Ini, pertama kali kutulis untukmu sebuah catatan, sebab aku menduga berduka sebelumnya.
Ini juga, terakhir kali kutulis untukmu sebuah catatan, sebab aku berharap lesap setelahnya.

Tidak akan kujelaskan lebih jelas segala titik pijakan cerita yang pada titik awal, kita telah sepakat menarik garis penghubung ke titik pijakan cerita selanjutnya, tentang kita, tentunya. Aku menerka, mungkin sekarang sudah menyerupai jaring laba-laba setengah jadi, lalu ditinggal oleh sang laba-laba pemilik, terbengkalai, dan biarlah seperti itu.

Aku akan bercerita perihal catatanmu saja, yang terakhir kubaca hari ini. Air mataku merelakan dirinya luruh sekali lagi, tapi tidak di depanmu tentunya. Aku percaya kau bisa mengingat dengan jelas singkat segala pertemuan kita, aku tidak pernah sekali pun mengizinkanmu melihat air mataku. Air mataku menjelma tangis bukan mengatasnamakan kesedihan, tapi lebih besar kepada rasa bersalah, penyesalan dan permohonan maaf teruntuk tangan yang sejak lama dan terus tergenggam di kirimu, perempuanmu yang kau sebut kekasih.

Aku menemukan betapa kita salah menyebut kedekatan kita dengan jatuh cinta. Aku tak lagi paham dan tak lagi ingin paham, apa kata yang bisa mewakili kedekatan kita. Jelasnya, aku berberat hati menamainya jatuh cinta. Meski, pernah kita akui segala keberadaan cinta. Iya, aku mengingatnya dengan sangat kuat, dengan debar yang lebih, tapi meminta segera berhenti.

Demi segala jatuh cintaku, aku berhenti di titik ini.