Hampir tiga tahun kita menjalin hubungan. Selama itu pula aku mencoba untuk bertahan meski air mata tak ada hentinya untuk menetes. Tak jarang kata putus selalu terucap di antara kita. Hingga pertengkaran demi pertengakaran selalu terjadi meski hanya lewat mulut. Namun selalu dapat kuredam.

"Aku bukanlah boneka yang tak memiliki rasa sakit"

Tapi semua berubah, kau bukanlah dirimu. Saat akan menginjak tahun ketiga dalam hubungan kita kau terlihat bak monster. Amarahmu selalu membabi buta ketika kita bertengkar. Dan kekerasan fisik pun akhirnya muncul. Kau memukulku bak karung samsak dalam ring tinju. Hei, ingat kita belumlah menikah!! Tapi kau sudah berani melakukan kekerasan fisik padaku.

"Logikaku berjalan tapi tidak dengan hatiku,

Aku masih menyayanginya"

Bodoh memang, jika aku masih saja bertahan dengan semua yang telah ia perlakukan terhadapku. Tapi entah kenapa hati dan logikaku selalu tidak sependapat. Dan puncaknya terjadi pada hari itu. Kau pria yang telah mengisi hatiku, yang selalu menyemangatiku. Tanpa rasa bersalah apapun setelah pagi hari kau membuat luka ditubuhku ternyata kau juga membuat luka dihatiku.

Advertisement

Kau memutuskan hubungan ini tanpa rasa bersalah sedikitpun. Tapi tak apa, kini aku bebas. Meski trauma itu masih berbekas. Dan kini ku tutup hatiku karena aku tak percaya lagi akan cinta.

"Bahkan air mata itu kini tak lagi menetes kala mengingatmu,

mengingat kenangan kita.

Karena berkatmulah aku belajar menjadi wanita kuat.

Dan berkatmulah kau berhasil membekukan hatiku.

Dan tak percaya lagi akan cinta."