Pahlawan, panutan, pemimpin, mengayomi dan banyak lagi kata yang menggambarkan sosok ayah.
Tak pernah habis kata untuk sosok yang satu ini, sosok yang selalu melindungi kita dan keluarga, lelah, bingung, tidak punya uang, takut tidak pernah beliau tunjukan di hadapan anak anaknya walaupun sebenarnya kita tahu kalau beliau dalam masalah tersebut, sebisa mungkin beliau mengedepankan raut yang bisa di andalkan di hadapan orang yang di sayangi, khususnya di hadapan istri dan anak anaknya. Semampu mungkin tampil sebagai sosok yang akan selalu dan terus melindungi, mencukupi, dan mengerti. Tetapi kebanyakan sosok ayah tidak pandai memperlihatkan atau menyalurkan rasa sayangnya kepada orang yang di sayangi sebesar sayang yang di milikanya. Ayah, aku tahu engkau lelah, lelah memikirkan bagaimana engkau selalu bisa membahagiakan orang yang kau sayangi, lelah menjalani hidup yang kian keras, sedangkan usiamu kian bertambah dan tak sekuat saat kau masih muda, dulu mungkin kau bisa bergerak sesuai dengan apa yang ada di fikiranmu namun sekarang ragamu tak lagi sejalan dengan fikiran karena raga itu tak sekuat saat kau muda, meskipun sekarang usia itu telah sedikit menghalangi langkahmu namun kau tetap berkutat raga dan fikiran agar terus dapat membahagiakan keluarga.

Ayah, engkau adalah sosok yang terkesan cuek, tidak peduli, namun aku bisa melihat dari kerutan di raut wajahmu yang kian hari kian berlapis, dari situ bisa terlihat betapa kau telah berusaha keras membanting tulangmu mencari sesuatu yang akan selalu membuat orang yang kau sayangi merasa bahagia, tercukupi, dan terlindungi.

Aku tahu kau sangat sayang sekali dengan kami walaupun kau tak pernah mengucapkan secara langsung, selalu melakukan semua cara entah itu lelah, lapar, malu, semua kau lakukan tanpa berfikir panjang demi membahagiakan orang yang kau sayangi.

Dulu waktu masih kecil sebelum aku bisa berfikir secara benar, dalam anganku selalu mencuat fikiran kenapa sih aku tidak seperti anak anak yang lain yang selalu di turuti, selalu di belikan apa yang di inginkan sat itu juga walaupun itu mahal atau kata lain kenapa si aku lahir dari keluarga yang terbilang kurang, dan tidak seperti yang lain yang kehidupanya selalu tercukupi.

Seiring berjalanya waktu dan bertambahlah usiaku bisa ku rasakan betapa sulit menjadi sosok sepertimu, sosok yang tangguh, kuat, menghadapi berbagai duri hidup yang tajam ini. Sekarang aku bisa berkata bahwa aku bangga padamu, bangga dengan pengalaman dan ilmu hidup yang telah kau perlihatkan sepanjang usiaku ini walaupun tak secara langsung menyampaikan nya lewat lisan, tak pernah pula kudapatkan pelajaran seperti itu di bangku sekolah.

Advertisement

Aku ingat dan mungkin malah terukir di dalam ingatanku saat dulu kita menjalani hidup susah, ''sabar ya le'' yapp kata itulah yang selalu kudengar ketika anakmu merengek meminta sesuatu yang mungkin terbilang mahal untuk kau beli dengan keadaan keuanganmu di saat itu. Sembari kau terus berjuang untuk dapat memenuhinya. Hmmm maafkan anakmu yang dulu yang tanpa memikirkan betapa susah nya keadaanmu saat itu. Dan hanya kulihat kau diam sambil mengerutkan kulit keningmu,, dan kini ku sadar di balik kerutan kening itu tersimpan sesuatu yang membuatmu bingung, pusing, dan mencari jalan keluar.

Ayah, sekarang aku sudah tumbuh dewasa, aku bukan anak kecil lagi. Ayah, sekarang engkau tidak sendiri lagi, aku selalu ada di sampingmu dan akan selalu membantumu menjalani hidup untuk bertahan hidup, sekarang sudah tidak usah kau fikirkan bagaimana membahagiakan anakmu ini lagi, sekaranglah saatnya aku akan selalu berusaha membahagiakanmu dan mengurangi beban hidup yang selama ini kau pikul.

Lupakan kata kata orang yang dulu selalu menjatuhkanmu karena keadaan ekonomimu, sekarang saatnya kita bangkit dan membuktikan kepada mereka bahwa kita tidak akan tersus terpuruk dalam keadaan itu, semua butuh proses, doa, dan waktu.. Dan semoga aku akan selalu bisa membahagiakanmu sampai ahir hayat.