Surat ini kutulis kala usiaku sudah bisa dikatakan hampir dewasa, di usia yang sudah berkepala dua di depannya. Hidup dalam masa dua dekade tentunya itu waktu yang tidak sebentar. Bagi sebagian orang, menyebutkan bahwa di usia ini aku sudah bisa dikatakan mandiri secara finansial karena aku bukan lagi anak yang masih meminta bantuan dari orangtua kecuali perhatian dan kasih sayang.

Nah menjalani hari-hari selama dua dekade, mulai dari pikiran yang hanya tau bagaimana cara agar pekerjaan rumah untuk besok sekolah bisa selesai, sampai saat ini pekerjaan kantorlah yang harus selesai. Itu tidak lama bukan? waktunya bertahun-tahun, dan tak bisa terhitung detiknya.

Teruntuk hal yang aku panggil masa lalu, hai kamu yang sudah membuat aku menjadi aku yang saat ini, sebelumnya aku ingin berucap terima kasih karenamu, aku bisa mandiri dan sedikit dewasa seperti saat ini, namun aku pun minta maaf tidak bisa membuatmu menjadi kenangan yang baik untuk aku kenang.

Aku banyak menorehkan luka hitam di tubuhmu, aku banyak menumpahkan tinta hitam di kertasmu, dan aku banyak mencabik paksa di kainmu. Sehingga bila kini luarku terlihat sempurna tapi aku tetap tidak bisa menyembunyikan kamu masa laluku.

Bayangmu selalu menghantui perjalanku, bukan aku ingin menambah tinta hitam di kertasmu lagi, tapi terkadang aku ingin saja hilang ingatan agar aku tidak ingat betapa kejamnya aku merusakmu. Sebagimana pun aku hapus kertasmu hal itu tetap saja membekas dan tampak semakin jelas, menggingatmu kadang menggoyahkan lututku yang sudah berkali-kali patah, saat orang berucap tentangmu bila orang lain bertanya aku serasa aku memakai selembar kain polos didepannya namun tercabik cabik di bagian belakangnya.

Advertisement

duhai kamu masa lalu ku, kadang aku memohon dan berfikir bisakah kita berdamai untuk masa depan kita? bisakah kamu aku jadikan hanya sebagai cermin agar aku tidak lagi melakukan kesalahan yang sama?

Sanggupkah aku membuatmu bahagia di suatu masa? kala ada suatu kertas pelangi yang mau menambah coraknya dengan kehadiran kertas hitam sepertimu! Kamu yang tidak lain adalah masa laluku dan itu adalah aku!

duhai masa lalu bisa kah kita berjalan seiring saling berpegang tanpa merubah hal di masa depan menjadi sama buruk dan kelamnya seperti kita? semoga suatu waktu aku bisa berdamai dengan mu dan aku bisa berdiri kembli walau kaki ku patah!