Merantau bukan hanya sekadar berpindah tempat tinggal. Lebih dari itu, merantau juga soal mendobrak batasan, memperbarui kebiasaan, dan berdamai dengan keterasingan.

Masa-masa awal merantau akan dipenuhi rasa ragu. Apakah kamu mampu, apakah kamu diterima di tempat itu, sudah tepatkah keputusanmu. Ada rasa ingin pulang karena tetap ada yang tertinggal di kampung halaman. Ada rasa ingin kembali pada kehidupan yang lebih gampang, yang lebih nyaman.

Tapi bukan perantau sejati namanya kalau pulang terlalu dini. Apalagi, merantau sebenarnya mampu mengajarkanmu untuk menjadi sebaik-baiknya pribadi. Hei kamu para perantau, mau ‘kan berjanji untuk tetap berjuang? Pantang pulang sebelum membawa kesuksesan!

Kesalahpahaman dan kejadian memalukan itu wajar terjadi. Justru dari situ kamu banyak belajar dan menempa diri

Belajar berhati-hati via iwearbanana.com

Di masa-masa awal di perantauan, kamu masih belum tahu sejauh mana dirimu mampu beradaptasi. Maklum, semuanya berbeda — dari dialek yang dipakai, hawa cuaca, sampai kebiasaan orang-orangnya. Merantau ke kota yang masih terhitung dekat pun bukan berarti gampang. Jika kamu mengadu nasib dari Jawa Timur ke Jawa Tengah, misalnya, meskipun masih sama-sama Jawa, kamu akan menemukan banyak adat yang berbeda. Kamu juga harus hati-hati dalam bersikap atau berkata-kata,

Advertisement

Teman: “Kamu mau cepat bisa bahasa Jawa nggak? Coba deh kamu bilang ‘segawon’…”

Kamu: “Emangnya artinya apa?”

Teman: “Hmmm, semacam ‘selamat pagi’ gitu deh!”

Kamu: “Ooohhh…” *mengangguk*

Berhubung semuanya baru, kamu pun rentan salah paham dan melakukan hal yang memalukan. Bukannya mau bermaksud kurang ajar, kamu hanya kurang mengerti bahwa yang kamu lakukan kurang sopan. Saat sudah menyadari kesalahanmu ini, kamu juga malu luar biasa kok. Tapi jangan cemas. Di awal perantauan, salah itu wajar. Justru dari situ kamu akan lebih cepat belajar.

“Gue kemarin habis dimarahin nih gara-gara masuk nyelonong aja…”

“Hmm, gimana ya biar gak dikira sombong? Banyak senyum aja deh…”

“Oke, besok-besok nggak boleh begitu lagi!”

Tinggal di kost atau kontrakan sendiri, sepi pun singgah di hati. Saat terbiasa dengan ini kamu justru akan mahir mencari kegiatan untuk mengisi hari-hari

Rumah kost sederhana. via desainrumahid.com

Rumah yang selalu ramai dengan kehadiran orangtua, adik atau kakak, serta tamu, membuat kamu tak pernah merasa kesepian. Akhir pekan atau waktu senggang pun tak masalah jika hanya dihabiskan di rumah. Bahkan kalaupun harus keluar, seringnya pasti bersama keluarga.

Berbeda saat kamu harus tinggal sendiri di kost atau rumah kontrakan. Meski ada teman-teman sesama perantau, kamu tetap saja sering merasa kesepian karena mereka pun sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya sesekali kalian akan bertemu, berkumpul dan berbagi. Saat seperti itulah pun harus pandai menyiasati kesepian dengan kesibukan. Semakin sering kamu kesepian, seharusnya semakin mahir pula mencari kegiatan. Buat masa-masa perantauanmu berkesan dengan banyak pengalaman.

“Yang seru minggu ini apa yaa? Wah, ada karnaval deket alun-alun! Nonton ah~”

Nyuci baju, cari makan — segala sesuatu mesti dilakukan sendiri. Tenang, itu akan membuatmu menjadi pribadi yang mandiri

makan sendirian 🙁 via hype.my

“Makan sendiri, nyuci baju sendiri, belanja bulanan sendiri, bahkan saat sakit seringnya pun sendiri.”

Biasanya ada Ibu yang bantu menyiapkan segala kebutuhan dan keperluan. Biasanya ada keluarga yang menemani kegiatan bersantap. Biasanya ada Ayah yang siap sedia mengantar ke dokter saat sakit. Semua hal tampak lebih mudah ketika bersama keluarga.

Tapi, sampai kapan kamu terjebak dengan kemudahan melenakan? Sampai kapan membuat menggantungkan diri dengan orang, sekalipun itu keluarga sendiri? Kamu perlu berkembang menjadi pribadi yang mandiri, dan itu bisa didapat ketika kamu merantau. Tinggal jauh dari keluarga membuat kamu berpikir dua kali untuk meminta bantuan, saat kamu bisa mengerjakannya sendiri, kenapa harus bergantung kepada orang lain.

Kangen masakan rumah, belum lagi kamu harus berhemat. Mau nggak mau, daripada kantong kamu sekarat

Warteg via id.wikipedia.org

Makan gratis dengan rasa yang luar biasa nikmat memang cuma bisa kamu dapat di rumah. Saat tinggal di perantauan, tidak masakan yang rasanya sebanding dengan makanan rumah dan harganya gratis. Kamu juga tidak bisa makan semaumu, karena harus mengingat uang kiriman atau penghasilan bulanan.

Terlalu sering bermewah-mewahan di luar bisa cepat menguras isi dompetmu. Akhirnya, kamu pun jadi harus ke warteg dan menjadikan nasi telor/nasi ayam makanan sehari-hari. Bahkan kalau bisa, rice cooker bawa sendiri. Sesekali kamu juga bisa mengajak teman seperantauanmu untuk masak bersama, selain berhemat kamu juga mengeratkan hubungan dengan teman-teman barumu.

Cuma keluarga yang benar-benar mengerti diri kamu. Nah, itu tanda kalau kamu justru harus mulai mengerti orang lain dan tidak egois

Sahabat udah kayak keluarga via unsplash.com

Saat di perantauan, kamu ada di posisi yang kurang nyaman, karena teman-teman barumu kurang bisa mengerti diri kamu. Keberadaan keluarga menjadi hal yang paling dirindukan, mengingat cuma mereka yang benar-benar bisa memahami kebiasaan aneh dan kelakuan eksentrik kamu. Namun sebelum kamu larut dalam “ke-aku-an” semata, ada baiknya kamu mulai mengubah pemikiran kalau orang lainlah harus mengerti kamu.

Kenapa bukan kamu yang mulai mengerti orang lain? Bukankah saling mengerti itu lebih adil?

Saat kerja atau kuliah adalah hal terakhir yang ingin kamu lakoni, kamu pun belajar memotivasi diri sendiri

Udah rapi, tapi mendadak nggak mood via favim.com

Hidup terpisah dari orangtua dan keluarga, artinya tak ada yang mengawasi. Teman-teman pun nggak seperti keluarga yang serta merta hobi menasihati. Ini bisa membuat kamu terjebak pada zona malas: toh tak ada yang memarahi saat kamu guling-gulingan di kasur sepanjang hari.

Ketika tinggal sendiri di perantauan, kamu sudah harus tanggap untuk memotivasi diri sendiri. Lagipula, apa nggak malu jauh-jauh pergi dari rumah hanya untuk malas-malasan di kota orang?

Kalau cuma buat guling-gulingan di kasur, aku mending pulang aja ke rumah. Kasur di rumah lebih empuk. Di sini sih enaknya kerja, bukan malas-malasan.

Di perantauan, hal remeh-temeh juga mesti diperhatikan. Harus disiplin supaya tidak keteteran

“Duh, bangun kesiangan, baju belum disetrika, ada tugas yang belum selesai pula.”

Ah, di perantauan, kebiasaan yang seperti ini mana boleh bertahan lama? Ini bukan rumah yang apa-apa ada! Kamu tidak punya Bibi yang akan senang hati menyediakan segala kebutuhan dan keperluanmu.

Kamu pun harus terbiasa mengatur segalanya. Mulai dari hal-hal remeh temeh sampai yang paling penting, semua mesti terencana. Supaya tercapai apa yang kamu inginkan sebagai perantau muda. Supaya pengorbananmu untuk pergi jauh dari rumah tak sia-sia.

Tak ada tempat yang senyaman rumah. Tapi ketidaknyamanan akan lebih banyak memberi ruang berkah

Memang tempat paling nyaman adalah rumah sendiri, tempat di mana kehangatan keluarga tercurah. Tempat di mana kamu tidak terlalu perlu mengakhawatirkan banyak hal. Tapi bukan berarti kamu yang sudah merantau harus terus membandingan kenyamanan antara rumah dengan tempat tinggal barumu.

Setiap ketidaknyamanan yang hadir sudah sepatutnya membuat kamu berusaha mengubahnya menjadi nyaman. Biarkan diri kamu berkembang menyesuaikan lingkungan. Jangan menyerah dan kalah. Bersabarlah untuk menanti waktu di mana kamu akan pulang.

Karena sejauh apapun pengembaraanmu, pulang tetap jadi tujuan akhirmu.

Bagaimana kabar kamu yang sedang merantau? Masih terus mengeluhkan segala sesuatu yang kurang menyenangkan? Atau justru lebih fokus mempersiapkan kesuksesan? Apapun yang akhirnya kamu lakukan, itu adalah pilihan. Asal tak lupa, merantau selalu memberimu ruang untuk berkembang.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya