Kamu yang masih kerja di akhir pekan, kapan mau liburan?

Untuk sejenak, pertanyaan itu begitu menohok hati. Bukannya apa-apa, kamu seperti sedang membaca hidup sendiri. Masih kerja di akhir bulan? Ya. Merasa stres dan butuh liburan? Ya. Jadilah pertanyaan itu seperti tamparan yang membuatmu berpikir ulang sekaligus merana.

Namun itu hanya ekspektasi yang tak sesuai saja. Karena kenyataan punya aturan sendiri untuk berjalan. Menuruti keinginan, kamu tak mau juga masih disibukkan pekerjaan di hari orang-orang seharusnya liburan. Tak disangkal, banyak hal yang pada akhirnya terlewatkan karena kamu masih bekerja di saat orang-orang liburan. Kamu yang akhir pekannya bukannya hangout atau pacaran tapi malah bekerja, beberapa hal ini pasti sudah tidak asing lagi.

1. Lembur akhir pekan dijabani untuk selesaikan tanggungan pekerjaan, atau sekadar dapat uang tambahan demi kebutuhan

Kantor sepi, karena kamu lembur sendirian via unsplash.com

Banyak faktor yang membuatmu masih bekerja di akhir pekan. Pertama, sistem kerjamu memang shift-shiftan, dan kebetulan kamu sedang kebagian shift sabtu dan minggu. Kedua, di beberapa perusahaan jam kerja memang tidak selesai di hari Jumat, melainkan Sabtu meski biasanya hanya setengah hari. Ketiga, kamu memang harus lembur demi menyelesaikan pekerjaan dan mendapat sedikit tambahan penghasilan. Apapun itu, intinya bekerja di akhir pekan tidak lagi sebagai pilihan melainkan kewajiban. Ya apa daya, toh kamu memang butuh uang.

2. Kamu yang kerjanya shift-shiftan, pasti merasa kesepian. Libur sering tak berasa libur karena jadwal kesibukanmu tak pernah sesuai dengan orang kebanyakan

Advertisement

Jalan-jalan pun sendirian via unsplash.com

Kamu yang punya sistem kerja shift-shiftan dilemanya justru lebih parah. Harus bekerja di akhir pekan saja itu sudah mengenaskan, karena kamu tidak bisa bersantai dan berlibur seperti orang-orang. Ditambah lagi, hari liburmu adalah hari di mana orang-orang bekerja. Jadi meskipun kamu libur, keluargamu yang lain bekerja. Rumah sepi, makanan pun tak ada. Meskipun kamu nganggur, tak ada yang bisa kamu ajak ‘kongkow’ karena teman-temanmu ngantor semua. Pada akhirnya kamu hanya berdiam diri di rumah, maraton nonton drama korea, menunggu shift bekerjamu tiba.

3. Bekerja di akhir pekan juga terasa berat. Sebab di pikiranmu terbayang orang-orang sedang istirahat

Sementara orang-orang istirahat di rumah, kamu sibuk di kantor via id.pinterest.com

Bila kamu bekerja 8 jam sehari dan 5 hari seminggu yaitu Senin-Jumat, banyak pilihan kegiatan akhir pekan yang bisa kamu lakukan. Tapi karena kamu masih kerja meski akhir pekan sudah tiba, kamu kehilangan kesempatan untuk melakukan hal-hal menyenangkan itu. Ditambah lagi, biasanya mood bekerja di akhir pekan menurun drastis. Mungkin karena kamu membayangkan yang lain sedang istirahat di rumah sementara kamu sibuk memperkaya perusahaan. Apalagi bila pekerjaanmu berhubungan langsung dengan klien-klien di luar. Di hari libur, kebanyakan dari mereka tak mau diganggu oleh pekerjaan. Kamu jadi serba salah dibuatnya.

4. Katanya akhir pekan adalah waktu untuk keluarga. Apa daya, kamu tetap harus bekerja

Waktu untuk keluarga tergadaikan via www.drphil.com

Setelah 5 hari bekerja, pergi pagi pulang malam, akhir pekan adalah momen yang tepat untuk dihabiskan bersama keluarga. Entah sekadar bersantai di rumah, atau merencanakan liburan ke luar kota yang bisa dijangkau dalam waktu singkat. Momen refreshing seperti ini sangat banyak manfaatnya. Bukan hanya untuk menjaga kualitas keluarga, juga untuk mengisi ulang semangat agar kamu siap menghadapi hari Senin yang berat. Namun liburan bersama keluarga hanya angan-angan untuk kamu yang bekerja di akhir pekan. Kamu tak bisa ikutan karena harus bekerja, dan keluargamu pun tak jadi liburan karena tak ‘afdol’ rasanya bila ada anggota keluarga yang tertinggal.

5. Setiap kali ada ajakan jalan dari teman, terpaksa kamu hanya nyengir lebar-lebar. Lagi dan lagi kamu tak bisa ikutan berakhir pekan

Selalu absen saat kumpul dengan teman-teman via unsplash.com

Selain waktu akhir pekan adalah saatnya bertemu dengan teman-teman. Saling bertukar cerita atau curhat soal pekerjaan, bisa menjadi hiburan dan penyemangat untuk menjalani hari-hari yang berat. Tapi lagi-lagi karena pekerjaan, kamu tidak bisa ikutan. Lama-lama kamu tidak lagi diajak saat ketemuan karena selalu menolak. Padahal dalam hati kecilmu kamu juga ingin ikutan. Kamu yang bisa bekerja dari luar kantor, terkadang memaksa. Ikut hangout dengan membawa laptop dan bahan pekerjaan. Pada akhirnya ada yang kamu korbankan: pekerjaan tak selesai atau obrolan teman-teman terlewatkan karena kamu sibuk sendiri membereskan pekerjaan.

Karena itu, kamu juga sering malas membuka media sosial saat akhir pekan. Bukannya apa-apa, tapi kamu kesal karena banyak orang yang foto-foto soal liburan. Teman-temanmu yang hangout tanpa kamu pun sibuk check-in dan posting foto kebersamaan. Sementara kamu hanya bisa menatap iri di balik meja kerja. Ah, begini banget ya mencari uang?

6. Pacaran di malam minggu hanyalah wacana. Seringnya kamu malah tepar seusai bekerja

Tepar setelah bekerja, malam minggu itu apa? via id.pinterest.com

Orang bilang weekend juga masa-masa cinta bermekaran. Tentu karena ada malam minggu di sana, malam di mana pasangan-pasangan bertemu dan melepas rindu setelah tak bertemu seminggu atau lebih. Mulai kencan sederhana seperti makan di angkringan sampai kencan classy dinner di restoran mewah, hanya ada di angan-angan. Karena Sabtu kamu masih berkutat dengan pekerjaan, malam minggu kamu hadapi dengan tubuh tepar. Rasanya ingin cepat sampai rumah dan tidur semalaman. Tak peduli kata orang malam minggu adalah malam panjang. Kamu butuh istirahat, dan pacar bisa menunggu sampai minggu pagi. Begitu jugakah kamu selama ini?

7. Ada kalanya pikiranmu begitu buntu. Kamu sadar bahwa kamu lelah dan butuh liburan. Sayangnya kesempatan tak selalu ada

Rasanya pengin liburan ke tempat tak ada sinyal via unsplash.com

“Apa kamu nggak capek kerja melulu? Nggak bosan? Nggak kepingin liburan?”

Kalau ditanya, jawabanmu sudah jelas. Kamu capek? Ya. Kamu bosan? Terkadang. Kamu ingin liburan? Jelas! Ada kalanya kamu begitu lelah atas segala rutintas pekerjaan yang tak ada habisnya. Waktu dengan keluarga berkurang dan kesempatan untuk bersenang-senang di akhir pekan juga hilang. Saat pikiran begitu buntu, kamu ingin juga liburan ke luar kota yang tak terjangkau sinyal. Dengan demikian kamu punya alasan untuk tidak mengangkat telepon dari kantor, sehingga untuk sejenak kamu bisa melarikan diri dari pekerjaan. Siapa yang tidak menginginkan hal itu? Tapi mengajukan cuti tidak semudah itu. Ada prosesnya. Terkadang butuh waktu lama, terkadang ditolak juga. Kamu harus tegar menghadapinya.

8. Namun kamu sadar bahwa menjalani dengan setengah hati hanya merugikan diri sendiri. Toh, semua ini demi masa depan

Semua itu demi masa depan, kita harus tetap bersabar via unsplash.com

Kamu bukannya tidak tahu bahwa ‘work-life balance’ itu mutlak perlu. Namun, kamu butuh waktu untuk menyiapkan itu. Ibarat tangga, Sementara ini, kamu harus pandai menyemangati diri untuk menjalani kerja yang tak biasa dengan semangat yang terus terjaga. Toh, menjalani dengan setengah hati justru akan merugikan diri sendiri. Mood buruk dan pekerjaan tak beres seperti yang diharapkan. Ini yang namanya perjuangan. Suatu saat nanti, kamu pasti akan bisa pergi liburan seperti orang-orang, mau di akhir pekan ataupun di awal pekan.

Di kala orang-orang begitu semangat menjalani hari Jumat, kamu malah biasa saja. ‘Thanks god it’s Friday’ tidak pernah ada dalam kamusmu, karena esok hari kamu masih harus menjalani rutinitas yang sama: bangun pagi, mandi, sarapan, ke kantor, kerja, pulang. Sama seperti Senin sampai Jumat. Tapi namanya hidup memang perlu usaha. Daripada sibuk meratapi hidup sendiri, lebih baik kamu mensyukuri. Sebab di luar sana, banyak orang yang menginginkan pekerjaannmu saat ini. Sambil terus bersemangat menjalani hari-hari, kamu juga bisa mulai mengejar mimpi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya