Sebagai seorang manusia biasa, kamu tentu ingin hidup yang menyenangkan, absen dari masalah, dan selalu diliputi aura positif. Perasaan baik-baik saja memang menyenangkan. Menunjukkan kesedihan, kegalauan, dan kelemahan sering menjadi pantangan. Selain kamu tidak mau membuat orang lain khawatir, kamu juga tidak mau orang lain mengasihanimu atau memandangmu lemah.

Menjadi sosok yang kuat dan tidak pernah terlibat masalah memang menyenangkan. Tapi kenyataannya, hidup memang penuh dengan masalah rumit yang harus dipecahkan manusia. Dari sana, manusia juga akan semakin berkembang. Masalah, kesedihan, kegamangan, kegaualuan, dan rasa kalut menghadapi hidup yang maha rumit itu mutlak ada. Bila kamu merasa tidak pernah mengalami itu, justru kamu harus mulai mengkhawatirkannya.

1. Mustahil seseorang tidak punya masalah dalam hidupnya. Bila kamu merasa seperti itu, bisa jadi kamu memang selalu menghindari masalah

Menghindari masalah via www.hercampus.com

Masalah adalah hal yang biasa. Mulai dari masalah keuangan yang semakin seret menjelang akhir bulan, masalah percintaan yang pelik tiada dua, masalah keluarga, masalah mengejar cita-cita dan merancang masa depan, sampai masalah yang kamu ada-adakan sendiri, itu hal yang biasa. Justru itulah yang membuat hidup jadi naik turun dan super asyik.

Bila hidup tanpa ada masalah, coba bayangkan betapa hambarnya? Dan betapa palsunya. Iya betul, bila kamu merasa hidupmu selalu baik-baik saja tanpa pernah mengalami masalah, bisa jadi kamu memang menghindarinya. Masalah pasti pernah muncul. Tapi dengan segala kemampuanmu, kamu berusaha meniadakan masalah itu dan membiarkannya mengusut tanpa pernah diselesaikan. Apa iya, kamu begitu?

2. Gagal atau berhasil adalah dua opsi kemungkinan. Kamu yang tidak pernah mengalami kegagalan mungkin memang tidak pernah mengambil risiko

Advertisement

Kegagagalan adalah bukti kamu sudah mencoba via www.bustle.com

Minimal sekali, setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Sama seperti ketika kamu main game, selalu ada dua kemungkinan. Kalah atau memang. Seperti itu jugalah setiap usaha yang kamu lakukan seumur hidupmu. Selalu ada dua kemungkinan: gagal atau berhasil. Keberhasilan membawa suka cita dan kebahagiaan.

Sementara kegagalan memang membawa kesedihan, tapi juga membawa nilai atau hal yang bisa kamu jadikan pelajaran. Kata orang: kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, asalkan kamu selalu berani mengambil risiko untuk mengambil langkah pertama. Kamu tidak pernah gagal? Sudahkah kamu mengambil langkah pertama mengejar mimpimu? Ataukah kamu hanya terus-terusan berencana tanpa tahu kapan akan mencoba mewujudkannya?

3. Selalu merasa happy? Ah, manusia dikarunia berbagai jenis perasaan. Mungkin kamu terlalu piawai menyembunyikan kesedihan

Happy terus pasti ada perasaan yang kamu sembunyikan via www.alwaysbecrazy.com

Selain rasa senang, kamu sebagai manusia juga punya kapasitas untuk merasakan sakit, sedih, marah, cemas, lega, dan berbagai jutaan rasa lainnya. Itulah yang membuatmu berbeda dengan hewan dan juga tumbuhan. Bila kamu merasa selama hidupmu kamu selalu happy, berarti kamu mengabaikan sensasi perasaan yang lainnya. Bisa jadi, karena kamu mengingkari perasaanmu sendiri, dan menekan kesedihanmu sedemikian rupa, serta menutupinya dengan senyum bahagia.

Sikap seperti itu, memang akan membuatmu terlihat kuat dan menjadi sumber iri manusia lainnya. Tapi jauh dalam lubuk hatimu sendiri, apakah kamu benar-benar bahagia? Sementara menekan perasaan sedemikian rupa justru bisa membawa dampak untuk kesehatanmu juga.

4. Kamu tidak pernah merasa cemas memikirkan masa depan? Coba cek lagi, mungkin kamu memang tidak pernah memikirkannya

Cemas tentang masa depan itu hal biasa via theidleman.com

Kamu mugnkin sering mendengar curhatan temanmu yang tiba-tiba merasa hilang arah. Bingung pada apa yang sedang dilakukan dan apa yang seharusnya dilakukan untuk masa depannya. Kegalauan tentang masa depan ini memang sering melanda kamu, bukan saat kamu masih remaja, melainkan justru saat kamu menginjak usia 20an. Dengan tanggung jawab baru yang kamu emban, sementara masa di depan sana masih sama gelapnya.

Sangat wajar jika kamu cemas memikirkannya, kamu kan tidak pernah tahu apa yang ada dan akan kamu temu di masa depan nanti. Kecuali bila kamu memang tidak pernah memikirkannya, dan semata-mata menjalani yang ada. Hidup tanpa rencana, dan merasa itu baik-baik saja.

5. Patah hati tidak ada dalam kamusmu? Tapi sudah pernahkah kamu mencintai orang lain?

Sudahkah kamu mencintai orang lain? via www.theverge.com

Ketika kamu mencintai orang lain, hatimu secara tidak langsung juga sudah mempersiapkan dirinya untuk terluka. Meski cinta membawa debaran yang aduhai rasanya, tapi cinta juga membawa rasa khawatir, cemas, ragu, cemburu, tidak terkecuali, sakit hati. Gabungan sensasi cinta dalam satu paket itu memberikanmu hal-hal berharga dan pelajaran yang berguna bagi masa depan. Karena manusia dikaruniai dengan kapasitas mencintai, bila kamu tidak pernah mengalami patah hati, mungkin kamu memang belum pernah memanfaatkan kemampuan itu. Mungkin kamu terlalu sibuk mencintai dirimu sendiri, sehingga kamu lupa untuk mencintai orang lain?

6. Takut dan cemas tentang kekurangan jadi awal untuk memperbaiki diri. Kalau tidak pernah merasakannya, mungkin kamu lupa bahwa hidup perlu di-upgrade lagi

Kecemasan bisa menjadi langkah mengupgrade diri via www.entrepreneur.com

Kecemasan dalam dirimu saat kamu memikirkan bahwa mungkin kamu tidak akan menjadi apa-apa di masa depan, atau ketakutanmu akan menjadi orang yang mengecewakan adalah satu langkah menuju keberhasilan. Karena dengan rasa cemas dan takut itu, kamu akan mengevaluasi dirimu sendiri. Mencari apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki.

Dari situ, kamu melangkah ke depan, menjadi pribadi yang semakin baik setiap harinya. Kecemasanmu pada hidup yang begitu-begitu saja adalah wujud keyakinanmu bahwa hidup harus selalu diupgrade lagi. Bila sebaliknya, mungkin kamu sudah puas dengan hidupmu yang begini-begini saja.

Karena hidup memang tidak mungkin lepas dari masalah, bukan kewajibanmu untuk merasa baik-baik saja sepanjang waktu. Setiap masalah ada untuk dihadapi dan diselesaikan.

Bila kamu lelah menghadapi masalah, ya berhenti sebentar untuk mengambil nafas. Menunjukkan kesedihan dan kegalauanmu juga bukan sesuatu yang haram dan tidak akan membuatmu lebih lemah daripada orang lain. Toh, kamu juga manusia biasa.