Dilahirkan dalam sebuah keluarga kecil yang baru saja menjadi pengantin baru adalah sebuah anugerah terindah dari sang pencipta. Mempunyai kedua orang tua yang sangat mencintai malaikat kecilnya, itulah hal yang sangat-sangat berarti bagi keluarga kecil tersebut. Mengharapkan malaikat kecil tersebut bisa tumbuh dengan sehat dan suatu saat bisa menjadi orang yang sukses. Bukankah pemikiran itu yang selalu terngiang di setiap keluarga kecil yang baru saja merasakan kehadiran sang buah hati?

Baru saja malaikat kecilmu berumur 1 thn, namun ia harus mendapatkan kenyataan pahit bahwa kedua orang tua yang selalu ada setiap hari, setiap waktu bahkan setiap menit, harus berpisah. Saat itu ia masih belum mengerti, kemanapun selalu di bawa sang ibu.

Sampai kira-kira berumur 3 tahun yang ia ingat adalah sang ibu mencoba bertemu ayah namun yang ia lihat adalah pertengkaran. Si buah hati hanya bisa menangis melihat situasi yang seperti itu, namun ia belum mengerti kalau inilah neraka dalam sebuah rumah tangga.

Kini ia hanya hidup berdua dengan sang ibu. Ibu hanya mempunyai sebuat toko untung menyambung hidupnya dengan buah hati satu-satunya. Ia bisa bersekolah di sekolah yang tak jauh dari rumah, setiap hari hanya berjalan kaki sebentar saja. Tidak pernah sama sekali berpikir, "Aku sedih tidak mempunyai ayah seperti teman-temanku yang lain". Yang ia pikirkan hanya, "Aku masih punya ibu yang sangat menyayangiku". Semua mereka jalani hanya berdua, ibu bersama gadis kecilnya. Yang selalu tertanam di dalam benak gadis kecil itu adalah dirinya punya ayah namun ayah tidak pernah bertanggung jawab menafkahi mereka, jadi untuk apa mengakuinya sebagai seorang ayah? Dirinya bisa sekolah pun karna usaha sang ibu yang mempunyai toko.

Namun di usianya yang kelima tahun gadis kecil itu sangat sedih, karena ia mulai harus menerima kehadiran ayah pengganti yang sebetulnya gadis kecil itu tidak mau.

Advertisement

Hidup yang mereka jalani tidaklah mulus, bahkan bagi gadis kecil itu mulai menyadari inilah penderitaan yang harus di terima.

Di dalam benaknya semua pria sama saja, karenanya ini yang membuatnya menjadi gadis yang terlalu cuek terhadap kaum pria. Ia pun menjadi anak yang takut dengan kaum pria, mungkin itu masalah psikologis. Bahkan ia tak segan-segan untuk berani melawan pria yang coba-coba mendekatinya.

Saat ia mulai tumbuh menjadi remaja semuanya mulai terbuka, melihat teman-temannya bersama sang ayah membuat dirinya sedih. "Kenapa aku tidak pernah merasakan kasih sayangmu ayah?". Aku selalu melihat keluarga teman -temanku mempunyai keluarga yang utuh, namun aku hanya bisa menelan ludah dan berpura-pura seolah-olah aku kuat.

Disaat mulai remaja benih-benih cinta mulai hadir, namun aku tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Tidakkah engkau berpikir aku sangat membutuhkanmu di saat-saat itu?

Sekarang aku sudah dewasa, keinginan untuk berkuliah, mengambil jurusan yang aku inginkan namun aku tidak tahu harus membayar dengan apa?

Tidakkah engkau memikirkan sedikitpun tentangku? tentang bagaimana aku sekarang, jadi apa aku sekarang, dan bahkan masih hidup/tidaknya diriku. Ada pepatah berkata "Ayah adalah cinta pertama anak gadisnya". Pada kenyataannya aku merasa hal itu tidak ada bagi diriku.

Diri ini sudah lelah memikirkan masa depan yang entah akan bagaimana. Semua orang pasti punya cita-cita dan memikirkan bagaimana untuk mencapainya. Namun di jaman seperti ini semua butuh modal. Yang aku pikirkan bagaimana aku bisa membayar uang kuliah demi mendapatkan cita-cita tersebut.

Sempat terlintas di pikiran ini untuk mencarimu, bertemu denganmu, meminta pertanggungjawaban. Namun selalu saja aku takut. Aku takut mengecewakan Ibu. Dia yang sudah terlalu sakit kau khianati.