Pernahkah kita menghadapi situasi membingungkan dalam menghadapi wanita. Dimana kita tak tahu apa yang harus kita lakukan. Bingung mengenai hal yang selanjutnya kita lakukan untuknya, seolah begini salah dan begitu pun salah. Sepertinya apapun yang akan kita lakukan akan menimbulkan risiko yang akan menyakiti hatinya, atau melukai perasaannya. Entah dalam diamnya, entah dalam kata-katanya, entah dalam tingkahnya yang memaksa kita harus berfikir lebih dalam untuk memahaminya. Satu hal yang pasti, sebenarnya ia hanya ingin dimengerti. Namun sayangnya, memang sulit untuk bisa menebak isi hatinya.

Pernahkah kita mencoba mendekati seorang wanita. Mendekati seseorang yang kita anggap istimewa. Wanita yang mampu menarik perhatian kita. Mengalihkan dunia kita untuk beberapa lama untuk dengan seksama memperhatikannya. Seolah semua gerak-geriknya, tingkah lakunya, dan apapun yang ia lakukan itu mampu membuat kita tak bosan memperhatikannya. Hal itu mungkin terjadi karena kita yang tengah mengharapkannya. Berharap bisa bersanding dengan dia. Seringkali respon yang wanita berikan membuat kita kebingungan. Apakah yang kita lakukan itu membuatnya senang ataupun sebaliknya.

“Wanita itu penuh tanda tanya, maka jangan banyak bertanya padanya.”

Saat kita sudah begitu dekat dengan seorang wanita. Tentu kita selalu ingin tahu apakah di dalam hatinya juga mengharapkan kita atau tidak. Hal itu pun bukan suatu yang mudah untuk bisa kita dapatkan jawabannya. Mungkin hanya wanita yang masih beranjak remaja saja, bisa dengan mudah mengutarakan perasaannya. Namun tentu beda dengan wanita yang sudah beranjak dewasa, mereka tentu cenderung hati-hati dalam memilih hati. Jika mereka tak menjawab rayuan-rayuan kita, ya wajar saja. Karena mereka tahu cinta itu bukan rayuan semata. Jika mereka tak menjawab banyak pertanyaan dari kita tentang isi hatinya, itu juga bukan salahnya. Mungkin kita saja yang belum meyakinkan baginya untuk bisa diyakini.

Pernahkah kita sudah begitu menyukai seorang wanita. Begitu menyayanginya dengan begitu dalam. Kita yang sudah melakukan banyak hal untuk bisa menarik hatinya. Kita yang sudah melakukan banyak perjuangan untuk bisa meyakinkannya. Namun seolah belum bisa mendapatkan jawaban, apakah dia bisa menerima kita untuk bersanding dengannya atau tidak. Hingga sering kali bertanya pada diri sendiri,

Advertisement

“Selama ini apakah yang aku rasakan sia-sia? apakah yang aku perjuangkan tak ada artinya bagimu?”

Kedekatan yang kita bangun selama ini tentu inginkan sebuah ending yang membahagiakan. Namun apalah daya bagi kita, cinta itu memang masalah hati. Selanjutnya walaupun dia juga telah mencintai, namun ia juga punya alasan untuk menerima kita atau tidak sebagai jodohnya nanti. Karena wanita juga tahu, mana lelaki yang pantas untuknya atau mana lelaki yang hanya bisa bicara cinta. Tentu dia akan mempertimbangkan itu, tak hanya kedekatan yang telah terjalin dan juga tak hanya kenyamanan dalam keakraban yang selama ini telah terbina dengannya.

Hingga pada suatu hari, wanita yang kita cinta berkata dengan lembutnya. Perkataan yang mungkin teramat menggetarkan hati kita.

“Kelihatanya kita memang tak bisa bersama, jalan kita berbeda”.

Kita pun terdiam begitu saja, mencoba berfikir dan menyadari bahwa ternyata kita bukan seseorang yang ia harapkan. Sakit rasanya, ternyata kita bukanlah sosok yang dia harapkan untuk mendampinginya. Sedih hati ini merasakan yang terjadi, ternyata selama ini ia tak pernah menginginkan kita. Kita pun jadi lambat laun menjauh darinya. Selangkah demi selangkah mundur untuk tak mendekatinya lagi, tak perhatian padanya lagi dan mencoba tak ingin peduli dengannya lagi. Hingga akhirnya kita benar-benar menjauh dari jangkauannya. Disisi lain namun kita melupakan satu hal yang teramat berharga, kita lupa menanyakan apakah ia benar-benar menginginkan kita mundur dan berhenti memperjuangkannya.

Mungkin kita bisa diam sejenak, membayangkan saat kita mencoba menjauh selangkah demi selangkah pergi darinya. Di belakang kita sebernarnya ada sosok yang menatap kita dengan seksama. Berharap kita yang sedang berjalan menjauh itu kembali menoleh dan justru membuktikan padanya. Bahwa memang kita lah yang pantas untuk bersanding dengannya. Namun tat kala kita malah terdiam melangkah pergi, karena kecewa tak merasa dicintai. Mungkin wanita yang sedang menatap kita itu akan bergumam dalam hati,

“Kenapa semudah itu engkau pergi? Kenapa tak coba meyakinkanku dan membuktikan dirimu memang pantas buatku? Semudah itu kah kau menyerah?”

Memang seperti itu lah wanita, apa yang ia ucapkan sering kali bukanlah yang sebenarnya ia inginkan. Bukan karena ia seorang pendusta, namun dia hanya ingin meyakinkan hatinya apakah kita pantas untuknya. Tentu kita bisa mengerti, bahwa ada banyak laki-laki yang tengah mencoba merayu dan mendapatkannya. Mungkin ia hanya ingin tahu, siapa sih lelaki yang paling memperjuangkannya. Lelaki yang tak goyah hanya karena disuruh mundur. Apakah itu engkau atau bukan, buktikan saja jika benar-benar mengharapkan jadi jodohnya. Wanita tak salah jika harus menguji hati orang yang ingin mendapatkan hatinya. Saat kita mau terus berjuang, mungkin hatinya akan berkata diam-diam.

“Teruslah berjuang, jangan menyerah. Hingga mintalah aku, datanglah meminta restu ke kedua orang tuaku. Aku juga mengharapkanmu.”