Di dalam kehidupan, seringkali kita dihadapi dengan pilihan. Apa yang sepatutnya kita pilih, apa yang terbaik untuk kita. Tapi nyatanya pilihan yang diambil, tak sesuai dengan realita.Pilihan yang kita ambil tak sejalan apa yang kita inginkan.

Ekspektasi yang berlebihan adalah penyebab rasa sakit yang amat dalam. Hal-hal yang kita inginkan, menjadi sebuah momok yang terus menghantui dan bergesekan dengan hati nurani. Menjadi sebuah konflik pada diri sendiri. Bahwa hati terus berontak untuk memnuhi hasrat duniawi.

Seringkali kita dengar, 'Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan'. Benarkah? Aku tidak tahu pasti, yang jelas hidup harus terus dijalani. Bukan perihal mimpi, bukan perihal keinginan pribadi. Namun, kembali pada prinsip diri sendiri.

Pilihan yang muncul, tetaplah sebuah pilihan. Apa yang kita pilih, menentukan jalan kita selanjutnya. Seandainya kita kecewa dengan apa yang kita pilih, yakinlah Tuhan akan memberi jalan pilihan yang lainnya. Meski sakit, meski sulit. Pahami dan jalani apa yang sudah kita pilih.

Aku memilih, maka aku ada. Aku berpikir maka aku ada. Secara naluriah, orang yang memilih adalah orang yang berfikir, orang yang berfikir menunjukkan bagaimana dia eksis di dalam dunia ini. Melalui prinsip-prinsp yang dia punya. Melalui pertimbangan-pertimbangan yang kita fikirkan.

Advertisement

Seperti sebuah cerita, ada seorang mahasiswi yang masuk di fakultas dan jurusan yang sama sekali tidak dipikirkannya. Sama sekali tak pernah ada di dalam hasratnya. Mendapat sebuah cibiran dari semua orang. Dia terpaksa harus memilih. Lanjut? Ataukah keluar dari jurusan itu?

Mahasiswi itu gamang. Karena dia sudah tak mau lagi mencari fakultas lain dan memulai dari nol lagi. Disisi lain, ada sebuah pernyataan yang menguatkannya. Fakultas dan jurusan yang dia ambil adalah pilihan yang terbaik dari Tuhan. Tuhan selalu memberikan pilihan yang terbaik bagi umat-Nya. Setelah ditekuni, nyatanya dia mendapatkan pelajaran yang amat berharga yang mungkin tak dia dapatkan jika dia memilih jurusan yang lainnya. Itulah sekolah kehidupan.

Jadi, hidup bukan hanya sekedar pilihan. Tuhan memberikan pilihan terbaik untuk setiap umat-Nya. Terlepas dia menginginkan atau tidak. Karena Tuhan tahu, apa yang terbaik untuk kita. Meski buruk di mata kita, bisa jadi itu adalah yang terbaik di Mata Tuhan. Sebaliknya, apa yang terbaik di mata kita, mungkin saja buruk di mata Tuhan.