“Perempuan dilatih untuk menerima nilai, bukan untuk memberi nilai…” (Ayu Utami –  Novel Maya)
Perempuan dan laki-laki memiliki kondisi fisik yang berbeda, itu benar. Kondisi fisik itu membuat perempuan dan laki-laki umumnya memiliki kemampuan yang berbeda, kadang juga benar. Tapi satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak yang setara. Yang kita lihat sekarang memang tidak ada larangan perempuan bersekolah sampai setinggi mungkin layaknya laki-laki. Keduanya juga memiliki kesempatan yang sama untuk menduduki posisi tertentu dalam sebuah pekerjaan. Sekilas, tampaknya perempuan dan laki-laki sudah setara haknya.
Tapi ternyata semua upaya kesetaraan untuk laki-laki dan perempuan pada akhirnya tetap membelenggu. Ujung-ujungnya posisi perempuan tetap dilemparkan dalam lingkaran “kodrat” yang didefinisikan masyarakat pada umumnya.  Perempuan hanya dininabobokan dengan iming-iming kesetaraan, namun jalan hidupnya tetap ditutup dengan “paksaan” yang dibungkus kata “keikhlasan” dan “ketulusan”.

Sejak kecil di sekolah diajarkan perempuan nggak boleh kalah pintar dari laki-laki, tapi pada akhirnya diminta ikhlas menerima itu sebagai gelar saja

Jangan kalah Nduk! via bandungkita.net

Dulu dibilang:
“Jangan mau kalah dengan teman-teman cowokmu, cewek juga bisa jadi nomor satu.”
Lalu sekarang:
“Nggak ada yang disayangkan dengan menjadi ibu rumah tangga, walau kamu bergelar sarjana.”
Advertisement
Orang tua atau guru kita mungkin tidak pernah membeda-bedakan perempuan dan laki-laki dalam masalah pendidikan. Semuanya diminta bersaing dan berusaha menjadi yang terbaik. Tidak ada ceritanya perempuan harus kalah. Tapi begitu perempuan berusaha keras menjadi yang terbaik dan terus melanjutkan pendidikan, pada akhirnya itu hanya sebatas jadi gelar. Perempuan diminta menurunkan standar mimpi yang ia ingin raih dengan gelarnya. Atas nama ketulusan, perempuan diminta kembali pada “posisi yang selayaknya ia tempati”.

Katanya juga perempuan boleh  atau bahkan harus sekolah setinggi-tingginya. Tapi setelah lulus biasanya cuma diminta balik ke dapur dan kasur suaminya

Sekolah setinggi-tingginya via ehloo.com

Dulu dibilang:
“Cewek jaman sekarang juga harus S2 kalau bisa sampai S3 juga, nggak cuma cowok yang bisa begitu”
Lalu sekarang:
“Bagaimanapun perempuan tidak boleh lupa kodratnya. Dapur, sumur, kasur harus tetap jadi yang utama.”
Kalimat “sekolah setinggi-tingginya” nggak pernah ditujukan untuk lelaki saja tapi perempuan juga. Namun begitu ia lulus, ujung-ujungnya perempuan diminta tetap mengutamakan perannya di rumah tangga. Akibatnya ada dua, kalau tidak mengorbankan pendidikan ya memiliki beban kerja ganda. Tetap bekerja menikmati hasil pendidikannya tapi juga tak boleh lengah mengurus rumah tangganya. Bayangkan betapa melelahkannya nasib mereka yang harus menjalani ini.

Waktu remaja dinasihati sebaiknya jangan pacaran, begitu masuk usia 25 selalu ditanya mana pacarnya dan kapan nikah

Nikah via weddingku.com

Dulu dibilang:
“Mbak, hati-hati jangan pacaran. Dosa dan bahaya juga buat cewek kayak kamu.”
Lalu sekarang:
“Mbak, udah 25 kok belum nikah? Mbok buruan ibuk dikenalin sama calonnya!”
Kamu para cewek pasti sering kan dinasehati agar berhati-hati saat menjalin hubungan dengan lawan jenis. Kebanyakan justru dilarang pacaran dan diawasi dengan ketat pergerakannya. Tapi lucunya begitu masuk usia “rawan nikah” atau sekitar 25-an semua orang serentak bertanya “mana calonnya?” dan “kapan nikahnya?”.  Tahu gitu ‘kan dari dulu mending pacaran saja biar sikap nikah di umur 25.

Saat bekerja, perempuan diminta punya semangat layaknya lelaki. Tapi usai dipinang, ia diminta berhenti dan tak bekerja lagi

Perempuan bekerja via flurtmag.com

Dulu dibilang:
“Jangan manja, meskipun kamu nyeri haidh harus tetap masuk kerja. Perempuan nggak boleh kalah sama laki-laki.”
Lalu sekarang:
“Sayang, kamu harus berhenti bekerja, aku nggak mau anak-anakku dirawat oleh pembantu. Dan aku nggak mau gajimu lebih besar dari gajiku.”
Ini juga dilema, usai bersekolah sepanjang waktu tentu salah satu tujuan akhirnya adalah memiliki pekerjaan yang layak. Begitu mendapatkan pekerjaan yang bagus dan nyaman di sana, perempuan tetap diminta berhenti saat sudah menikah. Agar bisa masuk kategori ibu yang baik, perempuan diminta ikhlas melepas karier. Meskipun perempuan memiliki etos kerja yang lebih baik dibandingkan pasangannya, harus dia yang tetap mengalah. Lalu buat apa semua yang sudah dijalani selama ini?

Perempuan tak pernah diajak bicara soal seksualitas karena tabu. Tapi ketika terjadi kekerasan seksual, perempuan justru sering disalahkan karena memancing nafsu laki-laki

Seksualitas via huffingtonpost.com

Dulu dibilang:
“…..” (tidak pernah ada pembicaraan apapun)
Lalu sekarang:
“Laki-laki nggak akan melakukan pelecehan seksual kalau perempuannya yang nggak mulai duluan!”
Dalam budaya kita, membicarakan seksualitas pada anak perempuan bahkan ketika dia dewasa adalah hal yang sangat tabu. Perempuan hampir tidak pernah mendapatkan pengetahuan apapun tentang seksualitas. Karena itu rata-rata perempuan akan selalu menjadi obyek dalam hubungan seksual meskipun dalam ikatan pernikahan.
Lebih menyedihkan lagi kalau kita melihat kasus pelecehan seksual, ketika perempuan menjadi korban yang menanggung banyak beban ia pula yang justru dipermasalahkan. Rok mini dan baju tipis dihujat, tapi nafsu lelaki berotak selangkangan dianggap wajar. Dada dan bokong perempuan yang indah bentuknya dianggap sumber dosa, kelamin laki-laki yang tak dijaga pemiliknya dianggap lazim. Fakta inilah yang membuat perempuan enggan melaporkan meski ia dilecehkan.
Ini merupakan gambaran singkat akan betapa sulit dan dilematisnya posisi seorang perempuan masa kini. Atap-atap kaca yang dulunya membelenggu potensi perempuan satu per satu mulai terpecahkan. Tapi ternyata masih banyak atap lain yang membatasi kemajuan perempuan, seakan berkata sampai disini saja. Dan diakhir segalanya masih ada kodrat yang tidak bisa diganggu gugat. Jadi sebenarnya kira-kira apa ya yang harus dilakukan perempuan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya