Seharusnya dari awal aku mengerti, aku memang bukanlah satu-satunya di hatimu. Dia memang yang lebih dulu hadir dan telah megenggam restu dari orang tuamu. Aku hanya orang baru di hidupmu. Aku menyesal, kenapa aku yang tidak mudah tergoda ini malah begitu tersihir dengan perhatianmu yang berbeda.

Seharusnya dari awal aku sudah bisa menolaknya, seharusnya aku tak begitu saja membiarkanmu masuk ke dalam hidupku, tapi nyatanya aku membiarkanmu masuk dan memulai cerita yang tak seharusnya kita jalani.

Kamu yang selalu menghujaniku dengan perhatian layaknya seorang kekakasih membuatku begitu nyaman dengan hubungan yang tak bisa kusebut jelas statusnya. Semakin hari semakin indah bagiku, sampai aku lupa bahwa kamu sudah memiliki dia "kekasihmu". Karena kamu selalu meyakinkanku bahwa kamu bersamanya hanya karena kamu tidak ingin menyakiti perasaan orangtuamu dan orangtuanya yang sudah terlanjur saling mengenal. Aku tahu hatimu, kamu tahu hatiku, bagiku itu sudah cukup awalnya karena aku tidak penah memintamu untuk pergi dari atau memilih aku ataupun dia.

Sampai akhirnya aku meminta kepastian hubungan darimu, aku memintamu jujur kepada orangtuamu atas apa yang sebenernya kamu rasakan, ukan dia yang menjadi pilihanmu sebenarnya. Tapi apa? Kamu tidak pernah punya keberanian untuk menyatakan yang sebenarnya kepada orangtuamu.

Kamu tetap bersama dia dan memintaku berhenti memperjuangkan kisah kita. Kamu tidak ingin menyakitiku lebih dari ini karena jodohmu sudah ada dan itu dari pilihan orang tuamu. Aku memang salah karena hadir di antara kamu dan dia. Setiap aku bercerita tentang kisah kita pasti semua orang menganggapku salah, karena mereka tidak pernah merasakan bagaimana jadi aku, dan bagaimana perasaanku ke kamu.

Advertisement

Kamu mungkin sekarang mulai menjauh dariku, mulai memperlihatkan kebersamaanmu dengannya, yang dulu tidak pernah kamu lakukan demi menjaga perasaanku. Tapi tak mengapa, aku memang harus belajar ikhlas karena memang dia yang lebih berhak atas dirimu dari dulu dan sampai sekarang.

Terima kasih pernah hadir di hidupku, terima kasih telah menghadirkan kebahagian juga luka di hidupku.

Aku tahu sekarang, "bahagiamu adalah bahagiaku" itu kata yang paling munafik yang pernah aku katakan kepadamu, tapi restu dan ridho orangtuamu adalah restu dan ridhonya Allah.

Untuk dia yang kamu pilih, aku yakin dia adalah wanita paling beruntung karena bisa mendapatkanmu, laki-laki yang pernah menjdi impianku.

Izinkan aku tetap merindukanmu sebagai teman yang pernah menyempurnakan hariku. Walau sampai saat ini masih selalu ada perdebatan di setiap komunikasi kita. Aku masih berharap bisa jadi temanmu dan bisa bercerita apapun denganmu seperti dulu lagi. Dan seperti yang kamu katakan, kita masih bisa jadi teman meskipun pernah berharap lebih. Aku sama sekali tidak ingin kisah kita sama dengan kisah-kisahku yang dulu kenal-akrab-dekat-ada masalah-seperti tidak kenal. Aku masih ingin tetap jadi temanmu.

Aku percaya sekarang kamu mulai menjemput bahagiamu bersamanya. Karena bahagiamu memang bukan bersamaku.