Beberapa hari belakangan netizen kembali dihebohkan dengan berita tentang seorang Diplomat muda yang menjadi juru bicara Indonesia di Sidang PBB ke-71 di New York. Nara Masista Rakhmatia, nama diplomat muda yang menjadi perbincangan saat ini itu, membacakan pidato yang mengritik kepala negara dari beberapa negara di Kepulauan Pasifik.

Delegasi dari Kepulauan Solomon,Vanuatu, Nauru, Kepulauan Marshall, Tuvalu, dan Tonga menyatakan bahwa terjadi pelanggaran HAM di Papua Barat, serta mendesak pemerintah Indonesia untuk membiarkan Papuan Barat menentukan nasibnya sendiri. Nara, dalam pidatonya mewakili pemerintah Indonesia, menyatakan bahwa perwakilan dari negara-negara tersebut telah menyalahgunakan sidang majelis PBB dengan menyoroti persoalan yang menjadi wewenang negara lain, untuk mengalihkan persoalan domestik mereka sendiri. Pernyataan negara-negara tersebut mengarah kepada dukungan terhadap gerakan separatis, dan itu merupakan pelanggaran kedaulatan serta teritori negara.

Banyak pujian yang dilayangkan kepada Nara Masista Rakhmatia. Media-media Indonesia dengan bangga mengangkat berita ini sebagai perayaan suara Indonesia di kancah internasional. Berita-berita tentang sang diplomat yang ditambah embel-embel ‘cantik’ dan ‘muda’ jadi viral. Seolah fakta bahwa sang diplomat yang berani melawan tuduhan negara lain itu masih muda dan cantik wajib diketahui semua lapisan masyarakat. Namun barangkali memang seperti itulah gaya masyarakat Indonesia, yang memerlukan pemanis suasana, sehingga lebih tertarik membaca.

1. Embel-embel cantik , ganteng , tampan yang harusnya pemanis saja justru menjadi fokus utama. Semua kanal berita merasa wajib menyertakannya dalam headline berita

Selepas momen sidang PBB ke-71, media-media di Indonesia berlomba mengangkat peristiwa itu sebagai berita andalan. Uniknya, sebagian besar kanal berita menyertakan embel-embel ‘cantik’ dan ‘muda’ di judul berita. Barangkali, bila disebut ‘diplomat asal Indonesia’ saja tak cukup untuk menarik minta pembaca untuk meng-klik judul artikel. Berita tentang Nara Masista ini bukan jadi yang pertama ataupun satu-satunya.

Bila kita berselancar di dunia maya, sering kita mendapati judul berita yang tidak lupa mencatumkan kata keterangan soal kecantikan, ketampanan, dan sebagainya. Subjek diplomat cantik, pengacara cantik, jaksa ganteng, pak polisi ganteng seolah menjadi kata kunci wajib dalam sebuah berita. Tapi apakah informasi cantik dan ganteng ini sebegitu perlunya?

2. Perhatian pembaca berubah dari peristiwa menjadi sosok pelakunya. Apa yang terjadi tidak lagi jadi fokus utama

Advertisement

Fokusnya bergeser via www.voaindonesia.com

Keterangan tentang subjek yang seharusnya hanya menjadi pemanis, segera bergeser menjadi fokus utama. Barangkali karena inilah kita begitu mudah terkena sindrom salah fokus, sebab kita sibuk memperhatikan detil-detil yang sebenarnya tidak perlu dan melupakan apa yang sangat perlu. Sehingga apa yang seharusnya menjadi fokus utama, segera tergeser ke pinggir dan perlahan tersingkirkan.

Sama yang terjadi pada Nara Masista Rakhmatia, fokus tentang kedaulatan yang dia sampaikan segera saja terpendam dalam profilnya yang dianggap pahlawan dan menawan. Materi sidang PBB ke-71 itu tidak penting lagi, yang penting adalah ada seorang diplomat cantik yang berani memarahi para kepala negara. Barangkali inilah yang membuat Kemenlu heran, mengapa kita justru heboh dengan sosok Nara, padahal siapapun diplomatnya, pernyataan yang sama akan tetap terlontar di sidang PBB.

3. Tak jauh berbeda dengan peristiwa bom Sarinah. Bukan fokus pada kasur terornya, kita malah sibuk ‘ngepoin’ Pak Polisi Ganteng dan bikin hashtag #AkuNaksir

#Akunaksir via singindo.com

Fenomena diplomat cantik ini bukanlah yang pertama. Tentunya kita masih ingat peristiwa bom Sarinah di awal tahun lalu yang sempat mengguncang masyarakat. Ketegangan peristiwanya ditayangkan langsung oleh berbagai stasiun TV swasta. Aksi teror dan masalah keamanan masyarakat itu yang seharusnya menjadi fokus utama. Namun kita malah sibuk membahas sosok polisi ganteng yang tampil patriotik dengan tas selempang dan sepatu kets dengan merk ternama.

Isu terorisme tenggelam dalam hashtag #AkuNaksir, dan masyarakat sibuk ‘ngepoin’ sang polisi ganteng yang sayangnya tidak aktif di Facebook ataupun Twitter. Lalu jangan lupakan juga Staf Ahok yang bikin netizen salah fokus. Juga jaksa ganteng di persidangan kasus Jessica. Ya, positive-thinking saja. Mungkin kreatifitas kita terasah sebab kita sama-sama butuh hiburan di kala diri sudah lelah.

4. Salah fokus membaca berita membuat kita semua kurang dewasa. Mendahulukan emosi tanpa terlebih dahulu memahami sampai tuntas tentu tidak bisa dijadikan ciri khas

Mendahulukan emosi via abiummi.com

Kebiasaan salah fokus ini lebih jauh membuat kita kurang dewasa mengambil sikap. Kita begitu mengutamakan yang hip-hip-hura, dan melupakan esensi persoalan yang lebih utama. Contoh yang paling mudah dilihat adalah kebiasaan kita untuk mendahulukan emosi saat saat disodori sebuah informasi. Sebuah judul yang terkesan kontroversi, dicaci maki tanpa memperdulikan isi.

Padahal bisa saja yang dimaksudkan bukan seperti yang kita pahami. Terbiasa melihat masalah dari satu sisi saja membuat pertimbangan menjadi timpang sebelah. Terbiasa ‘lebay’ pada satu soal saja, membuat kita lupa bahwa ada persoalan lainnya yang lebih penting.

5. Banyak hal yang dapat diambil dari sidang PBB ke-71 di New York sana. Bukan hanya soal diplomat muda yang berani bicara, tapi juga persoalan-persoalan besar yang mulai harus dipikirkan

Banyak masalah besar yang harus dipikirkan via business-humanrights.org

Apakah karena diucapkan oleh seseorang yang parasnya rupawan, lantas sebuah hal sudah pasti benar dan tidak perlu dipertanyakan? Tentunya tidak. Diluar heboh tentang diplomat Nara Masista Rakhmatia, banyak hal yang diperhatikan dari materi sidang PBB tersebut. Jangan sampai kecantikan sosok yang mewakili pemerintah untuk menyampaikan ‘pidato pembelaan diri’ membuat kita abai pada apa yang sedang dipersoalkan. Ada masalah kedaulatan negara, dan ada masalah pelanggaran hak asasi manusia di Papua. Silakan memilih mengutamakan yang mana, namun sudah pasti kita harus mulai memikirkan keduanya.

Judul yang menarik memang mebutuhkan sebuah kata kunci yang bisa menyedot perhatian. Dengan begitu, seseorang akan tertarik untuk menengok isi berita. Namun sebagai pembaca, tentuk kita harus mulai pandai-pandai menganalisis masalah. Sebab selain memberikan informasi, media masa terkadang dibuat untuk menggiring opini. Untuk mengingatkan kita semua, layaklah kita akhiri artikel ini dengan mengutip status komedian Ari Kriting di Twitter: Lagi-lagi bangsamu sibuk merayakan paras wajah. Lupa dengan isi kepala.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!