Mulanya aku marah pada keadaan, tamparan kenyataan lebih sakit dari apapun, kehilangan bukanlah satu hal yang ku inginkan, terlebih jika aku harus kehilangan cinta sejati yang memiliki miliaran arti. hari ini ku tulis kembali narasi kerinduan, aku tak perduli mereka bilang apa, tapi lebih jelasnya ini lah yang kurasakan.

Sudah 6 ramadhan dia berpulang, dia kembali pada asalnya, sudah milyaran narasi rindu yang kutuliskan, tapi tak satupun kudapatkan balasan. Kini ramadhan kembali lagi, tapi di setiap sudut kulihat semuanya semu dan sama, Tuhan… apa kabarnya lelaki hebatku itu di sana? Apa kabarnya sahabat sejatiku, teman segala teman yang mengerti kerasnya hatiku, tempat yang selalu kurindukan untuk mengadu.

Entah bagaimana aku akan menyatakan semuanya, yang jelas kerinduan ini sudah mencapai titik jenuh yang tak pernah kutemukan tempatku kembali. Tuhan, semenjak kau jemput dia kembali ke rumahmu, kau sendiri tahu betapa aku hancur saat itu, hingga tak ku kenal lagi siapa diriku, kucari pelarian dengan kebahagian orang-orang yang ada di sekitarku, tapi aku tak cukup pintar untuk mengenal mereka yang sesungguhnya. Hhhh…. bukan Pa, bukan papa yang kubenci di sini, tapi keadaan, keadaan dan mereka.

Mereka yang pintar memakai topeng berhati malaikat, anggap sajalah aku si bodoh yang percaya saat itu. Dan ketika semua kau tinggalkan, aku tertatih berdiri sendirian, menguatkan hatiku, menguatkan ibuku, ketika kepergianmu mengantarkanku pada perubahan kehidupan, di sinilah aku mengenal siapa mereka sesungguhnya, bagaimana mereka di balik topeng yang mereka pakai kenyataannya mereka tak sesuci yang kau kenal dulu.

Rasa-rasanya sekarang aku ingin berlari, ke mana sajalah asal aku menemukanmu, ingin kujeritkan semua keluh ini, ingin kukatakan aku benci dengan mereka, ingin kulukiskan seberapa sulitnya semua ini, atau setidaknya aku tak perlu melakukan semua itu, aku hanya ingin kau dekap dan kau rasakan sakit yang ku rasakan, bisakah hal sesimple itu kulakukan sekarang?

Advertisement

Sampaikanlah pada Tuhan, Pa. Bahwa aku tak meminta kau untuk kembali, atau menyesali takdirnya kini, tapi aku hanya meminta kekuatannya agar aku tetap berada di jalannya, sehingga aku tak salah jalan lagi seperti awal kau tinggalkan aku disini.

Kepergianmu memang kusesali, tapi aku harus bangkit, kerasnya hidup mengharuskan aku untuk lebih keras lagi, kau tahu akulah satu-satunya puteri yang kau miliki, kurasa tak mudah menjadi seperti sekarang ini, semuanya berbanding terbalik, di saat dulu aku selalu kau dengar, dan kini aku harus menjadi pendengar, saat dulu aku yang selalu meminta, kini aku harus menjadi pemberi, di saat dulu aku adalah anak yang kau tanggung jawapi, kini aku harus menjadi penangung jawab mereka berdua, di saat dulu aku mengadu, kini aku harus menjadi tempatnya mengadu, di saat dulu aku yang slalu kau dekap, kini aku yang harus mendekap.

Sekarang aku mulai terbiasa Pa, terbiasa dengan sakit, terbiasa dengan keras, kau yang mengajarkan jika hidup keras maka aku harus lebih keras lagi, kunikmati semua kerinduan ini, tak kupedulikan mereka yang mencaci, mencoba menjatuhkan, menggoda bersama setan, merendahkan, bahkan harga diriku ikut terinjakkan, aku belajar diam darimu, diam dari semua yang ku dengar, dan aku berusaha membuktikan pada mereka yang berkicau bahwa aku yang kecil ini mampu menjadi besar! Seperti itu juga janji yang telah kuucapkan kemarin.