Aku gak akan pernah pergi, kecuali kamu yang minta.

Memilih untuk mencintai dan menjalin komitmen bersama seseorang adalah suatu keputusan besar yang pernah aku buat. Ku haturkan beribu terima kasih karena telah menjadikan aku yang pertama walau kau pun tahu bahwa kau bukan yang pertama bagiku.

Kisah perjalanan kita memang tak dimulai seperti kisah yang terkisah di cerita-cerita remaja di luar sana. Kita telah menghadapi dan melewati dukamu dan dukaku, begitu banyak masa sulit bersama. Kita telah bersama menikmati sukamu dan sukaku, begitu banyak masa indah. Kemarin, dalam kurun waktu yang tak terlalu lama kita telah menangis, tertawa, pernah bahagia bersama. Perjalanan kita terasa begitu cepat berlalu karena kita sama-sama menikmati saat dimana kita bersama.

Aku gak akan pernah pergi, kecuali kamu yang minta. Janjiku padamu. Janji yang ku buat dengan penuh pertimbangan. Janji yang ku ujar dengan penuh rasa tanggungjawab. Kau pun mengucap janji yang sama ketika menyadari bahwa hanya aku yang akan kau jadikan yang terakhir dalam hidupmu.

Tak pernah sedikitpun terbayang olehku bahwa kisah kita akan berakhir tak seperti apa yang telah kita rencanakan. Kesalahanmu yang ku anggap adalah sesuatu yang menyangkut prinsip hidup, yang juga bukan hal yang biasa bagi seseorang sepertiku, telah mengubah hidup kita berdua, telah menghukum kita berdua atas segala janji yang tak akan lagi bisa kita tepati kemudian.

Advertisement

Cinta bukan lilin di terang hari yang harus kamu padamkan, bukan pula ranjau darat yang harus kamu lenyapkan atau kubur dalam-dalam. Cinta bukan hal yang berbahaya. Ia tumbuh, (dan diakui atau tidak) ia ada. ~Anonym

Kau menegaskan bahwa kau tak mau, tak bisa dan tak akan sanggup menjalani hari-harimu tanpaku. Kau bilang kita bisa sama-sama memperbaiki kesalahan itu tanpa harus berpisah. Pun aku, inginnya begitu. Namun apa yang bisa aku lakukan ketika kau menjadi satu-satunya penyebab luka itu ada, ketika kau menjadi alasan terbesar mengapa luka itu terasa. Apa yang seharusnya aku lakukan selain memutuskan untuk berpisah denganmu?

Cinta, bukan hanya kau yang terluka atas perpisahan ini. Bukan hanya kau yang merasa belum siap atas perpisahan ini. Aku pun begitu. Nyatanya memang apa yang menurutku sulit belum tentu menurutmu juga sulit, atau mungkin sebaliknya.

Tinggi keinginanku untuk melupakan kesalahanmu, kemampuanku untuk berpisah denganmu hanya masih terbatas dan lingkunganku belum mendukung untuk kita menjalin komitmen bersama kembali.

Cinta, aku butuh waktu untuk kembali bisa meyakinkan diriku kembali dipelukanmu. Memaafkanmu adalah hal yang mudah. Memaafkanmu adalah hal pertama yang sudah aku lakukan sedari dulu. Tapi melupakan kesalahanmu adalah hal yang sangat sulit aku lakukan. Melupakan kesalahanmu adalah hal yang sulit aku hindari. Aku butuh banyak waktu untuk kembali bisa berdamai dengan masa lalu.

Aku pergi bukan karena kau yang memintanya, bukan pula karena aku telah sangat mengharapkannya. Aku pergi, karena aku yang memintanya darimu. Maafkan bila aku harus pergi tanpa seizinmu. Maaf bila sampai saat ini kau belum mengizinkan aku pergi darimu. Kaulah yang sesungguhnya telah memaksaku.

Cinta itu mungkin hanyalah suatu kebiasaan; datang tiba-tiba tanpa diundang atau pergi diam-diam tanpa menyita perhatian.

Kisah kita belum berakhir. Kisah kita akan benar-benar berakhir ketika salah satu dari kita menemui kehidupan baru kelak di akhirat sana. Cinta, bahkan bila Tuhan menggariskan takdir lain di lembar kisah kita, i’m swearing you bahwa sepanjang usiaku ini, kau adalah salah satu anugerah terindah yang pernah ku miliki. Lagi pula, ada hal yang tak kalah penting daripada hubungan kita, bukan?

Melanjutkan studi di luar negeri adalah salah satu impian terbesarmu, bukan? Terbanglah, aku tak akan menghalangi jalanmu. Melangkahlah, aku tak akan memaksamu untuk tinggal.

Kisah-kisah tentang kita selanjutnya biarlah kembali hanya menjadi teka-teki hidup yang tak akan kita ketahui seperti apa akhirnya.