Apalah arti memiliki, apalah arti cinta, apalah arti ingin, dan apalah arti sebuah kerinduan.

Tak ada yang sanggup mengerti dengan setiap rasa ini. Terkadang ada rasa cemburu, ketika melihat mereka sepasang sejoli yang bermesraan, yang saling mengucap kata cinta dan umbar kedekatan. Aku yang memutuskan untuk sendiri, aku yang memutuskan untuk mengikuti prinsipku, meyakini akan kesendirianku hingga kelak kan datang lelaki itu.

Ada rasa yang tak biasa, saat melihat lelaki itu, untuk pertama kalinya ada perasaan yang tak biasa, wajah ini serasa bersemu merah jambu, jantung ini berdetak kencang, mungkin ini yang orang katakan dengan cinta. Tapi muncul kekhawatiran dalam hati, siapa aku ini, berhak menaruh hati kepada lelaki sholeh itu? Cinta? Aku tak pantas untuk punya rasa kepadanya.

Teringat akan sebuah janji, tak akan ku jatuhkan hati kepada lelaki kecuali untuk halalku kelak, tersadar akan sebuah kata. Kita tak dapat mengatur dengan siapa kita akan jatuh cinta, dengan siapa hati ini akan bergetar mersakan cinta. Lalu salahkah perasaan ini, rasa yang tak halal ini? jatuh hati kepada lelaki sholeh itu, aku masihlah seorang wanita yang bersimbah dosa. Aku masih belum mampu untuk menjadi wanita yang baik, masih banyak kekhilafan dalam diriku.

Rasa ini teramat amat menyesakkan dan kini aku hanya bisa merayu kepada RABBku, merayuNya dalam doa senyapku.

Advertisement

Biarkan, biarakan waktu yang akan menyingkap takbir ini, biarkan meski rasa ini sesak menyakiti hati, biarakan meski kecemburuan dengan mereka meyesakkan hati, dan biarkan aku memilih cinta diam ini. Biarakan aku berjalan sendiri menyusuri dan menapaki jalan hidup ini, meski belum ada jemari yang menggenggam. Biarkan aku berharap kepada Rabbku, menantinya untuk menyibak takdirku. Akankah rasa ini kan berakhir dengan dia ataukah diganti dengan yang lebih baik dibanding dia.

Biarkan waktu yang akan menyibak semua, kamu lelaki yang membuat aku jatuh cinta, dan kini biarkan aku menjalani hidupku, menanti rahasia itu tersingkap dengan sabar.