Bisa kutanyakan padamu? Apa yang sedang kita perjuangkan ini?

Masihkah kamu menyimpan remah-remah kasih yang mungkin akan pudar dengan sendirinya, seiring kita berpisah jarak, seiring kita menelan rindu, seiring kita saling berjalan menjauh, menulis kisah kita masing-masing?

Adalah dirimu yang masih ingin kusentuh meskipun Tuhan nampak menciptakan tembok buta tak berujung diantara kaki kita berdua. Aku berusaha merangkaki itu, tapi sekuat apapun aku berusaha pada akhirnya aku pun akan menyerah. Memangnya kekuatan apa yang tidak dapat kita lawan, kecuali kekuatan Tuhan?

Tuhan telah menetapkan dalam dirimu, hatimu juga hidupmu bahwa seorang Imam yang pantas (setidaknya) telah berdiri disampingmu, wahai Cinta. Dialah manusia yang berhasil merengkuh dirimu lebih dulu, dialah manusia yang berhasil meyakinkan dirimu tentang masa depan, pelaminan, kehidupan. Sedangkan diriku? Apa yang bisa kutawarkan?

Bukan aku tak ingin berjuang bersamamu, bukan itu. Tapi mengertikah engkau bahwa segala sesuatu memiliki batasan? Dan pilihanmu adalah batasanku untuk menyerah dan berjalan mundur, meskipun aku sadar bahwa hati ini masih melihat kearahmu.

Advertisement

Aku mengerti,

Pilihanmu adalah batasanku

Untuk berhenti berjuang.

Aku bukan tidak menyukai apa yang terjadi pada diri kita saat ini. Saling menyukai tapi tidak saling bebas mengungkap? Memangnya siapa yang mau menjadi aku? Aku hanya tidak suka dengan keadaan kita. Sekuat apapun kita bertahan dengan rasa yang sama, bukankah pada akhirnya kita akan berpisah juga?

Baiknya seperti apa, masing-masing dari kita mengerti apa yang harus dilakukan. Cintaku bukan lagi seperti cinta anak SMA yang penuh drama, ini adalah rasa yang tak bisa kumengerti. Pahamku tak bisa sampai pada mengapa aku masih menyukaimu meskipun kita di jalan yang berseberangan?

Bahagiamu, juga bahagiaku. Tenang saja.

Berbahagialah.