Rencana ke Bali bermula saat sebuah maskapai penerbangan low-cost sedang memberikan promo besar-besaran. Pergi ke Bali seharga goceng. Whaaaat??! Bandung ke Bali goceng??! Yak. Walaupun sebenarnya nggak goceng juga, sih. Karena dengan berbagai biaya yang harus dibayar, jadi total harga pergi dari Bandung – Bali PP adalah Rp 95.000. Cepek kembalian goceng! Tapi, keberangkatannya tahun depan dan aku belum tau bakal pergi dengan siapa. But, I don't care, yang penting pegang tiket dulu aja.

Setelah pegang tiket, timbul pertanyaan. Pergi sama siapa, ya? Aku iseng aja ngepost di sebuah forum traveling, siapa tau ada yang pergi ke Bali dengan tanggal yang sama. Ternyata ada yang merespon! Kami sepakat buat thread lanjutan untuk mencari 6 orang lagi untuk ngetrip bareng ke Bali. Kemudian, dapatlah 6 orang tersebut dan kita siap untuk explore Bali bareng!

Yah, walaupun aku enggak kenal mereka dan belum pernah ketemu. Karena ini pertama kalinya aku ngetrip dengan strangers, so I think this trip is gonna be fun!

Perjalanan Dimulai!

Sepulang ngampus aku langsung pergi ke bandara Husein. Sendirian. Begitupun saat nungguin teman-teman strangers di bandara Denpasar juga sendirian dan harus menunggu lama banget, sekitar 8 jam. Sembari menanti, aku iseng ikutan nimbrung dengan orang yang duduk disamping aku, padahal nggak kenal, dan ternyata obrolan kita nyambung dan asyik sehingga nggak terasa akhirnya teman-teman strangers aku tiba di bandara. Rasa deg-degan saat memulai pertemuan, seperti deg-degan saat bertemu gebetan. Surprisingly, mereka orangnya santai dan nggak kaku! Bakal seru, nih, tripnya!

Untuk itinerary semua sudah diatur oleh Kiki. Termasuk kita bakal nginep dimana dan pergi menggunakan kendaraan apa selama trip. Ternyata, penginapannya gratis dan kendaraan tinggal sewa ke pemilik penginapannya dengan harga yang nggak begitu mahal.

Advertisement

Malam pertama di Bali nggak begitu gimana-gimana. Hanya mengisi perut dipinggiran Kuta (dan di friend chicken resto yang ada di seluruh muka bumi. Well…) dan berkenalan dengan mereka. Rupa-rupa, deh, pokoknya. Ada sepasang saudara Cici dan Koko yang bawaannya koper ukuran medium, ada dua mahasiswa yang bawaannya full-pack carrier yang udah kayak mau naik gunung, ada cowok macam business man yang bawa laptop dengan tas laptop ditenteng, seorang cowok dengan bawaan daypack dan pertama kalinya dia backpacking, dan satu lagi si Kiki yang sepertinya sudah paham betul kemana aja destinasi kita selama di Bali.

Selama beberapa hari, keadaan semakin stabil dan menyenangkan!

Hari kedua, kita menyewa mobil menuju Pura Taman Ayun, Kebun Raya Bali, Danau Beratan, dan Tanah Lot. Sempat kesasar sampai kelaparan karena blusukan ke jalanan sepi. Kita melewati sebuah warung sate dan berhenti. Penonton pada kecewa karena ternyata sate yang dijual adalah sate babi dan anjing. Yak, kita nggak bisa makan itu karena ada yang Muslim, dan aku pun Muslim. Lanjut perjalanan dan pada akhirnya menemukan warung yang halal. Yes! Perut kenyang, hati senang! Kita pun kemudian meluncur ke Tanah Lot sebagai penutup hari ini.

Hari ketiga destinasinya adalah Tanjung Benoa dan Pantai Pandawa. Di Tanjung Benoa beberapa dari kita melakukan permainan pantai, seperti jetski sampai diving untuk wisatawan. Tapi, aku dan beberapa lainnya hanya santai-santai aja di tempat makan karena personally aku kurang tertarik mainan begitu, sih (hehe). Setelah pada puas bermain, melanjutkan perjalanan ke Pantai Pandawa. Setelah perjalanan seharian ini, Kiki memutuskan untuk memasukkan itinerary ke Lombok selama satu hari (yaitu besok!). Dan berbagai perbincangan, kita pun okey.

Destinasi Bonus: Lombok!

Subuh hari kita menuju Pelabuhan Padang Bai untuk menyebrang ke Pelabuhan Lembar. Nah, sebenarnya klimaksnya ngetrip dengan mereka ada di perjalanan Lombok, nih!

Destinasi awal kita menuju Gili-Gili di Sekotong. Karena waktu yang sangat singkat, cuma sehari, kita pergi ke Sekotong aja. Nggak ke destinasi hits macam Gili Trawangan. Seharian kita full berkeliling di sekitar Gili Sudak, dan Gili terdekat lainnya. Ini pertama kalinya aku pergi ke Lombok dan, YES! Pantai di Lombok keren banget!

Malam pun tiba dan kita semua makan bareng di sebuah tempat makan (satu-satunya!) di Gili Sudak. Kita ngobrol panjang lebar yang berujung dengan sedikit pertikaian hanya karena masalah umur. Seriously? Selain itu, ada salah seorang dari kita juga ternyata pakai nama samaran karena masih takut jalan sama orang tak dikenal. Intinya, malam kejujuran, deh. Hahaha. Terus, malam ini bakal tinggal dimana, nih? Kita diajak oleh Kiki menuju ke sebuah cottage. Iya, kita tidur di cottage. Not litteraly inside the cottage, tapi di terasnya! Kita pun semalaman kedinginan dan gatal karena nyamuk. But, wait. Kita? Kebetulan aku bawa sleeping bag, jadi aku sih nggak kedinginan dan nggak gatal-gatal. Hahaha.

Besoknya kita menyempatkan makan Ayam Taliwang di Kota Mataram. Sebagai makanan khas, kita harus nyobain. Setelah puas, kita melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Bali. Tapi, ternyata Kiki pengen banget ke Pantai Mawun. Menurutnya, waktu masih cukup untuk mengejar pesawat pulang. Kita semua nggak setuju karena emang pengen liburan di Bali, sih. Selain itu terlalu mepet waktunya. Dia memutuskan untuk berpisah, dan kita pun kembali ke Pelabuhan Lembar. Perdebatan itu lah yang membuat dia kemudian menjadi group enemy.

Saat di Pelabuhan Lembar dan mengembalikan motor sewaan, tiba-tiba Kiki menyusul dengan Koko. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Bali. Karena udah pada kesel, jadinya sepanjang jalan diam-diaman. Hahaha. Sampai di Bali pun dia memisahkan diri dari grup dan pergi entah kemana. Sisanya, kita berlima, nginap di Poppies Lane karena lokasinya yang strategis.

Dan handphone-pun hilang…

Semalaman, aku bersama dua teman strangers ini pergi jalan-jalan mencari angin ke Pantai Kuta. Jalanan sudah mulai sepi. Orang-orang yang berpesta sudah jalan sempoyongan. Kita menuju ke sebuah mini market untuk membeli minuman dan cemilan. Disaat mereka beli beer, aku hanya bisa minum bear susu. Setelah belanja, kita duduk-duduk di pinggir pantai. Suasana remang-remang karena ada lampu yang menyinari gelapnya malam. Kita ngobrol dan bercerita. Setelah beberapa lama, kita kembali ke hotel.

Di hotel aku mau menaruh HP ke meja. Setelah tas diubek ternyata nggak ada! Aku dan teman sekamar kembali ke pantai untuk mencari HP. Nggak ketemu. Dicari dimana-mana nggak ada. Yak, HP-ku hilang. Untungnya aku bawa tab dan mencoba menghubungi HP-ku. Tapi, nggak nyala. HP-ku pun lenyap…

Hari terakhir, aku bersama seorang teman stranger menyewa sebuah motor untuk dipakai jalan-jalan seharian di hari terakhir di Bali. Kita udah berpisah dengan rombongan lain yang mau menghabiskan waktunya sebelum kembali ke kota masing-masing. Destinasi kita berdua ke Joger dan ke sebuah tempat penjualan oleh-oleh. Saat melihat baju di sebuah toko, nggak sengaja aku menginjak Canang yang punya toko. Aku panik karena itu kan untuk ibadah umat Hindu. Yang punya toko pun datang dan hanya tersenyum. Maaf ya, bu…

Untuk penutup hari, kita menuju Pantai Kuta untuk melihat senja. Karena cuaca cerah dan panas banget, kita tiduran sambil pegangin payung. Sedangkan yang lain santai berjemur. Tapi, kita cuek aja. Hahaha. Senja pun tiba dan hari mulai gelap. Aku diantar oleh temanku ini ke bandara. Di bandara aku harus menunggu beberapa jam karena penerbangan tengah malam, dan delay lagi. Di waiting room aku berpikir, "udah mah handphone ilang, ini nyampe Bandung gimana baliknya deh ke kosan tengah malem?".

Naik Taksi VS Bis Damri

Sampai bandara Husein, aku langsung mendatangi bagian taksi dan bertanya tarif dari bandara menuju kosan di Jatinangor, dan tarifnya adalah Rp 150.000,-. Untuk aku yang hanyalah anak kos-kosan, harga segitu lumayan banget untuk makan beberapa hari! Sedangkan kalau naik Bis Damri hanya Rp 7.000,- aja. Aku memutuskan untuk nginap aja di bandara sambil nunggu pagi hari. Iya, aku lebih milih hemat naik Bis Damri daripada taksi. Yaaa, udah tekor juga, sih. Mulailah pencarian lapak goleran yang berakhir di musholla yang letaknya terpisah dari bandara. Agak deg-degan karena aku sendirian dan yang jaga laki-laki, walaupun dia tidur di ruangan lain. Tapi, kekhawatiran hilang karena ketiduran. Banyak nyamuk juga, jadi nggak begitu nyenyak. Ah, yang penting aku survive dan bisa kembali ke kosan.

Dari Strangers Jadi Teman!

Selain berlibur, aku mendapatkan banyak hal terutama pengalaman trip dengan orang-orang yang belum aku kenal sebelumnya. Mereka asik! Walaupun berujung agak tragis. Tapi, sampai sekarang kita masih menjalin komunikasi melalui media sosial. Berjalan dengan orang-orang yang belum dikenal, memaksa aku untuk lebih banyak berinteraksi dan tetap berhati-hati. Tapi, bukan berarti harus mencurigai satu sama lain. Karena pada dasarnya berjalan dengan orang-orang yang belum dikenal itu, membuat kita mendapatkan banyak teman di berbagai daerah! Yang penting setelah perjalanan, tali silaturahmi harus tetap dijaga. Karena siapa tau, suatu saat akan dipertemukan lagi.

Jalinlah silaturahmi dengan sebanyak-banyaknya orang dan Insya Allah rejeki pun akan semakin berlimpah! Aamin!