggigit bibir lalu berusaha percaya. Dia tak pernah sekejam itu meninggalkan kita.

Masa depan jelas bukan algoritma yang bisa diperhitungkan. Jika memang ini penuh kejutan apa lagi yang perlu ditakutkan? Toh, kita punya Tuhan

Toh kita punya Tuhan via www.engagedandinspired.com

Saya percaya ini akan terdengar klise sekali. Buat apa bergantung pada sesuatu yang tak terlihat, belum pasti, dan hanya bisa dikenal lewat berbagai janji? Nmaun meyakini sesuatu sepenuh hati kadang berbuah hal-hal manis yang tak terduga di akal sehat kita yang dangkal ini.

Entitas paling megah di semesta hanya harus dipercayai. Selepasnya, Ia akan menunjukkan pada kita kuasaNya yang kadang membuat kaget sendiri.

Jika memang hidup ini penuh kejutan, kenapa harus takut dan memilih berjalan pelan? Kita bisa terus melangkah tanpa batasan. Menjalani semua yang ada dengan penuh rasa yakin dan berserah yang dalam.

Masalah besar dan kegalauan pasti datang. Tapi toh, kita punya Tuhan!