Seperti kebanyakan orang, drama cinta kita bermula sejak SMA. Terang aku jatuh cinta, wajahmu begitu rupawan. Sayang aku tak sendirian. Selayaknya kuntum bunga segar, lebah pasti berdatangan. Entah bagaiman aku bisa tahan melihatmu tersenyum untuk mereka, meski hati diiris tipis-tipis. Meledak rasa di dada ingin segera diungkapkan. Rupanya keberanian itu selalu beringsut di sudut hati saat jarakmu serentangan tangan.

Aku menjelmamenjadi sosok culun dalam kisah-kisah cinta yang pernah ada. Mengambarmu dalam hati hingga jadi segores sketsa yang kutoreh sepanjang hari di antara buku catatanku. Sejelas matamu berbinar, sejelas senyummu mengembang, dan sejelas ekspresimu yang tak sadar atas rasaku. Kurangkai segala tingkahmu dalam barisan kata-kata  berimam para pujangga. Rasaku padamu masih tak terukur oleh penuhnya gambar dan rangkaian kata itu.Sungguh aku ingin menyampaikan semua rasa itu, namun aku takut bilau kau tak berkendak. Hatiku tak siap kau tolak.


Lalu dengan segala bodohku, kutitipkan semua sketsa dan puisi tentangmu pada teman kita untuk disampaikan padamu. Itupun kupinjam namanya. Wajar bila kamu tak pernah tahu bahwa yang membuat semuanya adalah aku. Akulah yang membuat semua itu. Bukan dia. Tapi, terlambat. Kalian pada akhirnya saling mengikat. Sedang aku, tak berdaya membela diri. Tak berdaya memberanikan diri mengungkapkan rasa di hati.


Pelan-pelan kuikhlaskan. Pelan-pelan kulupakan. Kelulusan dan jarak memberiku banyak kemudahan. Rasa tentangmu masih tersimpan di salah satu sudut hati. Aku tak mampu mengusirnya pergi. Kadang kangen tiba-tiba muncul bikin nyeri di hati. Itulah sebabnya suatu hari saat di tanah rantau kulihat wajahmu menyelip di jendela linimasaku, langsung saja kulihat profilmu. Benar, itu kamu. Tak tahan jemariku menyapa. Tak melihatmu langsung membuatku lebih bisa banyak bicara.

Kita menjadi akrab. Semakin akrab. Hingga saat kamu tak lagi bertali dengan siapapun aku punya rasa berani membeberkan rasa yang berdebu di sudut hati. Ternyata aku begitu keliru selama ini. Tak kusangka kamu punya rasa yang sama di bangku putih abu-abu. Namun rupanya pertalianmu yang terkahir begitu menyakitimu. Kamu jadi tak berani memulai lagi. Aku hanya dapat menunduk makhlum. Ya, aku menunduk. Aku sedih, tapi aku tak menyerah. Meski berjarak ruang, kupastikan kita tetap berhubungan.

Advertisement


Kali ini aku benar. Ketabahanku terbayar. Kamu membuka hati, mencoba menjalani ikatan denganku. Dunia terasa sempurna. Rencana pernikahan kita sudah ada. Hanya saja kita harus berusaha ekstra mengumpulkan dana. Aku bukan orang yang berpunya. Kutahu, untuk urusan ini sebenarnya adalah masalahku sendiri. Di pihakmu dana untuk prosesi ini selalu tersedia. Kerjamu juga sudah mapan, sedang aku hanyalah kuli bangunan, tukang pel, hingga tukang semir sepatu orang. Kamu menerima dengan segala kekuranganku sudah merupakan anugerah Tuhan.


Siapa sangka, ada badai datang tanpa diundang.

Aku kaget ketika tiba-tiba kau telepon dengan isakan yang tak bisa ditenangkan. Dari patahan-patahan ceritamu di antara isakan itu kamu minta sebuah keputusan yang terang saja tak bisa kuputuskan. Masalah itu sebenarnya sepele bagiku, tidak sepele bagimu. Pemecahannya sederhana bagimu, tak sederhana bagiku.

Kamu telah memergokiku bercanda dengan adik si A teman kita yang tak terlalu kamu suka. Lebih parahnya adik si A terkenal sebagai perempuan penggoda. Dekat dengannya membuatmu cemburu luar biasa. Kamu begitu khawatir aku tergoda dan jalan satu-satunya adalah menjauhinya.

Pokoknya di kacamatamu dia tak ada baik-baiknya. Meski aku berupaya menjelaskan bahwa dengannya  aku tidak ada ketertarikan tentang percintaan. Hanya saja kami telah saling menyanyangi sebagaimana saudara, sebab aku sahabat dari kakaknya. Tentu adik sahabatku, adikku pula. Bagaimana mungkin aku bisa melihatnya sebagai seorang wanita? Mereka pun tahu aku menjalin kasih denganmu saja. Mereka pun tahu, apa rencana kita selanjutnya.

Tapi kamu terlanjur tersiksa. Tak mau tahu bagaimana hubunganku dengan mereka, kamu memaksaku memilih antara kamu dan mereka. Tak sadar bahwa dengan begitu kamu telah mengalihkan siksa. Ini bukan sebuah pilihan, kalian bertiga penting dalam hidupku meski memiliki tempat berbeda.

Akan tetapi orang tuamu terlanjur mengetahui dan murka karena anaknya sengsara. Tentu saja aku dimaki. Tentu saja aku terintimidasi. Kamu masih teguh ingin aku menjauhi mereka. Tapi hubungan dengan mereka tak akan pernah bisa kuputuskan begitu saja.

Maka, setelah panjang menimbang, kuputuskan aku tak akan meninggalkan mereka. Selama ini aku selalu mengharap pasanganku nanti dapat menerimaku dari segala sisi. Padamu bukankah sudah kujelaskan berkali-kali bahwa mereka tak seburuk yang kamu kira, tapi kamu tetap berkerashati? Maaf jika keputusanku membuatmu patah hati lagi. Sesungguhnya ini bukan pertamakali aku patah hati karenamu.

Hati yang pernah merasakan sakit yang sama tidak akan semenderita seperti saat pertama merasa. Telah banyak kota kulalui, hanya saja hatiku belum tertambat lagi. Satu catatan dariku, saat kudengar engkau menikah dengan seseorang, saat itu aku sama sekali tak merasa tersakiti. Ah, sepertinya aku tak sadar bahwa luka yang pernah kualami telah lama kuikhlaskan. Sampai saat ini mereka masih sahabatku, tak pernah berubah menjadi seperti yang kamu khawatirkan.