Media promosi dalam memasarkan sebuah film memang menjadi unsur yang sangat penting. Bahkan tak jarang, media promosi menjadi penentu laku tidaknya film tersebut di pasaran. Meski tidak berbicara tentang angka penjualan, di wilayah sidestream pun media promosi menjadi penting guna mempertemukan film dengan penontonnya. Namun keputusan seseorang untuk menonton sebuah film, nyatanya tidak melulu ditentukan oleh media promosi yang telah di rancang.

Seperti kecenderungan yang saya alami akhir-akhir ini. Ya, entah mengapa, keputusan untuk menetapkan film yang akan saya tonton terkadang justru berdasarkan perihal sepele. Seperti kultwit, caption Instagram, maupun foto Facebook yang diunggah si moviemaker. Bahkan, untuk postingan yang tidak berkaitan dengan film yang sedang atau akan digarapnya sekalipun.

Adanya kecenderungan demikian, entah dirasakan oleh semua orang atau tidak, namun yang jelas hal tersebut sangat terasa bagi saya. Semenjak mengerjakan Cahaya dari Timur kemudian dilanjutkan dengan Filosofi Kopi, Surat dari Praha dan Buka'an 8 ini, selalu ketertarikan saya dimulai dari hal-hal sepele yang saya sebutkan di atas tadi. Saya termasuk orang yang cukup rajin menyambangi dan menelusuri jejak-jejak para moviemaker di sosial media.

Keseharian mereka sebagain menarik untuk diikuti. Baik yang remeh-temeh maupun yang serius, berat, dan keras. Ya, beberapa sutradara Indonesia memang terkenal “cerewet” di medsos, khususnya berkaitan persoalan sosial dan politik. Salah satunya adalah Angga Dwimas Sasongko, dalam akun Instagramnya Angga pernah memposting foto Rio Dewanto yang mengenakan caping dengan membawa kertas bertuliskan “TOLAK PENGGUSURAN LAHAN PETANI” dengan tagar #SavePetaniMekarJaya dan #SavePetaniSukaMulya.

Dalam postingan lain pun, Angga sesekali merespon perpolitikan yang terjadi di negara ini yang sempat memanas. Tentu masih banyak kritik dan aspirasinya yang ia tuangkan melalui berbagai akun media sosialnya. Dari hal-hal yang nampak sepele itulah, yang membuat orang-orang seperti saya justru memiliki sikap untuk memutuskan menonton filmnya.

Advertisement

Pada 23 Februari 2017, film terbaru Angga berjudul Buka'an 8 diputar serempak di bioskop tanah air. Film Buka'an 8 bercerita tentang perjuangan Alam (Chicco Jerikho), yang mengurusi persalinan perdana istrinya Mia (Lala Karmela). Semua berjalan lancar, sampai masalah muncul dari kesalahan Alam melihat tanggal berlaku promo rumah sakit tempat Mia akan melahirkan.

Masalah demi masalah muncul, seolah semesta berkonspirasi melawan segala usaha yang Alam lakukan. Beban Alam semakin bertambah lantaran kehadiran mertuanya, yang sejak sebelum menikah selalu memandangnya sebelah mata. Maklum, Alam dalam film ini digambarkan sebagai pria idealis, namun ugal-ugalan. Ia lebih sering menghabiskan waktunya di medsos ketimbang mencari kerja. Mengkritik sana sini, bahkan tak jarang terlibat twitwar dengan selebtwit lainnya.

Tak hanya sekadar drama komedi

Film Buka'an 8 merupakan film dengan genre drama komedi. Genre yang sebelumnya tak nampak dari beberapa film garapan Angga sebelumnya. Meski menggarap film komedi, apa yang saya singgung di awal sepertinya tidak lepas dari Buka'an 8. Apa yang menjadi prinsip dan keberpihakan Angga pun terasa dalam Buka'an 8.

Siapa bilang film komedi harus dangkal dan kosong makna. Angga dalam Buka'an 8 menyuguhkan drama komedi yang tidak hanya sekadar menawarkan haru dan tawa, namun film ini juga syarat akan sindiran dan kritik. Memasukkan sebuah pesan dalam film komedi memang terkadang berisiko, apalagi sang penulis skenario dan sutradara tak mampu merajutnya menjadi satu kesatuan yang selaras.

Sudah terlalu banyak film Indonesia, khususnya komedi yang hanya sekadar tempel pesan. Dalam banyak kasus, pesan-pesan dalam film komedi Indonesia seolah hanya sebagai pelengkap, “Biar ada pesan moralnya”. Tidak ada yang salah dengan hal itu, namun yang menjadi celaka adalah cara penyampaian pesan tersebut. Tak jarang, pesan di film-film Indonesia dibawakan oleh tokoh-tokoh protagonis yang dianggap suci nan agung. Hitam dan putih dalam film Indonesia masih sangat terasa, termasuk dalam film komedi Indonesia.

Mungkin yang paling saya ingat adalah film garapan Upi, My Stupid Boss. Film komedi yang sejak awal sampai menjelang akhir bukan hanya lucu, namun juga menampilkan karakter-karakter yang unik dan capaian artistik yang menyegarkan mata. Sayangnya, di akhir film penyelesaian atas konflik yang dibangun di awal, di selesaikan dengan menghajar logika penontonnya. Namanya dihajar, tentu sakit rasanya. (Spoiler Alert!) Tokoh Bossman (Reza Rahadian) yang sedari awal dicitrakan super menyebalkan, bahkan nyaris sinting, tiba-tiba berubah karakter menjadi baik dan melankolis setelah berkunjung ke panti asuhan.

Tentu masih ada lagi film-film Indonesia yang demikian. Bahkan dalam Buka'an 8 pun nuansa demikian masih sedikit terasa, bagian Alam dengan terpaksa menerima tawaran mandor kontraktor. Ah, itu sedikit dipaksakan menurut saya. Tapi, setidaknya logika saya masih bisa menerima, tidak terlalu keraslah benturannya.

Keberanian untuk berpihak

Tidak banyak public figure yang mau menentukan sikap atas sebuah masalah. Entah tidak tahu, tidak paham atau memang tidak peduli dengan masalah yang terjadi. Hanya segelintir saja public figure yang berani berpihak. Salah satunya bagi saya Angga, meski belum semua filmnya saya tonton tapi keberpihakan Angga pun terlihat dari sikapnya keseharian.

Di negara ini, memilih untuk berpihak memang nyaris tidak mendatangkan keuntungan, yang ada ditinggal penggemar, popularitas menurun, job berkurang, bahkan pada tataran yang cukup ekstrem kehidupan pribadi menjadi taruhannya. Tentu saja pernyataan ini sangat relatif, mengingat batasan atau tolak ukur keberpihakan terkadang berbeda bagi setiap orang. Bahkan, beberapa orang masih beranggapan bahwa mereka yang ada di industri apapun itu, nyaris mustahil untuk tetap menjaga idealisme dan tegas menentukan keberpihakannya. Tapi bagi saya, sutradara yang berani berpihak adalah sutradara yang lantang suaranya dimanapun ia berada, meskipun terkadang suara lantangnya tersebut harus samar karena “kompromi” atas industri.

Dalam Buka'an 8, saya masih merasa adanya keberpihakan itu, Angga menggambarkan melalui tokoh Alam, bahwa betapa sulitnya menjaga idealisme di belantara Indonesia ini. Dalam Buka'an 8, Alam diceritakan memiliki usaha sebagai blogger idealis dan pemilik percetakan independen. Masalah finansial tentu menjadi konflik utama bagi tipe-tipe orang dengan pekerjaan seperti itu. Serta sudah bisa ditebak sebenarnya, benturan paling seksi bagi orang-orang seperti Alam, tentunya adalah iming-iming dari partai politik. Meski disampaikan dengan banyak candaan di sana sini, namun bagi saya apa yang dialami Alam nyata adanya. Merawat idealisme di negara ini memang butuh kesabaran dan keberanian ekstra.

Selain persoalan idealisme, Angga juga membawa isu lain yaitu media sosial dan keluarga. Tidak mudah menggabungkan beberapa isu besar menjadi satu kesatuan cerita tanpa terlihat tambal sulamnya. Salman Aristo sebagai penulis skenario, tentu menjadi orang yang patut mendapat apresiasi. Pengalaman menangani film-film Box Office dan film-film Piala Citra tentu menjadi modal besar bagi Salman. Gaduh di media sosial ternyata bukan hanya menjadi perhatian pemerintah terkait maraknya berita hoax. Namun bagi Salman, penting kiranya masalah ini diangkat kepermukaan.

Bukan hanya menyentil mereka yang candu akan media sosial, di luar itu Salman juga menyelipkan sindiran bagi mereka yang gemar menggunakan mimbar dan mic masjid sebagai media penyebar kebencian serta promosi partai. Hal tersebut ditampilkan dalam adegan Alam yang tiba-tiba melakukan interupsi di tengah khotbah Jum’at. Meski demikian, nyatanya apa yang dilakukan Alam bukannya mendapat dukungan jamaah, namun justru diusir keluar masjid. Dari adegan tersebut cukup menggambarkan bahwa Angga dan Salman bersepakat, bahwa cara penyampaian sama pentingnya dengan pesan yang akan disampaikan, dan saya pun sepakat atas itu.

Transisi yang kasar

Secara keseluruhan, saya mengakui bahwa film yang diproduseri langsung oleh Chicco Jerikho ini menghibur. Tidak ada logika saya yang terbentur secara keras, seperti film-film Indonesia sebelumnya, namun saya masih merasakan adanya transisi yang kasar dari film ini. Khususnya pada transisi emosi dan dialog. Misalnya adegan dokter Ruli (Maruli Tampubolon) yang tanpa ada motivasi kuat, tiba-tiba berceramah di lift saat berpapasan dengan Alam.

Akting Chicco dalam Buka'an 8 ini pun entah mengapa terlihat kurang maksimal. Ada beberapa adegan, di mana emosi Chicco tidak konsisten dengan emosinya di adegan sebelumnya. Termasuk beberapa adegan yang mengharuskan ia untuk sedih dan tertekan, namun tidak sampai. Apabila membandingkannya dengan film sebelumnya yang disutradarai oleh Joko Anwar, A Copy of My Mind akting Chicco jauh lebih baik. Satu hal lagi yang mengganggu dalam film ini adalah pencahayaannya yang begitu rendah, khususnya adegan-adegan di dalam ruangan.

Yah, terlepas dari kekurangan itu semua, Buka'an 8 menurut saya merupakan salah satu film drama komedi yang patut ditonton. Bukan hanya menghibur, film ini penting untuk menjadi bahan refleksi kita semua. Khususnya mereka yang candu dengan media sosial, mereka yang masih merawat idealisme, dan mereka yang mau menjadi calon bapak.