Kamu datang di waktu yang tak pernah aku duga, di posisi hati ini yang belum sepenuhnya terobati. Kau datang setelah dalam setiap akhir sujudku meminta agar aku segara diberikan jalan untuk bisa dekat dengan jodohku. Setelah banyak luka yang perlahan aku tutup agar lukanya tak perih terasa. Dalam perjalananku untuk menyembuhkan hati ini, aku tak hentinya dalam sujudku meminta agar segera di dekatkan dengan jodoh. Bukankah hati yang terluka mampu sembuh dengan kehadiran hati yang baru?.

Kau hadir dengan banyak mimpi yang begitu meyakinkan aku, hingga aku sendiri tak benar – benar yakin. Hanya dalam doa aku bisa mengatakan apa yang aku inginkan, dan aku berharap doa lah yang meberikan kita jawaban akan pertemuan ini. Kita mencoba menjalanin hubungan ini selayaknya dua insan yang sedang dimabuk cinta, tapi tidak bagi hatiku. Aku masih merasa ragu bahwa ini memang cinta dan ini jawabannya. Masih dalam akhir sujudku di tengah malam, aku mencoba memasukkan namamu walau aku tahu Tuhan akan tetap tahu siapa yang sedang aku bicarakan.

Aku meminta dalam sujudku, aku selipkan namamu dalam setiap percakapanku dengan-nya. Berharap Tuhan tak salah lagi memberikan aku seorang yang istimewa. Aku tahu Tuhan tak pernah salah dalam memberikan jawaban untuk hambanya. Hanya saja kali ini aku berhati – hati untuk masalah hati ini.

Setelah dengan segala perjuangan yang menurut kau cukup untuk membuktikan ketulusanmu tak mengubah sikapku akan dirimu. Kau memilih untuk mundur, lalu ketika itu hati ini mulai terbuka untuk dirimu. Ya, aku mulai merasakan bahwa aku butuh perhatian dirimu dan aku butuh dirimu untuk mengobati luka ini agar aku tak selalu bersedih. Aku menangis rasanya hati ini hancur kembali dan sepertinya susah lagi untuk aku membuka pintu hati.

Namun belum jauh kau pergi, aku kembali mencoba memanggilmu untuk menahanmu. Tapi, aku belum begitu yakin apakah ini "Sayang" seperti yang selalu kau tanyakan kepada ku. Yang jelas aku tahu kalau tak bisa bila kau menghilang dariku, karena hati ini sudah mulai merasa nyaman ketika dekat dengan dirimu. Kita sepakat untuk bersama kembali, dan aku mencoba untuk yakin dengan pilihan ini. Sambil tetap aku menyelipkan namamu dalam percakapanku dengan-Nya.

Advertisement

Menyelipkan namanya adalah caraku untuk dapat jawaban dari keraguan hati ini. Bukankah baik jika kita ragu lalu kita mencoba yakin dengan do'a. Karena masalah hati kini aku mencoba menyerahkan kepada pemilik hati yang sesungguhnya.

Tak lama stelah kita mencoba untuk bersama kembali, kau kembali memili untuk menjauh untuk berapa waktu dariku. Jujur hati ini sakit, aku bukan halte yang dengan enaknya kau datangin lalu kau pergi lagi ketika kau tak yakin. Sudahku bilang hati ini pernah hancur, jangan seenaknya kau datang dan pergi. Kau bilang sikapmu seperti ini karena aku yang seperti bermain-main denganmu. Bukankah sekarang yang bermain-main adalah dirimu?

Kau datang dengan kata "Kangen" lalu pergi kembali, kalau seperti ini siapa yang sedang bermain-main?.

Kini dalam sujudku bukan lagi mengenai hubungan kita, tapi kini aku menyampaikan "Apakah benar kau jawaban dari setiap do'a ku? Lalu apakah ini proses yang dibuat pemilik hati ini untuk membolak-balikkan hati ini? Bukankah sudah kau tahu bahwa aku baru sembuh dari remuk hati? Lalu mengapa kau seperti datang padaku hanya untuk membuat hati ini seperti pintu yang tertiup angin.

Kini biarkan aku tetap dengan doa – doa yang aku serahkan jawabannya kepada pemiliki hati yang sesungguhnya. Lalu sekarang jangan kau pertanyakan kembali mengapa sikapku seperti acuh tak acuh dengan dirimu. Karena kau tahu bagaimana rasanya bukan?

Jika memang kita adalah jawaban dari do'a, biarkan kita dipersatukan hati dengan doa yang kita sampaikan.

Biarkan hatiku tenang dengan aku serahkan kepada pemilik hati. Aku tak ingin menitipkan hati ini kepadamu. karena aku tak tahu bagaimana jadinya jika hati ini akan terluka kembali. Kau coba mengerti kalau memang kita bukanlah jawaban dari doa yang disampaikan pada pemilik hati. Semoga dikesempatan selanjutnya doa kita bisa menjadi jawaban yang akan membawa hati ini tenang.