Hai kamu,,,

yang selalu berada di sampingku ketika aku membuka dan memejamkan mata.

Pertama memang sulit, ketika aku harus menerima kenyataan , jika kamu menjalin cinta dengan dia. Menangis pun tidak ada gunanya, serasa dunia ini hancur. Tapi aku tersadar, selalu ada hikmah di balik semua kejadian. Mungkin kita masih saja sibuk dengan ego kita masing-masing sehingga kita lupa kita bukan ABG yang pacaran tapi kita adalah sepasang suami istri. Setiap malam kugelar sajadah, berdoa kepadaNya, memohon ibaNya karena aku tak mau menjadi orang yang dibenci olehNya karena perceraian.

Aku terus berdoa, bersujud kepadaNya. Kita terpisah, sendiri-sendiri. Tidak saling menyapa. Tapi terus aku gelar sajadah di sepertiga malam, aku bersujud dan berdoa meminta kepadaNya sebuah keajaiban agar kamu mengingatku mengingat perjuangan kita dulu. Hampir aku putus asa namun aku bangkit kembali dengan semangat baru.

Hai, kamu..

Ingatkah kamu padaku? Apakah kamu merindukanku?

Pertanyaan itu selalu terlintas dibenakku, seakan tak mau pergi

Aku terus dan terus berdoa. Hari demi hari, minggu demi minggu aku lalui tanpamu lagi. Tapi aku selalu memelukmu lewat doa yang selalu aku panjatkan. Aku percaya Tuhan itu akan memberikan kado untuk umatNya dibalik ujianNya. Keajaiban doa, tak perlu diragukan lagi. Kini kamu kembali, menyadari semuanya dan belajar menjadi orang yang lebih baik lagi.

Advertisement

Kamu.

Jangan pernah berubah kecuali berubah menjadi yang lebih baik lagi.

Memang tak adil namun lebih tak adil lagi jika aku tidak memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki semuanya 🙂