Seberapa sering kamu mengedarkan pandangan dan berbicara dengan orang lain saat menunggu? Atau kamu sudah terlalu biasa menjadikan ponsel dan berbagai alat elektronik sebagai alat pengisi waktu?

Banyak kesempatan berharga bisa tergelincir dari hidupmu saat kamu memilih terseret riuh dalam kehidupan dalam layar di genggamanmu.

Kehidupanmu nampak riuh

Berapa banyak teman yang kamu miliki di berbagai jejaring sosial dan messenger? 100,500,atau bahkan ribuan? Seberapa seringkah kamu berinteraksi dengan mereka?

Namun kamu tetap sering merasa kesepian

Tidak peduli semakin banyak teman yang ada di jejaring sosialmu, tidak peduli seberapa sering kalian saling menyapa — namun di kehidupan nyata kamu sering merasa sendiri dan tidak punya siapa-siapa.

Pertanyaannya, seberapa sering kamu memandang langsung mata seseorang dan meluangkan waktu untuk bicara?

Interaksimu dengan orang-orang terdekat kerap terbatas pada sapaan jemari di layar digital. Kamu merasa sudah mendampingi mereka saat sekedar menyapa lewat situs jejaring sosial atau grup di messenger.

Sementara kamu tetap sibuk dengan layar dihadapanmu

Kehidupan yang sebenarnya perlahan berjalan meninggalkanmu dibelakang

Advertisement

Sebagai manusia modern, kita kerap terserap pada riuh rendah kehidupan di internet. Merasa bahwa dengan menjadi bagian yang aktif didalamnya, maka kita akan jadi pribadi yang tidak ketinggalan zaman. Kita menyerap apapun yang ada di hadapan kita. Sibuk memberi komentar, sibuk ingin tampil. Hingga lupa memberi perhatian pada orang-orang disekitar.

Suatu hari, kamu akan melihat kebelakang dan menyesali apa yang pernah kamu lakukan

Pada suatu masa, kamu akhirnya menyadari. Bahwa upayamu untuk selalu tampil, eksis atau tidaknya kamu di dunia maya akan menjadi tidak begitu berarti.

Saat kamu lebih memilih menutup pintu kamar

Kamu lebih sering tenggelam dalam kesibukan berbalas pesan di internet, daripada meluangkan waktu untuk berbincang dengan keluargamu.

Tenggelam pada keramaian digital sendirian, membiarkannya kesepian.

Membiarkan pasanganmu merasa tidak didengar. Menggantikan kehadiranmu dengan mengirim gambar dan emotikon lucu. Merasa bahwa dengan begitu, kamu sudah cukup mengabdikan dirimu.

Mengacuhkan hangatnya persahabatan

Berkumpul bersama tidak lagi jadi prioritas. Selama kalian masih aktif menyapa di aplikasi messenger, maka pertemanan kalian dirasa masih baik-baik saja. Walau tanpa kontak mata dan sentuhan hangat didalamnya.

Tidak menyadari bahwa memandang matanya lama-lama adalah kemewahan

Perhatianmu terserap pada keramaian diujung jemarimu. Kapan terakhir kali kamu memandangnya hingga mampu menghapal warna mata indahnya?

Menyesal, kenapa kamu tidak lebih sering menggodanya sampai mukanya merah menahan kesal?

Kamu akan rela menukar apapun demi melihat wajahnya yang lucu saat menahan kesal. Kamu ingin kembali pada masa dimana dia bisa jadi objek kejahilanmu tanpa jeda.

Memilih membalas mention daripada memberinya kejutan

Sebab dengan memasang namanya di bio akun twittermu, kamu merasa sudah menunjukkan bahwa kamu sangat mencintainya.

Mulai menggunakan kata “seandainya”. Seandainya momen itu hanya kamu bagi bersamanya, tanpa harus membaginya di lini masa

Kamu menyesal telah membagikan beberapa momen yang sangat privat ke lini masa. Kalian tidak lagi punya kenangan yang hanya diketahui oleh kalian berdua.

Seandainya bisa, kamu akan memilih untuk tidak pernah melepaskan genggam tangannya.

Mengacuhkan ponsel dan tablet terhebat diluar sana.

Sebab saat dia tak lagi kembali

Kamu akan rela menggadaikan apapun, supaya layarmu saja yang mati. Bukan dia yang paling berarti

Artikel ini terinspirasi dari video Gary Turk, seorang penulis dan sutradara asal Inggris. Dalam video tersebut dia menyampaikan sindirannya terhadap generasi saat ini yang lebih memilih menghabiskan banyak waktu mereka di dunia maya, dan melupakan kehidupan yang terjadi disekitarnya.

Gary mengatakan bahwa sebenarnya kita sedang diperbudak oleh teknologi yang kita ciptakan sendiri, sampai kita lupa bagaimana cara untuk hidup berdampingan dengan sesama manusia.

Bukankah optik digital yang ada dihadapan kita memang sepatutnya hanya jadi fasilitas komunikasi? Bukan membentuk kita jadi makhluk yang menganggap bahwa saling sapa dan bertukar senyum tak patut dilakukan lagi.

Riuh rendah di media sosial membuat kita sering melupakan apa yang terjadi di sekeliling. Padahal banyak hal luar biasa yang bisa terjadi pada hidup jika mau sedikit saja meluangkan waktu untuk hidup diluar kehidupan maya.