Sayang, kau tak perlu sibuk melontarkan rentetan tanya, kenapa, bagaimana, dan kapan. Jujur saja, aku pun tak bisa menjawabnya. Semuanya terjadi begitu kilat. Anggap saja mungkin si Dewa Asmara memang sedang bercanda.

Tanpa alasan, tanpa sebab, seenaknya dia membuatku jatuh cinta. Aku yang tak tahu menahu menuruti saja kata-katanya. Membungkus hatiku dengan rapi kemudian meninggalkannya di ruang hatimu.

Daun tidak pernah bisa memilih kepada angin untuk terbang kesebelah mana.

Sama denganku, yang tak bisa memilih perasaanku jatuh kepada siapa.

Hal yang aku tahu selanjutnya, sosokmulah yang selalu menyedot perhatianku hingga tandas. Jika aku adalah bumi, maka kamu menjelma jadi matahari.

Bumi setia mengelilingi sang Surya, tak jemu pada orbit yang itu-itu saja. Begitu pula aku, tak jengah pada tindak tanduk maupun kebiasaanmu yang saban hari terekam kepala.

Advertisement

Alasan mengapa aku jatuh hati padamu biarlah jadi rahasia si Dewa Asmara maupun Empunya Dunia. Toh aku tak ingin tahu. Aku hanya ingin menjalaninya saja. Menikmati tiap detiknya untuk berjalan pada orbitku demi puas-puas mengamatimu.

Sepertinya aku jatuh hati pada kepribadian yang selalu kau bawa kemana-mana. Kesederhanaan, kebaikan, rasa humor yang pas, serta sifat yang apa adanya tertakar sempurna di dalam ragamu. Kusadari pria macam itu sudah semakin langka dan hampir tak ada. Mungkin karena itulah aku terpikat dan ingin memilikimu.

Supaya mereka tahu, justru pria dengan sifat sederhana yang bisa membuat bahagia.