Untukmu yang sudah hilang dari pandangan, aku yakin kini kau bahagia dengannya. Sementara aku, entah menunggu orang lain yang datang, atau menunggu kamu umtuk kembali padaku. Saat ini perasaanku terpendam, tapi aku masih ingat rasanya bahagia di dekatmu, rasanya menunggu minggu sore di rumahku, dan… rasa sedih saat aku harus melepasmu.

Awalnya, aku pernah bergurau di depan monitor. Saat itu di monitor kulihat fotomu, aku berujar dalam hati bahwa aku akan segera bisa memilikimu. Rupanya gurauanku berbuah message darimu, dan malam itu kita bercerita banyak yang kemudian diikuti hari-hari berikutnya. Sepertinya obrolan kita terlampau asyik hingga kita tak tau sejak kapan aku dan kamu bisa menjadi senyaman itu.

Setiap hari kau suguhkan hal-hal menarik yang membuat aku semakin nyaman dan akupun menjadi yakin untuk menjalani hubungan selanjutnya. Kamu memang bukan orang yang sempurna, tapi keberadaanmu hampir bisa menyempurnakan hidupku. Sekian lama kita bersama, tak terasa kamu mulai masuk ke setiap sisi hatiku yang kosong dan dengan mudahnya kamu membuat aku merasa complete.

Tapi, semakin hari, semakin aku mengenalmu, semakin aku mengerti sifatmu, aku baru sadar kalau kamu adalah sosok yang tidak sepenuhnya seperti apa yang aku fikirkan. Namun, semakin aku tau kekurangan-kekuranganmu, aku semakin tak bisa mengurangi rasa sayang yang sudah terlanjur hadir sebelumnya. Rupanya sifat-sifat negatif tentangmu membuatku tertantang untuk menaklukannya.

Sampai aku terbawa ke permainan yang mungkin pernah kau lakukan sebelumnya dengan orang yang berbeda. Ya, kamu memang pintar sekali membuatku penasaran. Semakin aku tau tentangmu, semakin aku ingin tau lebih termasuk teman perempuanmu dan perempuan-perempuan lain yang pernah bersamamu.

Advertisement

Kalau ini adalah benar-benar sebuah game, maka aku adalah pemain yang kecanduan untuk mencoba challenges yang kamu buat di game itu. Aku terbawa semakin jauh, dan anggap saja ini adalah kebodohanku karena mengikuti alur permainanmu.

Saat itu aku hanya mengerti untuk mencintaimu dengan caraku. Ternyata strategiku ini menghasilkan hal buruk pada hubungan kita. Aku semakin tidak bisa mengontrol emosiku, kamu pun semakin tega mengacuhkanku hingga pada puncaknya saat itu kita saling terdiam dalam kerinduan. Saat itu kamu masih menyangiku dan akupun tak kalah darimu.

Akhirnya, aku (meng)kalah lagi dalam permainan ini. Aku yang lebih dulu menyapamu berharap setelah ini masalah akan segera clear. Tapi ternyata tak mudah me-restart hubungan kita kembali ke awal lagi.

Sejak kau sering mengacuhkanku dan aku semakin merasa semuanya tak adil bagiku, aku menjadi terbiasa meneteskan air mata, lebih disayangkan lagi bahwa air mata yang sebelumnya tak pernah bisa jatuh di depan orang lain ini menetes di depanmu.

Apakah kamu merasa bersalah saat itu? atau apakah kau menganggapku tak lebih dari seorang perempuan yang lemah, yang menjual air mata untuk mendapatkan sejumlah simpati?. Sesungguhnya aku bukan perempuan yang seperti itu. Aku bisa sangat bahagia apabila kau tersenyum, tapi apabila aku tersakiti sedikit saja karenamu, aku akan sangat amat sedih. Tidakkah kau tau itu?.

Karena kamu adalah salah satu sumber kebahagiaanku yang terbesar, maka akan sangat menyakitkan apabila kamu menjatuhkan sebuah duri kecil di tanganku.

Walaupun saat itu kau mulai sering menyakiti, keteguhanku untuk mempertahankanmu masih belum runtuh hingga saat kau melukaiku untuk hal yang lainnya. Kali ini sangat mengecewakan hingga tumpahlah lagi air mata ini di depanmu. Namun untuk kesekian kalinya ku katakan, aku bukan perempuan yang menjual air mata untuk meraih simpatimu, apalagi untuk membuatmu merasa bersalah.

Air mata itu tak tertahan lagi saat aku melihat sepenggal percakapanmu dengan dia yang kamu anggap teman itu. Sesaat aku tak bisa meneruskannya, aku berupaya sekuat hati untuk menahan emosiku, untuk menahan rasa sakitnya. Namun, rasa sayangku lah yang membuatku tak bisa menahan semuanya hingga akhirnya air mata itu menetes dengan sendirinya.

Aku tak berhasil memendung kesedihan itu, aku tak sanggup untuk menahannya, sungguh aku tak bisa. Pada saat itu aku melihat kau seperti bingung harus berbuat apa, akupun sama. Aku bingung harus bersikap bagaimana sementaa aku tidak bisa marah terhadapmu, aku hanya diam saat kau ucapkan maaf kepadaku. Itu adalah kesedihan yang paling aku ingat dan masih bisa kurasakan sakitnya hingga kini. Kau mungkin merasa itu hanya sekedar percakapan, namun aku tegaskan padamu…

Kamu adalah seseorang yang aku sayang tanpa bisa aku jelaskan alasannya. Itu sebabnya, aku akan sangat terluka apabila kau melakukan sedikit saja hal yang salah terhadapku.

Mungkin kita tak ditakdirkan untuk bersama sehingga aku memutuskan untuk menyudahi semuanya, aku harus mulai belajar melupakanmu, mengikhlaskanmu, dan mulai hidup baru tanpa ucapan-ucapan manismu yang biasa menemani hari-hariku.

Aku tau ini tak kan mudah, tapi aku mengambil keputusan untuk menghilangkan rasa sayangku secara bertahap, agar kau tak lagi merasa berdosa karena membuatku menjadi lebih sering MENANGIS. Bialah saja aku yang menyakiti diriku sendiri dengan keputusanku ini.

Mungkin sekarang aku mengerti ungkapan kalau cinta tak harus memiliki, karena percuma kita saling cinta dan memiliki, apabila kita masih saling menyakiti. Lebih baik cinta ini kusimpan untuk insan yang lebih baik disaat yang lebih tepat.