"Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim"

Ibu, semalam aku memimpikanmu. Kau tersenyum riang dengan paras paling menyenangkan. Kau meletakkan semangkuk sup di atas meja, lantas dengan gegas menyuruhku untuk segera makan. Dan seperti biasa, kau mengelus lembut rambutku seraya menatapku lamat-lamat.

Ayah, semalam kita bercakap ringan melalui telefon. Bercerita tentang rumah yang katamu terasa semakin sepi tanpa kehadiran putra-putrimu yang telah pergi menjalani kehidupannya masing-masing. Katamu kau rindu gelak tawa kami yang biasanya begitu gaduh mengisi setiap sudut ruangan. Dan bisa kurasakan, betapa besar kau mengharapkan kami untuk segera pulang.

Tapi ayah, ibu, bersabarlah. Putramu tidak sedang bertamasya di sini, melainkan ia tengah berusaha keras membangun impiannya di tanah rantau. Impiannya cukup besar, dan hal itu sepadan dengan segala hal yang telah kalian berdua korbankan. Karena bagiku pulang bukanlah sekadar pulang.

Pulang adalah sebuah bukti kesuksesan seorang perantau atas perjuangannya. Bukankah selayaknya ada ‘hadiah’ yang layak dibawa pulang selepas seseorang merantau jauh? Dan jika putramu harus pulang sekarang dengan tangan kosong, alangkah sia-sia perjuangannya selama ini. Maka, izinkanlah putramu berproses memantaskan diri dengan cara ini.

Advertisement

Ayah, ibu, ada begitu banyak hal yang bisa kupelajari di tanah rantau ini. Pelajaran berharga yang membuatku semakin mengerti tentang apa itu kedewasaan. Di sini, tak ada lagi alaram pagi berupa omelan Ibu yang biasanya tak pernah absen terdengar di setiap pagi.

Aku mulai belajar mengatur segalanya secara mandiri. Mulai dari urusan mencuci hingga urusan mencari tempat tinggal dengan harga paling ekonomis namun layak huni. Tak hanya itu, aku pun belajar bagaimana cara mengelola keuangan dengan bijak. Tak ada kata uang tak cukup di sini, karena yang ada ialah uang yang “dicukup-cukupi”.

Ayah, ibu, kadang aku ingin menanyakanmu bagaimana cara menemukan teman sejati di tanah rantau. Karena di sini ada begitu banyak wajah-wajah asing yang berasal dari berbagai penjuru daerah. Tapi rasanya, apa yang terjadi di dalam dunia nyata tidaklah dapat diramal dengan kata-kata.

Ada begita banyak kejutan manis di dalam perjalananku menemukan teman sejati. Terkadang, aku harus kehilangan materi, waktu, hingga kepercayan. Karena terkadang, yang terlihat manis di depan, bisa saja menyimpan belati di belakang. Namun ada pula teman asing yang baru dikenal justru terasa seperti keluarga sendiri. Tapi, Ayah, Ibu, kalian tak perlu cemaskan keadaanku di sini. Justru dari pengalaman itulah putramu bisa beradabtasi dengan hebat dan dengan alamiah.

Ayah, Ibu, terkadang aku merasa malu pada diriku sendiri. Bagaimana tidak, jika temanku dari daerah lain menyakan perihal daerah asalku, namun justru kujawab dengan gelengan. Bukannya tak mengerti sama sekali, namun aku merasa masih awam dalam mengenali daerah asalku sendiri.

Terkadang, aku ingin pulang sebentar, bertanya pada Pak Guru, dan menulis secara ditail apa yang ia katakan perihal budaya daerah kita. Tapi sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, dan jika tak ingin sia-sia, kita harus menjual buburnya. Setelah berada di tanah rantau ini, putramu semakin ingin belajar lagi, bagaimana cara mencintai budaya daerah asal serta bagaimana cara mengenalinya dengan benar. Sebab, di tanah itu dulu aku dilahirkan dengan cinta, dan aku pun ingin hidup di sana dengan cinta.

Ayah, Ibu, pelajaran terakhir dan terpenting sepanjang putramu berada di tanah rantau adalah rasa tanggung jawab. Tak ada satu komitmen pun di dunia ini tanpa ada rasa tanggung jawab, termasuk keputusanku untuk merantau. Rasa tanggung jawab itu seolah telah terpatri di dalam hati dalam menjalani segala urusan yang tengah kulakukan.

Agar kelak, tak ada orang yang kecewa atas rasa percayanya terhadapku, termasuk kepercayaan Ayah dan Ibu yang tengah berada di kampung halaman. Aku masih mengingatnya dengan jelas, Ibu. Saat kau menggadaikan kalungmu demi memberikanku uang saku selama berada di tanah rantau. Kau bahkan rela mengorban satu-satunya benda paling berharga yang kau punya. Dan aku pun tak bisa melupakannya, Ayah. Saat menerima kiriman pertama di tanah rantau  ini, dan aku tahu kiriman itu hasil jerih payahmu berhutang pada orang lain.

Ayah, Ibu, hidup adalah proses, dan putramu sedang melakukannya dengan sungguh-sungguh. Dia tengah berusaha kerasa memantaskan diri demi kalian, dua orang yang menjadi cinta pertamanya di dalam hidup. Sebab yang muda pasti akan menjadi tua, namun kedewasaan adalah sebuah pilihan. Di tanah rantau ini, putramu tengah menempah pribadinya menjadi matang dan dewasa, bukan hanya dewasa secara usia melainkan juga secara psikis dan logika.

Maka, Ayah, Ibu…, relakanlah waktu yang tak lama ini; waktu di mana aku belajar untuk hidup mandiri, waktu di mana jarak mengajarkanku arti berharganya sebuah keluarga, dan yang terpenting adalah waktu di mana aku mencoba memantaskan diri menjadi manusia yang lebih berharga. Putramu tak akan pernah mengkhianati penantianmu selama ini. Dan aku masih sangat percaya, jika suatu kelak kita dapat berkumpul lagi di rumah, untuk bercakap ringan tentang pengalaman jatuh cinta terbaikku. Bersabarlah, Ayah, Ibu, putramu pasti akan pulang, namun setelah ia merasa pantas untuk pulang.