Masih ku pinjam nama rindu sebagai alasan untuk mengkhawatirkanmu.

Aku selalu bertanya pada diriku sendiri: Bisakah sehari atau sejam saja aku mengabaikan perasaan ini? Tapi tidak. Rasanya sangat menyiksa. Jangankan sehari atau sejam, semenit saja aku mengabaikan rindu ini rasanya seperti aku sedang menikam hatiku berkali-kali: setiap detiknya membawaku pada kesakitan yang semakin menjadi-jadi.

Rindu ini berat, sampai aku tak tahu dengan kekuatan apa aku harus membendungnya.

Aku ingin berhenti. Tapi menyerah pada rindu lebih berat kurasakan daripada harus membendungnya. Andai saja aku bisa punya kekuatan super seperti anime kesukaanmu yang dulu sering kau ceritakan, tapi.

Tunggu sebentar. Apa yang baru saja kukatakan? Anime kesukaanmu? Apakah aku baru saja teringat kenangan tentang waktu yang pernah kita habiskan bersama? Kupikir aku baru saja menemukan jawabannya. Iya, rasanya aku tak perlu kekuatan super seperti dalam anime kesukaanmu, karena aku sudah memiliki kekuatan yang lebih besar dari itu: kenangan. Iya, kenangan. Kenangan tentang kamu, tentang aku dan tentang kita.

Advertisement

Memang masih sulit dipercaya, tapi aku pun tak bisa menyangkal jika bayangmu masih saja melekat dalam setiap kedipan mataku. Seharusnya aku cukup tahu diri dan mengabaikan perasaan ini, tapi semakin ingin kuabaikan rasanya aku semakin tersiksa. Mungkin aku tak pernah terlintas lagi dalam pikiranmu, walaupun sejenak. Mungkin juga namaku tak ada lagi dalam doamu; dan pastilah tak ada lagi tempat untukku di hatimu.

Lalu apa yang bisa kujadikan alasan untuk memikirkan bagaimana kabarmu? Apa yang harus kujadikan alasan untuk menyebut namamu dalam doaku? Dan apa yang harus kujadikan alasan untuk tidak menggantikan tempatmu di hatiku? Cinta. Apakah cinta masih bisa kujadikan alasan untuk setiap pikiran, doa dan hati yang masih berpihak padamu? Jika aku tak boleh melakukannya atas nama cinta, izinkan aku melakukannya atas nama rindu. Kumohon. Jika perpisahan tak lagi mengizinkan aku untuk mengungkap cinta, bukankah kenangan bisa kujadikan alasan untuk mengungkap rindu?

Sekali lagi: kumohon.

Rindu ini membelengguku, tapi aku masih tetap mencoba untuk tidak mengusik hadirnya. Rindu ini membunuhku, tapi aku selalu mencoba untuk berdamai dengannya. Ah sudahlah. Rindu ini, aku sudah berkawan karib dengannya. Di atas setiap kesakitan yang ku ungkap atas nama rindu, aku ingin kau tahu satu dari sekian ribu hal yang ingin kusampaikan: "rindu yang tadinya kupikir akan mereda setelah ku ungkap lewat serangkaian kata justru semakin besar dan bahkan semakin memuncak setelah aku menyelesaikan tulisan ini: aku sangat merindukanmu".

Salam,

Teruntuk kamu: yang tak lagi mengingatku; Dariku: yang tak pernah berhenti merindukanmu.