Akhir-akhir ini, aku merasa kita seperti dua orang asing yang sekadar tidak ingin ambil pusing.

Hari ini beradu pendapat, besoknya mengunci diri dan hati rapat-rapat, tak lama seolah tidak terjadi apa-apa, kemudian menumpuk luka.

Semakin aku mencari, adakah alasan untuk menetap pada satu harap, menghadapi berdua dan mengurungkan niat berganti dari hatimu, semakin membuatku sadar. Kita memaksakan kehendak. Padahal, setiap hari bom keputusasaan meledak.

Cinta yang perlahan luntur, atau memang kami yang kalah bertempur melawan guntur?

Dalam kehidupan, selalu ada ujian. Begitu pula ketika dua manusia yang tengah menjalin hubungan. Banyak yang bisa melaluinya, tapi tidak sedikit pula yang mesti berhenti. Bukan karena menyerah, sebab luka terlalu parah. Akan sulit mengobatinya, khawatir jika diteruskan hanya menjadi beban dan bukan atas nama kebahagiaan.

Advertisement

Sebuah hubungan itu, sejatinya perlu sedikit keributan.

Supaya saling merindukan, dan yakin pada pilihan yang sudah dijalani.

Tetapi, terlalu sering bertengkar, bisa jadi sebagai isyarat Tuhan kalau kita memang terlalu banyak ketidakcocokkan, agar hubungan ini tidak lagi diteruskan.

Aku tahu, dalam cinta ada bahagia dan luka.

Pasangan yang jatuh cinta, tidak bisa selamanya bahagia, ataupun terus-terusan merasa terluka.

Siklusnya pasti bergantian.

Tetapi, yang aku tidak mengerti,

Kadang kala, topan menghantam lebih sering, sehingga pohon yang akarnya besar dan gagah, bisa saja luluh lantah.

Kerap kali, tiap orang lain berkomentar soal kita, mereka berpendapat, aku belum mampu dewasa. Aku mengaku, emosiku memang masih meletup-letup. Tapi, kamu juga kekanakan. Sekian dari keributan, bersumber atas kesalahpahaman yang seharusnya bisa dibicarakan, tapi malah sengaja diabaikan olehmu.

Berkali-kali kita menyelamatkan hubungan. Berkali-kali pula ada hati yang gagal memahami. Sebatas takut kehilangan, sama-sama merasa membutuhkan, masih ingin membagi bahagia, atau karena sedang menunggu orang baru.

Terkadang, memaafkan sekadar perkara menunggu waktu.

Waktu yang menggilas masa lalu dan mengemasnya, kemudian mengirim seseorang lain untuk membantu kita pergi ke masa depan.

Berulang, aku mencoba lari namun semua yang sempat kita lalui bersama, memanggilku pulang.

Berjuang denganmu, membawaku kembali merapikan serpihan-serpihan yang sempat membuat kita merasa bahwa jatuh cinta memang menyakitkan.

Sayangnya, kita mencoba dan gagal.

Memaksa lupa pada tiap-tiap jurang curam, yang kerap memperparah hubungan yang karam, malah berbalik menjadi penghalang.

Aku, kamu.

Kita mestinya paham.

Sebuah hubungan, diibaratkan layaknya tali.

Jika tali itu terputus, memang masih bisa diikat, tapi sudah tak lagi kuat.

Katamu, “Bertahanlah sebentar”.

Tapi… Bagaimana dengan janji yang telah disetujui kemudian kamu ingkar?

Katamu, “Ini nggak akan terjadi lagi. Habis berantem, kita pasti lebih menghargai satu sama lain”.

Lantas… Bagaimana jika hati terlanjur mengeras?

Bolehkah ku katakan, aku kehabisan tenaga untuk menghadapimu? Kalau tidak bisa begitu, kamu saja yang jujur padaku jika hatimu sudah babak belur. Ini memang berat, tapi mungkin lebih ringan dari merantai diri masing-masing untuk diam di tempat, bersama orang yang tidak tepat.

Jadi, bagaimana?

Semoga kamu sepakat, kita jauh lebih dewasa jika sama-sama menyudahi luka yang mengarat.

Mudah-mudahan, aku dan kamu semakin kuat meski kita tidak bisa lagi dekat-dekat dan saling bergantian memberi semangat.