Mimpi-mimpilah yang menjadikan kita manusia. Dengan mereka, hidup jadi ada artinya. Segala usaha pun kita kerahkan untuk menggapai mimpi-mimpi tersebut. Jika bisa mewujudkan cita-cita yang sudah dipendam lama, tak terkira bangganya.

Sayangnya, perjalanan mewujudkan cita-cita tidak selalu sederhana. Kadang hambatan yang kamu temui begitu besar, dan mimpimu terpaksa tak bisa diwujudkan sekarang. Nah, ketika itu terjadi, apakah kamu akan begitu saja menyalahkan diri dan berhenti berusaha sama sekali?

Padahal kamu tahu bahwa kamu masih berhak melangsungkan perjuangan. Tak bisa mewujudkan mimpimu sekarang, bukan berarti kamu gagal!

1. Perjalanan mewujudkan mimpi sama persis seperti mendaki. Jalur yang kamu lalui menanjak dan berkerikil, dengan banyak tempat berhenti.

Rintangan pasti akan kau hadapi sepanjang perjalanan via developingleadershipqualities.com

Jika hidup adalah mendaki gunung, mewujudkan mimpi ibarat mencapai puncaknya. Namun jika hidup memang seperti mendaki gunung, tentu kamu tak bisa mencapai puncaknya dengan sekejap mata. Proses mencapai puncak ini perlu waktu berhari-hari, dengan persiapan berbulan-bulan sebelumnya. Belum lagi kondisi medan yang penuh semak belukar, kerikil, dan jalan tanjakan. Wajar jika gunung yang menjadi lokasi pendakian akan menyediakan beberapa tempat perkemahan dan perhentian. Kamu harus beberapa kali istirahat dan memasak agar bisa lancar sampai puncak. Ini sama saja dengan proses mewujudkan mimpi. Demi melakukannya, kamu harus dihadapkan pada perjalanan yang berat dan lama.

Advertisement

Mungkin kamu merasa kejatuhan musibah saat mimpimu tertunda karena kecelakaan tak tertunda. Kamu pun merasa lebih tak percaya diri saat harus bekerja terlebih dulu dibandingkan meneruskan pendidikan S-1. Tapi hei, apa ini berarti kamu tak boleh lagi bermimpi?

Semakin besar cita-citamu, semakin banyak hambatan yang akan datang. Jadi, bukankah kesulitan justru akan semakin membuktikan kemuliaan mimpimu itu?

Tak perlu merasa sial sendiri saat mimpimu belum terwujud sampai saat ini. Sebagaimana para pendaki yang sedang berkemah di tempat perhentian sementara, kamu hanya perlu waktu untuk mempersiapkan hal-hal yang kamu perlukan untuk ke puncak. Ingatlah bahwa hambatan bukan berarti kamu harus undur diri. Selalu ada opsi untuk sukses jika mau berpikir lebih jeli lagi.

2. Berjalan sendirian mungkin membuatmu lebih cepat sampai tujuan. Namun adalah hukum alam bahwa manusia tak pernah sendirian — dari lahir hingga dikuburkan.

Ada keluarga yang juga harus kamu bahagiakan via developingleadershipqualities.com

“Manusia itu dilahirkan sendirian. Meninggal juga nanti sendirian.”

“Ah, masa? Gimana caranya kamu lahir sendiri? Terus ibu kamu sama dokter mau kamu kemanain? Nanti juga yang mau ngubur kamu siapa kalau kamu sendiri?”

Manusia tidak diciptakan untuk hidup sendirian. Kita adalah makhluk sosial, satu dan lainnya saling berkaitan. Maka dari itu, tak jarang kita dituntut untuk mau berkompromi. Termasuk dalam hal mengejar mimpi.

Mungkin sebenarnya kamu ingin meniti karir dengan bekerja di perusahan swasta terkenal, tapi orangtua justru menyarankanmu untuk menikah saja. Mungkin kamu ingin melanjutkan kuliah master, tapi keluarga menyuruhmu untuk bekerja dan membantu keuangan rumah. Dihadapkan pada situasi ini, kamu tahu kamu harus berkompromi dan menunda mimpi.

Tanpa harus marah pada keadaan, gak ada salahnya kamu coba nikmati saja. Karena hidup bukan hanya soal kamu, masih ada orangtua, saudara dan keluarga yang menjadi warna dihidupmu. Sampai puncak dalam waktu singkat akan membuatmu puas, tapi apakah kamu akan merasa bahagia jika harus meninggalkan orang-orang kesayangan di belakang?

Toh, kebahagian tak akan nikmat jika hanya dinikmati sendirian.

3. Kadang mimpimu harus tertunda karena tipisnya uang yang kamu punya. Tapi mimpi tidak materialistis; tak akan langsung pergi hanya karena dompetmu tipis!

Kamu harus sabar dan berjuang lebih keras via www.whoa.in

Keterbatasan ekonomi seringkali memaksamu harus menunda dalam mewujudkan mimpi. Mungkin kamu harus bekerja sebagai karyawan dan menunda menjadi wirausaha karena belum ada modal. Atau mungkin, kamu rela menunda masuk kuliah karena keluargamu baru tertimpa musibah.

Karena ini, kamu sempat berpikir bahwa mimpimu itu memang tak pantas kamu dapatkan. Alih-alih berjuang lebih keras lagi, gak kamu ingin menyerah dan mengubur mimpimu dalam-dalam.

Hey, tak perlu khawatir akan masa depan, karena faktanya orang-orang yang sekarang sudah mewujudkan mimpi pun juga pernah mengalami penundaan hal yang sama. Penundaan ini terjadi bukan karena kamu tak pantas mendapatkannya, tapi karena kamu butuh persiapan yang lebih matang dan perjuangan lebih keras. Mimpi tidak materialistis: dia tak akan langsung melayang hanya karena dompetmu tipis!

4. Boleh jadi mimpimu tertunda berkali-kali, sampai hatimu “kebas” dan malas berjuang lagi. Tapi, menyerah itu sama saja dengan bunuh diri.

Kamu bisa mati tanpa mimpi via imgarcade.com

Hidup tanpa mimpi membuatmu seperti mayat hidup. Hidup tanpa ada sesuatu yang ingin dicapai juga membuatmu tak bersemangat menjalani hari. Bahkan seringkali kamu jadi tak tahu kemana harus melangkahkan kaki. Jadi kamu adalah orang beruntung karena pernah merasakan hidup dengan mimpi-mimpi yang kamu buat dulu.

Namun kenyataan hidup bisa membuatmu jadi takut bermimpi. Kegagalan yang pernah alami membuatmu takut memperjuangkannya lagi. Mungkin kamu dulu pernah bermimpi bisa menulis novel, namun penolakan dari penerbit membuat nyalimu mengerut drastis. Mungkin kamu pernah bermimpi menjadi karyawan di perusahaan internasional, namun penolakan pertama membuatmu enggan untuk mencoba lagi. Hal ini sama saja dengan bunuh diri. Nah, daripada membabat habis semua mimpi, bukankah belajar lebih keras lagi dan memantaskan diri justru bisa memperbesar kemungkinan untuk membuatmu hidup lagi?

5. Semakin besar mimpi, gunung yang harus kamu daki semakin tinggi. Kamu bisa memilih menikmati perjalanan daripada mengeluh karena tak juga sampai tujuan.

Kamu butuh waktu yang lama untuk menempuhnya via acruisingcouple.com

Mimpimu besar, misalnya melanjutkan studi di universitas nomer wahid. Dengan ini, ibaratnya kamu ingin mendaki gunung tinggi nan indah dan bukan hanya sekedar bukit. Namun, lamanya waktu untuk mencapai kesana seringkali membuatmu tak semangat lagi.

Tak hanya sekedar berangkat pagi lalu bisa sampai pada malam hari, kamu kudu beberapa istirahat dan menghadapi tantangan yang lebih besar. Jadi, jika kamu benar-benar ingin mencapai puncak, pastikan kamu tak bosan di tengah jalan. Karena kamu pantas untuk mencapainya.

6. Keberhasilan bukan tentang seberapa cepat, melainkan seberapa bermanfaat. Hidup bukan lomba lari, melainkan lomba berbagi!

bukan lomba lari via www.smartfile.com

Tak usah membandingkan diri dengan orang lain; menikmati setiap tahapan hidupmu sendiri sudah cukup membuatmu bahagia. Mungkin kamu mulai khawatir saat teman-temanmu sudah menjadi PNS, sedangkan kamu masih sibuk menyiapkan diri untuk tes CPNS-nya. Tapi untuk apa kamu merasa iri, kalau setiap orang sudah punya jalannya sendiri?

Hidup itu bukan lomba lari, melainkan lomba berbagi. Yang paling berharga bukanlah seberapa cepat kamu bisa mewujudkan mimpi, namun seberapa banyak manfaat yang bisa kamu berikan ke orang lain saat mimpi tersebut akhirnya terwujud.

Manusia tanpa punya mimpi itu sama saja dengan manusia yang mati suri. Maka, beruntunglah kamu yang masih punya cita-cita dan mimpi. Walau sekarang mimpimu masih belum bisa diwujudkan sepenuhnya, teruslah percaya bahwa kamu tetap berhak untuk meraihnya.

Beranikah kamu memperjuangkan mimpi kembali?