Di tepi pantai ini aku mencoba memendam pedih yang kurasakan, ingin rasanya hati ini ikut bebas seperti gelombang ombak yang ceria berkejaran menggulung dan menghempas, arusnya menarik patahan kayu lapuk yang mulanya ia tersembunyi dibawah timbunan pasir hitam, hempasan yang berulang-ulang menghantam dan mengikis, akhirnya terlepas, menghempas bersama ombak, perlahan dan makin dalam ke tengah laut terlepas.

Dalam diam ku, di kejauhan ini aku ingin kamu tahu bahwa sudah berbagai cara aku lakukan untuk bisa melupakan mu, namun wajah mu selalu terbayang. Aku masih ingat senyum bahagiamu 4 bulan yang lalu di awal tahun ini, saat aku menjumpai mu. Aku tahu kamu bahagia dengan hadir ku tapi tidak tahukah kamu betapa sakit hati ini?
Bertahun-tahun dengan setia aku telah melalui, menjaga dan memastikan bahwa perasaan ku setia selalu hanya dengan mu, hanya namamu yang terukir indah direlung hati ku, mengisi keheningan dalam tiap lamunan ku, mewarnai mimpi-mimpi ku di tiap menjelang malam. Namamu selalu ku ucapkan dalam doa ku dan sudah kuputuskan dengan sungguh-sungguh bahwa kamulah pilihan hati ku untuk kupersunting menjadi bidadariku di pelaminan dan partner yang akan bersama mengisi hari-hari cerah masa depan kita.

Memori itu masih ku simpan baik, ya saat dalam kegiatan kaderisasi dimana kamu yang menjadi panitianya, ku kenal kau sebagai gadis pemalu dengan senyum kemayu, sungguh ayu…

mulanya biasa saja, namun cara mu yang begitu anggun pada tiap langkah dan tutur kata mu itulah yang membuatku terpesona. Setelah menunggu waktu yang lama, di ujung kota yang sejuk itulah kubenarikan untuk menyatakan isi hatiku untuk mu. Kupastikan saat itu bahwa kamu tak punya kekasih ya kamu pun mengatakannya. Saat aku jadi pemateri dan kamu notulennya, dalam sesi tanya jawab dengan peserta ku tuliskan pada secarik kertas hanya kita berdua yang tahu, kamu mau gak jadi pacar ku,… aku tahu kamu kaget dengan cara ku, atau menganggapku tak serius, atau bagimu ini sekedar iseng, tapi pada raut wajah mu yang ceria itu kutemukan rona bahagia. mulanya kamu menjawab seadanya, namun setelahnya saat hujan turun di sore itu jawabanmu membuatku hatiku bersuka cita, jiwaku bersorak sorai di derasnya hujan membasahi atap rumah tempat kita berteduh, aku bahagia, yah… kamu mau menerima cinta ku.

Jarak yang memisahkan, aktivitas kita yang menelan waktu dan tiap kesempatan kita untuk bersua, mungkin itu jua yang membuat perlahan hati mulai membeku, rindu yang lama mengering…tiada terobati.

Ku pastikan semua pekerjaan ku secepat-cepatnya selesai, bahkan lembur pun kulalui agar kerjaan segera kelar, akhirnya tiba juga kesempatan itu, ku buat berbagai alasan ke kantor agar bisa menemui mu. Ku dengar, kamu akan segera menikah? entahlah, seminggu yang lalu di penghujung telepon aku masih ingat suaramu yang serak "… kamu serius sih gak sama aku? tapi kenapa kamu baik sama saya…".

Advertisement

Kuyakinkan kamu bahwa aku benar-benar menyanyangi mu, ingin menikahi mu, belum selesai ucapan ku dan telepon mu sudah kau tutup. Hingga kini, nomor mu belum bisa di hubungi.

Langkah kaki ku sedikit goyah, tatkala ku temui engkau di rumah mu sore itu, aku ingin memastikan berita tak sedap yang ku dengar dari sahabat mu, ya kau menerima pinangan dari seorang pria, aku bertanya-tanya siapakah dia yang berani merenggutmu dari ku? Kata mu saat itu, kau di jodohkan dengan pria pilihan orang tua mu, kau bilang terlalu lama kamu menungg dalam ketidakpastian dan kamu tak bisa meyakinkan keluargamu tentang aku, semua sudah diputuskan, dan tak ingin kamu mencoreng muka orang tua mu juga keluarga besar mu, hati ku memberontak sekuat-kuatnya tapi kaki ku enggan beranjak dari tempat ku berdiri kali itu. Pada mata mu jelas kulihat kepedihan, tapi apakah yang bisa aku buat sekarang. disaat semua sudah diatur oleh keluarga besar mu. Aku hanya mendoakan mu, jika kelak kau tak bahagia dalam keadaan apa pun aku masih menyayangi mu, tapi kau mungkin tak ingin melukai ku, lalu dengan cara mu yang seolah tegar mengatakan kamu baik-baik saja.

Masih di pantai ini, aku menanti mentari terbenam… meski indahnya hanya sejenak mungkin demikianlah cerita cinta ini untuk mu, tapi esok ia akan terbenam lagi… kupastikan hati ku telah ikhlas akan pilihan mu seperti mentari esok terbenam lagi dengan indahnya demikian juga esok aku juga masih mencintai mu … , tapi sungguh aku ingin kamu bahagia.

Mungkin mengiklaskan mu bagi ku adalah cara mencintai mu yang paling sempurna saat ini anggaplah ini adalah cara bagiku menjadikannya kisah persahabatan, sebab ku akui ini salah ku yang lamban mengatakan cinta ku untuk mampu meyakinkan mu…