Aku pernah mengagumimu. Bahkan aku berani membiarkan perasaanku berubah menjadi (men)cinta(i).

Aku mungkin ikhlas mencintaimu, tapi sungguh aku tidak dapat mengelak dari rasa cemburu ketika kamu lebih memilih mendekatkan diri pada orang lain daripada denganku.

Iya, aku memang memutuskan untuk tidak memberitau bahwa aku mencintaimu. Tapi yang kutau dari teman-temanku, bukankah kau sudah tau bahwa aku mencintaimu? Dan kau tetap angkuh dengan sikap pura-puramu itu.

Kau tau, aku begitu bahagia ketika diajak bicara. Meskipun hanya pembicaraan ringan, tapi aku senang. Sesekali pandangan kita bertemu dan kau melempar senyum yang membuatku malu, aku berpaling dan bahkan tidak berani untuk melihatmu lagi. Sikapmu misteri, aku tidak dapat menerka rasa apa yang kau punya untukku. Kau pernah memperlakukanku dengan sangat baik dan juga kau pernah melewatiku, seolah aku tiada.

Kau berubah, tapi tidak dengan perasaanku.

Advertisement

Bohong ketika aku berkata aku tidak berharap kau membalas perasaanku,

Tapi aku cukup tau diri pundakmu terlalu tinggi untuk sekedar menjadi tempat bersandar bagiku.

Tapi bisakah kau membuatnya cukup jelas untukku? Ada atau tidak aku di ruang hatimu? Aku tidak dapat mengerti ketika semuanya abu-abu.

Bukankah aku masih dapat menerima jika memang tidak ada ruang untukku? Tentu saja aku masih dapat menutup kenangan itu dengan perlahan membuka hati untuk orang yang baru. Tapi kau tetap saja begitu. Bagaimana bisa aku menentukan pilihanku, untuk beranjak atau tetap tinggal ketika semuanya masih sangat abu-abu.

Sekeras apapun aku mencoba, aku ingin tetap tinggal. Aku ingin tetap mencintaimu seperti yang lalu. Bahkan jika aku harus mencintai sendiri.