Pernahkah engkau mendengar kisah cinta terindah?

Sepasang anak Adam dan Hawa saling mencinta, tapi keduanya memilih untuk diam dan menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Ya, mereka adalah Ali dan Fatimah. Kisah cinta yang begitu mendunia, berbalutkan kasih sayang dan iman yang terus mereka genggam. Tak peduli seberapa besar hasrat keduanya untuk bersama, mereka berdiam dan menjaga kesucian perasaan.

Sang pemuda pun pernah patah hati dalam diamnya mengetahui Fatimah sang pujaan hati dipinang oleh lelaki lain. Bukan lelaki biasa, melainkan beberapa lelaki yang penuh dengan keutamaan. Mereka adalah lelaki terkemuka, lebih unggul darinya baik kekuasaan dan juga harta.

Apa yang dilakukan Ali? Dia tidak lantas marah, menghujat dan berburuk sangka pada Penciptanya. Rencana Yang Maha Kuasa tersembunyi dibalik kesedihan hati dan hancurnya perasaan. Allah menghadiahi kesabarannya dengan menjadikan wanita impian menjadi miliknya.

Sungguh, sepotong kisah yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Bukan kisah penuh drama yang kini sering kita saksikan, melainkan kisah penuh perjuangan demi terwujudnya cinta yang halal. Yang menjadi pertanyaan adalah, akankah kisah ini terulang di masa sekarang? Mari berbaik sangka.

Advertisement

Mujahid cinta yang sesungguhnya adalah mereka yang mampu menahan hasrat dalam dada dan tidak menampakkannya sebelum waktunya.

Ketika engkau mencintai seseorang dan belum memiliki kemampuan untuk bersanding dengannya, cintailah ia dalam diammu. Sebagaimana Ali yang memendam perasaan cintanya sejak remaja, begitulah seharusnya kita memperlakukan cinta yang dianugerahkan kepada kita. Jagalah kesuciannya, peliharalah fitrahnya. Mengungkapkan perasaan cinta kepada seseorang yang engkau cintai terkadang sulit, tapi memendamnya membutuhkan perjuangan yang jauh lebih besar. Bersabarlah wahai pejuang cinta, karena diam dan doamu adalah benih-benih kebahagiaan yang akan tumbuh menjadi buah terlezat untuk kau nikmati kelak.

Diam sama sekali tidak menandakan bahwa engkau adalah pengecut. Mereka yang berdiam diri dan menanti bukanlah orang-orang lemah yang tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaan. Justru, mereka adalah pejuang cinta sesungguhnya yang senantiasa menahan hasrat dalam dada. Sungguh, tidaklah membanggakan mereka yang berani mengungkapkan perasaan hanya untuk kebahagiaan semu, menikmati sesuatu yang tidak seharusnya mereka miliki. Mengumbar hawa nafsu atas nama cinta, menguntai rasa tanpa ikatan halal yang mengukuhkan mereka.

Apakah mereka berbahagia bergelimang dalam kubangan dosa? Apakah mereka yang menjalin hubungan tanpa sertifikasi halal tidak menyadari kesalahan yang mereka lakukan? Sesungguhnya, dosa yang berbalutkan kata-kata cinta tak ubahnya seperti duri-duri yang akan menghujam tajam kedalam hatimu, menunggu hingga hatimu sadar akan sakitnya. Untukmu pejuang cinta, bersabarlah. Selalu lekatkan dalam pikiranmu betapa hancurnya perasaan Ali, betapa besar perjuangan hati yang pernah ia lakukan, betapa banyak kesabaran yang ia korbankan dan tak lupa betapa indah kebahagiaan yang ia dapatkan. Jadikan ia sosok yang engkau teladani, agar cintamu senantiasa suci tak ternodai.