Kau mengatakan cinta adalah arti sebuah perasaan yang mendalam. Memposisikan diri sebagai pejuang terdepan untuk menjadikan penakluk sebongkah hati yang terpagar. Kau ketuk dengan cara tak biasa, aku tersenyum untuk akhirnya mempersilahkan kau masuk mewarnai seisi ruang rindu yang ada.

Kini kau telah membuatku turut jatuh cinta…

Namun, kau yang memekarkan kebahagiaan, kau pula yang menginjaknya dalam sekejap. Mendua adalah keruntuhan dunia yang kita bangun lama silamnya. Bolehkan aku mengulang waktu untuk mengubah skenario hidup, agar tak merasa jatuh sesakit ini? Tetapi saat hati ini memilih pergi, kau kembali menarik tali balon udara yang kian lepas mengudara ini…

Maaf, maafin aku. Aku salah, aku bodoh. (Lirihmu dengan mata penyesalan mendalam)

Tak tau bagaimana, hati ini mampu memberi kesempatan kedua. Memaafkan karena manusia memanglah tak sempurna dan adakala salah, aku pun tak sempurna. Aku memutuskan kembali pada rajutan kasih itu, walau terasa berbeda aku berusaha mengikis rasa ragu yang membelenggu.

Advertisement

Aku kini belajar percaya (kembali)

Kau berusaha perbaiki segalanya, walau adakala sakit itu masih mengoyak seisi relung jiwa. Namun, salahku tentulah ada dalam kepahitan itu. Mungkin aku belum menjadi terbaik hingga jalan lurus kita sempat terdapat belokan. Aku berusaha menjadi yang kau harap, berwajah teduh, berhati tentram dan tenang. Menjadi wanita kuat untuk siap dibelakangmu mendorongmu menjadi sosok yang hebat. Walau sering kau tak ingat bagaimana kerja keras ini, dan sebatas berkata “iya” atau “oke”, aku terima.

Sesekali ku bawakan masakan yang kau suka, walau akhirnya terbuang karena kau “lupa”, sesekali ku mengirim pesan singkat “semangat!”, walau nyatanya hanya diam yang kudapati saja. Mungkin kau sibuk? Baiklah. Aku tetap berusaha kuat dan mampu membuatmu bangga, meraih bintang-bintang di angkasa untuk membuktikan padamu

“Ada aku yang kuat, siap membanggakanmu, mendorongmu, dan memacu kemajuanmu. Semua ini tulus”

Tetapi, kau tak perduli. Bahkan didepan mataku kau pergi dan tertawa lepas dengan dia yang dulu kau rindu hanya saja tak kau dapati hatinya. Ntahlah apa salah diri ini? setiap keringat bagai tak ada artinya, setiap semangat tak ada gunanya.

Bahkan kau tak tau, seberapa diri ini berlindung dibalik senyuman, saat lelahnya dunia menamparku dengan keras tanpa kau tau ataupun perduli.

Sakit, ini sakit. Saat ketulusan dibayar goresan, saat rindu dibalas hembusan angin belaka. Dinding hati ini kian runtuh. Entahlah, entahlah apa salahku? Seandainya kau sadar, ada malaikat tak bersayap dibalik hari-harimu, yang selalu menyemangatimu bahkan lirih doanya dalam sujud berharap keberhasilan dan lindungan semata untukmu. Ada malaikat tak bersayap yang tersenyum di hadapanmu, walau dibalik itu dia tau bagaimana langkahmu kesana kemari seolah tak ingat ada ketulusan yang menantimu pulang melepas rindu.

Aku masih mencoba bertahan hingga detik ini karena ada ketulusan yang aku perjuangkan. Sejau ku pergi, aku selalu bertemu jalan yang membawaku pada kisah ini, serumit apapun itu. Lirih doaku akan selalu menyertaimu, agar terang perjalananmu dan aku bertahan untuk percaya, kelak kau akan terketuk atas setiap kebaikan yang ku semai. Hanya saja hingga detik ini akulah ketulusan yang kau abaikan

Semoga kelak kau paham dan menyambut hangat

Bahwa ketulusan ini nyata adanya

Salam rindu untukmu yang tercinta.