"Tak bisakah kau tinggal saja? Tak bisakah kita berakhir setelah segala sedih dan bebanku berakhir saja? Tak bisakah aku dan kamu menjadi kita untuk sedikit lebih lama lagi?"

Aku tak bisa apa-apa. Menyaksikan punggungmu menjauh adalah satu-satunya hal yang tak bisa kucegah. Aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi — selain menahan sesak sendiri. Banyak hal yang tak mampu kujelaskan, cukup rumit, dan kau mungkin takkan menerimanya. Itulah mengapa pesan-pesanku untuk memintamu tetap tinggal hanya mampu kusimpan dalam draft ponselku.

Tapi, sesungguhnya aku adalah pihak yang paling terluka atas perpisahan kita. Setelah kugantungkan bahagiaku atas kebersamaan kita, akulah yang paling jatuh terperosok atas perpisahan itu. Lalu aku harus tertawa bersama siapa setelah pergimu? Sekian lama, kau menjadi vitamin penyokong tawaku, lalu tiba-tiba semuanya harus berakhir. Kau beranjak dengan mengenalkanku lagi pada satu luka yang paling pedih. Lukaku kini berpangkat seribu. Aku semakin dalam terhisap jurang luka.

Bagian yang paling mengerikan, perpisahan itu terjadi ketika aku sedang dalam masa sulit. Aku sungguh berharap kau di sana waktu itu, memberikan lelucon gilamu lagi hingga hatiiku juga kepalaku sedikit mengubur pikiran-pikiran berat yang menghujamnya. Sesungguhnya, aku ingin kau di sana saat itu, menawarkan bahumu, membiarkan air mataku tumpah membasahi kain bajumu, tanpa kau perlu bertanya mengapa. Sebab aku tak bisa menceritakannya. Seberapa keras pun kucoba untuk mengatakannya, aku tak bisa, aku tak cukup berani, aku tak sanggup, berkali-kali kucoba. Meski berkali-kali pula kau memancingku dengan tanya: "apa benar-benar tak ada yang ingin kau katakan padaku?"

Mencintaimu waktu itu, aku merasa tenang. Kupikir duniaku akan tetap kokoh hanya dengan mencintaimu meski tak membersamaimu. Nyatanya, setelah pergimu langit runtuh, menimpa kepalaku, tubuhku, hatiku. Segalanya memar, lukaku merajalela, aku remuk. Itulah bagian patah hati yang paling patah.

Advertisement

Waktu berjalan, aku masih bernapas. Aku masih hidup. Meski dalam rentang waktu itu, aku terus mengutukmu, mengucap sumpah serapah seribu kali, sepuluh ribu kali, berjuta kali, dan lebih gila lagi, aku berharap salah satu dari kita melenyap dari bumi, terkubur; mati. Aku berharap takkan ada sebuah kebetulan yang akan mempertemukan kita. Jangan ada takdir yang membawa langkahku menujumu, sedetikpun, selangkahpun. Aku enggan.

Bertahun-tahun berlalu, aku sudah mulai melupa, ah, bukan, aku sudah mulai menerima luka itu sebagai salah satu proses menuju pendewasaan. Tiba-tiba kau datang mengirimiku sebuah maaf (hanya) melalui pesan singkat. Dan aku dengan betapa bodoh nan bebal nan gilanya mengiyakan saja. Hei, lihatlah! Aku masih aku yang mudah mengatakan "aku sudah memaafkanmu". Sekali lagi, aku kembali menjadi perempuan yang lemah itu.

Kau takkan paham, tapi seperti itulah caraku menguatkan diri.