Berada puluhan kilo meter dengan orang tua, awalnya memang menyiksa. Jam makan dan tidur yang semula teratur, kini agak sedikit berantakan karena harus diurus sendiri. Tak masalah, namanya juga hidup. Toh tidak selamanya kamu menjadi anak kesayangan yang selalu bergantung pada apa kata orang tua. Kamu harus mandiri, kuat dan jauh dari kata putus asa.

Tenang saja, doa tulus dan terbaik selalu mereka haturkan demi kebahagiaanmu di masa depan.

Kamu boleh saja merasa asing di tempat yang belum pernah ditemui sebelumnya, tapi percayalah bahwa jauh dari kedua orang tua itu tak selamanya menyiksa. Kamu justru bisa menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah gentar meski sejuta permasalahan datang menerpa.

Bukan persoalan kasih sayang atau perhatian. Kamu cuma sedang diuji bagaimana cara menyikapi puluhan kilometer yang membentang.

bukan soal perhatian atau kasih sayang via six11.wordpress.com

Tidak seperti dulu, durasi pertemuan dengan orang tuamu memang tak sesering dulu. Perhatian dan kasih sayang yang tercurah juga sedikit berubah, karena adanya jarak, ruang dan waktu. Sementara ini, bertatap muka boleh saja menjadi sesuatu yang langka nan mahal. Berbeda dengan tahun lalu yang masih bisa menonton film dan menikmati secangkir teh bersama.

Advertisement

Tak cuma kamu yang merasa, kedua orang tuamu pun demikian adanya. Tuhan Yang Maha Agung telah mengatur semuanya, termasuk ujian yang kalian alami saat ini. Semoga kelak lebih siap untuk menghadapi sebuah perpisahan yang datangnya tak bisa ditebak.

Ketika waktu mengizinkan untuk bertemu. Momen pertemuan itu akan terasa amat berharga dalam hidupmu.

pertemuan itu akan sangat berharga via jamiesoloriopotography.com

Berkurangnya durasi untuk bertemu orang tua adalah hal wajar, jika kamu mulai beranjak dewasa. Kamu harus melihat dunia luar yang akan menghantarkanmu pada kenyataan sesungguhnya dalam kehidupan. Terus belajar dan mau bergaul, sudah tentu menjadi hal paling penting dan utama. Tidak ada pula orang tua yang menginginkan anaknya terdiam karena tertinggal zaman.

Sekalinya pertemuan itu datang, tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain memanfaatkannya sebaik mungkin. Bahkan, sekadar bertanya kabar saja takkan cukup untuk menggantikan perpisahan yang telah terjadi berbulan-bulan.

Sebab tak ada orang lain yang bisa menyemangati selain dirimu sendiri. Menjadi tangguh saja tidak akan cukup tanpa diimbangi sikap mandiri.

tangguh dan mandiri via mamagidi.com

Sudah menjadi tuntutan, jika jauh dari orang tua itu harus tangguh dan mandiri. Melakukan apa-apa sendiri, harusnya menjadi hal yang biasa saja. Pun dengan asupan semangat membara ketika keputusasaan datang mendera, hanya kamu yang bisa mengisinya, bukan kedua orang tua.

Sepahit apapun permasalahan yang ada, dengan sekuat tenaga kamulah yang menjadi pemeran utama. Pemeran utama untuk menuntaskan dan mengatasinya dengan segera. Iya, hanya kamu.

Sesederhana menjalani hidupmu apa adanya. Jauh dari orang tua tak seharusnya menjadi bencana, tapi menempa diri jadi lebih dewasa.

sesederhana mengatur kebutuhan sendiri via donbrobst.com

Kebutuhanmu yang tidak sedikit, seharusnya menuntutmu untuk lebih keras dalam berusaha. Bukan tuntutan untuk menghasilkan jutaan dalam semalam, hanya perlu tekun dan pandai memanfaatkan peluang. Pantaskan peran orang tuamu juga, tunjukkan kalau sosok yang selama ini dibesarkan tidak mengecewakan dan layak untuk terus diperjuangkan.

Ini saat yang tepat untuk memantaskan diri, termasuk usiamu yang sudah tak muda lagi.

Karena tak ada orang tua di sisi, pandai memilah kawan dan pasangan adalah pekerjaan rumahmu selanjutnya nanti.

pandai-pandai memilih kawan & pasangan via twitika.com

Di dunia ini, mustahil jika ada orang yang sama sekali tak butuh bantuan orang lain. Sekecil apapun problematika yang ada, pertolongan dari kawan atau pasangan sudah tentu dibutuhkan. Kamu tak perlu repot-repot menyeleksi, cukup teliti dan berhati-hati. Mengapa harus demikian? Ya. Karena mereka adalah sosok pengganti sementara bagi kedua orang tua, yang kini masih menunggumu di rumah dengan setia.

Berterimakasihlah pada jarak, karena kamu akan paham bahwa selain pertemuan, ada kekuatan doa yang tak kalah luar biasa.

berterimakasihlah pada jarak via tesh.com

Saat masih sering-seringnya bertemu, mengusap kepala atau menepuk pundak mungkin bisa jadi obat mujarab untuk mengurangi beban yang ada. Bercengkarama langsung untuk mencari penyelesaian juga tak sulit, karena kamu dan Ayah Ibu masih dapat bertatap muka. Namun, bagaimana jika harus mengalah dengan jarak dan waktu? Apakah kamu akan tetap memaksakan pertemuan dengan mereka? Tentu tidak ‘kan?

Pahami saja kekuatan doa. Doa kedua orang tua yang tak pernah putus untuk kebahagiaanmu. Serta doamu untuk mereka, agar senantiasa sehat dan jauh dari permasalahan hidup yang berat.

Sementara berjarak dengan orang tua itu bukan bencana. Asalkan kamu tahu, bahwa doa dan usaha bisa menjadi jalan terbaik untuk menyiasatinya. 🙂