Manusia memang tempat segala salah bersarang, tak terkecuali aku dan kamu. Juga tempat bersumber segala macam egoisme diri, termasuk egoisme diri untuk mencintai. Mencintai tak bisa seenaknya, apalagi semaunya. Aku takkan membuka hati begitu saja.

Aku membiarkan siapapun mengenalku, tak terkecuali. Kemudian kesempatan selalu kuberi untuk mereka yang mau berteman denganku lebih jauh lagi. Berteman bukan hanya masalah atap atau makanan, tapi juga rasa.

Untuk tangis yang mewarnai sendu, aku butuh pundakmu. Butuh celotehanmu agar otakku menjadi waras kembali, jauh dari kata buta atau kalut. Juga bukan tisu yang aku harap menghapus tangisku, tetapi tanganmu yang aku harapkan. Bukan yang selalu di sisi tapi yang selalu ada. Penyisih waktu yang hebat di tengah himpitan kesibukan. Kemudian melukis senyum meski dengan cara seadanya dan sederhana.

Kadang bahagia bukan mewah, tapi waktu. Waktu yang kemudian membeku menjadi kenangan sampai akhirnya tak bisa kita putar lagi sedikitpun. Hanya benda-benda mati saksi bisu atas segala yang telah terlewati.

Kurasa Tuhan begitu adil. Tak mungkin ada tangis tanpa ada tawa setelahnya.

Advertisement

Aku juga ingin berbagi tawa dengan kalian. Sesederhana memangkas habis waktu senggang di akhir pekan untuk mewarnai hari. Menelan waktu bersama yang tak mungkin aku ulangi beberapa dekade lagi.

Kamu, ada di antara kalian yang telah kusebut. Menjadi satu-satunya rumah kedua setelah hati, rumahku sendiri. Kamu, sahabat yang entah bagaimana harus aku deskripsikan dengan baik. Kamu dengan segala ketulusanmu, kemurnian cintamu yang begitu ingin aku jaga tanpa harus aku campur heterogen dengan sisa-sisa cinta yang lain.

Karena itu aku menolak kau jadikan ratu. Yang aku inginkan bukanlah raja dan ratu melainkan sepasang saudara kandung. Saling mencintai, tapi tidak untuk teman hidup. Kamu punya ruang sendiri di rumahku, yaitu hati. Jangan khawatir