Cinta sejati tidak lahir dari persahabatan, tetapi cinta sejatilah yang melahirkan persahabatan.

Sepekan lalu, untuk kali pertama aku menjumpai seseorang yang biasanya hanya kupandang dari kejauhan. Kali itu perjumpaanku sungguh membuatku tidak bisa berkata-kata, mematung mengamati sosok yang selama ini kukagumi dalam banyak hal. Dia berdiri di depanku menjadi sosok yang begitu dekat dan nyata.

"Seems like I know you."

Aku mengetiknya dengan tombol-tombol keybord di leptopku suatu malam, ketika aku membunuh kejenuhanku disela-sela pencarian jurnal referensi untuk tugas akhirku dengan membuka akun media sosial. Namanya yang muncul di beranda menggelitikiku dengan rasa penasaran yang membuat jari-jariku gemas untuk mengirim teks padanya.

Tidak ada balasan. Dan aku lupa begitu saja bahwa pesan itu telah dan pernah kukirim.

Advertisement

Sampai handphone ku bergetar dan menampilkan notifikasi bahwa ada satu pesan masuk di akun media sosialku itu.

"Problably." Jawabnya.

Singkat. Dengan ketumpulan daya ingatku yang (lumayan) parah. Aku berusaha mengingat-ingat pesan apa itu. Prosesnya tak cukup satu atau dua menit, sampai akhirnya sorakan 'Oooooh' panjang dari neuron-neuron otakku seperti menyodoriku ingatan bahwa sebelumnya aku pernah mengiriminya pesan dan kalimat singkat yang terdiri atas satu kata itu adalah balasannya.

Aku membalasnya dengan basa-basi garing sambil berharap dia mengingatku. Teryata tidak.

Pesan itu berujung dengan "Salam Kenal."

Dan dia meminta nomor teleponku. Klasik.

Baiklah. Apa pentingnya. Aku tak cukup tertarik dengan sesuatu yang berbau media sosial.

Dia adalah seseorang yang pernah melintas diperjalananku. Hanya sepintas. Sekali mungkin, tapi aku masih ingat namanya. Dia cukup tampan waktu itu. Ya, saat dia masih berseragam putih abu-abu dan aku masih anak ingusan berumur tiga belas belas tahun kurang lebih. Berarti masa itu terhitung hampir satu dekade yang lalu.

Dan menemukannya di beranda akun media sosialku? Ah, apa hebatnya.

Belakangan ini mungkin aku terlalu sering menonton drama, sehingga ditengah masa kesendirian (baca:jomblo) yang sudah menapaki tahun ke lima ini, logikaku sedikit morat-marit. Hanya karena pesan singkat semacam itu, hampir-hampir aku berspekulasi tentang jodoh.

Perbincangan demi perbincangan berlanjut dengan saling berbalas pesan-pesan singkat. Bercerita tentang keseharian. Bercerita tentang kehidupan. Aku menikmatinya.

"Ah, jangan bilang aku mulai nyaman. Jangan bilang aku mulai tertarik pada seseorang hanya lewat udara semacam ini. Seseorang yang tidak kasat mata. Bahkan, keberadaannya saja aku tidak mengetahuinya."

Aku mengutuki diriku sendiri.

Kerena lewat langit abu-abu dan gerimis di ujung Desember aku mendapati diriku sedang menikmati 'penasaran' dan memupuknya. Aku menyadari ada sesuatu yang bukan sekedar 'ingin mengobrol' ketika kami bercakap-cakap larut malam lewat telepon.

"Ada yang mulai tak beres." Pikirku.

Sampai suatu hari seorang sahabat, yang cenderung seperti kakak perempuan, datang menginap di kamar kost ku untuk melepas rindu.

Malam itu kami berkelakar tentang cinta. Harusnya bebicara tentang cinta, akan melahirkan nuansa melankolis dan romantis. Tapi lain halnya ketika yang membicarakan cinta adalah seorang feminis macam dia. Segala sesuatu yang dituturkannya akan selalu terdengar logis dan rasional, bahkan tentang cinta sekalipun.

"Dek, sudah saatnya lho kamu belajar olah rasa." Tuturnya sambil menyecap secangkir teh hangat.

Aku yang tadinya tidak ingin menggubris, sejenak kemudian terpancing juga dalam obrolan cinta-cintaan yang dia umpankan itu.

"Jangan sampai kamu terlalu nyaman dengan kesendirianmu. Ini tahun ke limamu lho."

Tuturnya hampir sama persis seperti ketika mengingatkanku untuk segera merampungkan tugas akhirku. Berarti ini penting. Tapi aku memutuskan tetap hening.

"Kita, sebagai seorang perempuan boleh saja menjadi perempuan yang tangguh, mandiri, cerdas tapi bukan sekedar itu yang membuat perempuan menjadi perempuan sejati. Kita tetap harus ingat kodrat sebagai seorang perempuan adalah untuk memperlengkapi. Sehebat apapun kita sebagai perempuan tetap membutuhkan seorang laki-laki. Mulalailah belajar mengenal laki-laki."

Aku menghela nafas ketika arah obrolan monolog kami ini sudah jelas kemana tujuannya.

"Ah, aku masih merasa nyaman sendiri, Mbak. Mungkin karena sudah terlalu terbiasa. Ketika nanti masanya tiba juga aku akan memilih dengan sendirinya."

"Lho, justu itu yang berbahaya, kenyamananmu itu."

Potongnya dengan tegas.

"Itu karena kamu terbiasa apa-apa sendiri, mandiri, dan dengan atau tanpa laki-laki disisimu sebagai pasangan hidup kamu merasa baik-baik saja. Ya, kalau memang keputusanmu akan hidup selibat, itu bukan masalah. Tapi kamu kan juga ingin berkeluarga?"

"Ya, sampai sekarang belum ketemu yang cocok, Mbak." Sergahku.

"Ah, itu bukan alasan. Kecocokan itu bukan sesuatu yang bisa kita temukan, melainkan sesuatu yang harus kita bangun." Tandasnya.

"Berapa umurmu sekarang?"

"Dua dua." Jawabku, sekalipun aku tahu itu sebenarnya bukan pertanyaan, itu hanya prolog.

"Ya, kalau memang kamu ingin berkeluarga, mulailah membuka diri, mulailah belajar mengenal laki-laki. Ya memang, teman laki-lakimu banyak, tapi sejauh ini mereka adalah benar-benar teman kan? Adakah yang memandangmu sebagai perempuan?"

Aku mengingat-ingat dan menghitung dalam lima tahun terakhir ini ada beberapa laki-laki yang memiliki kedekatan khusus, atau hendak berelasi denganku… Ada, beberapa, tapi mereka kemudian pergi begitu saja karena memang hakikat 'membutuhkan dan dibutuhkan' itu penting dalam suatu hubungan. Dan mereka yang datang kemudian pergi begitu saja itu, bukan tidak mungkin adalah karena tidak menemukan 'diperlukan dan memerlukan' itu dalam diriku. Aku melihat sosok diriku yang sekarang begitu angkuh, karena merasa cukup dengan diriku sendiri.

"Pernikahan yang nantinya akan kamu jalani, bukan sekerdar pernikahan yang berlandaskan asas sama-sama cinta, jika kamu menginginkan untuk membangun keluarga seperti yang kamu inginkan. Pernikahan, membangun keluarga, bukan sekedar mengikuti arus perasaan yang menggebu-gebu, bukan sekedar membiarkan diri terbawa oleh sesuatu yang orang sebut chemistry. Jangan pernah sekalipun mengandalkan cinta pertama-tama. Pandanglah itu sebagai kebutuhan dan keutuhanmu sebagai seorang wanita adalah untuk menemukan pasangan hidup."

Aku mengingat-ingat, perjalanan kami setengah tahun yang lalu, pendakian nekat kami yang berteman badai. Semua perjalanan selalu membawa cerita, satu yang masih lekat adalah ketika obrolan kami di ketinggian ketika kami berbincang sambil menyeduh secangkir cokelat hangat sambil mendengarkan bunyi gempuran air hujan di tenda kami. Obrolan kami waktu itu juga tentang pasangan hidup dan pergumulannya dalam memilih seseorang yang akan dia sebut sebagai pasangan hidup. Yang membawanya pada seseorang yang sekarang ini sedang dia perjuangkan bersama jarak.

"Aku, juga awalnya sangsi, untuk memilih seseorang untuk berpatner menjalani hidup. Ya bukan lain karena alasannya akan sama denganmu, terlalu nyaman sendiri, dan merasa cukup dengan diri sendiri. Dan satu lagi, tidak pernah merasa cocok lalu tidak mau mencoba. Ingat, pasangan hidup bukan klon, yang harus sempurna. Tidak ada yang sempurna. Kamu masih punya kriteria? Hapus sekarang, daftar kriteriamu hanya akan mempersulit dirimu. Ya, bukan berarti kita tidak boleh mengingini seseorang dengan kriteria tertentu, kita sedang memilih pasangan hidup bukan sedang memilih sepatu di etalase. Yang perlu kita pahami, sekali lagi wanita adalah dikodratkan untuk memperlengakapi, menjadi teman hidup yang sepadan."

Berbicara soal sepadan, aku kadang merasa aneh juga dengan preferensi sahabatku ini tentang pasangan hidup. Seseorang yang sedang bersamanya saat ini menurutku tidak terlalu sepadan dengannya.

"Pemahaman tentang kesepadanan tidak dapat diukurkan oleh orang lain. Yang mengetahuinya adalah yang menjalaninya. Contohkan saja, orang cenderung tidak akan memilih sepatu sebagai kado untuk sahabatnya. Kenyamanan kaki si pemakai sepatu hal yang utama, bukan merk harga atau bahkan ukuran yang menjaminnya. Aku bisa saja mengahdiahimu sepatu sesuai dengan ukuranmu, tapi belum tentu nyaman dikakimu.Aku tidak bisa menembak-nembak seperti apa yang kamu mau. Kamu harus memilih dan mencobanya sendiri."

Aku tiba-tiba teringat dan menelusuri perasaanku sendiri , tentang apa yang aku alami belakangan ini mungkin saja tentang kecocokan dan kenyamanan. Mungkin saja ketertarikanku pada seseorang yang melahirkan penasaran dan keingintahuan lebih jauh tentang dia dan kehidupannya adalah awal dari rasa cocok dan kenyamanan.

"Benar. Jika berkeluarga akan menjadi pilihan, tentunya penemuan pasangan hidup yang cocok adalah pondasinya. Dan kalau kecocokan itu harus dibangun bukan ditemukan, maka hal yang pertama harus kita lakukan adalah membuka diri untuk menerima dan diterima."

Konklusiku mengalir begitu saja diiringi uap kantuk yang sedetik kemudian pergi lagi.

"Belakangan aku menemukan seseorang yang sedikit kuperhitungkan, Mbak."

Sesei obrolan berat tentang cinta yang dilogikakan tadi kemudian menikung curam perbincangan yang lebih dideskripsikan dengan curhat.

"Jujur saja, seberapun pantangnya kita mengukur seseorang dengan kriteria. Ketika aku dihadapkan dengan seseorang yang dewasa. Aku benar-benar mengingininya. Hanya saja aku masih enggan untuk keluar dari zona nyamanku, kalau-kalau aku harus berelasi. Mau tidak mau harus banyak yang aku toleransi. Dan aku akan harus terbiasa dengan itu." Aku berusaha bercerita dengan tersirat.

"Kamu takut karena dia lebih dewasa darimu, maka dia akan banyak mengubahmu? Kamu takut berubah?"

Pertanyaan retoris semacam itu hanya cukup ku jawab dengan kerutan dahi.

"Perubahan adalah sesuatu yang harus terjadi pada setiap benda hidup. Karena jika sesatu hidup maka ia bergerak. Dan kamu, kamu hanya berubah jika mau bergerak. Ya memang, mau tidak mau 'toleransi' harus ada dalam setiap hubungan. Dan perubahan itu adalah dampaknya. Tidak masalah kamu berubah, asal perubahanmu itu adalah sesuatu yang terjadi karena kesadaran, bahwa memang perubahan itu adalah kebutuhanmu. Dan perubahan itu melahirkan sesuatu yang baik dalam dirimu, dan tidak membuatmu kehilangan siapa dirimu, tetapi justru membuatmu menemukan kesejatian dirimu."

Benar. Aku mendapati sahabatku itu banyak berubah setahun belakangan ini.

Long Distance Relationship yang ia sedang jalani saat ini nyatanya membawa sesuatu yang berbeda dalam hidupnya. Bukan hanya perubahan yang dia nikmati dalam dirinya tapi perubahan-perubahan kasat mata yang juga pasti nampak pada orang-orang sekelilingnya.

"Belakangan ini, aku juga merasa aku sedang berubah. Tapi perubahan itu aku lakukan dengan kesadaran, perubahan itu membangun diriku sendiri. Dan karena aku melakukannya dengan kesadaran maka aku tidak perlu takut akan kehilangan diriku sendiri. Justru dengan perubahan itu aku menemukan kesadaran bahwa aku sedang menemukan diriku sendiri. Aku mungkin awalnya sedikit geli mendapati diriku bergaun dan bergincu untuk menghadiri undangan pernikahan temanku, atau menertawakan diriku sendiri ketika mendapati diriku sedang asik didapur berkutat dengan rempah-rempah dan sayur-sayuran untuk bereksperimen menu baru. Tapi perlahan-lahan aku paham kalau hidup harus bergerak. Kita harus berubah. Dengan belajar berdandan aku menjadi lebih bersyukur, kalau aku adalah perempuan yang cantik. Dengan memasak aku menjadi mengerti bahwa kalak dari tanganku aku akan meberi makan anak dan suamiku dengan panganan yang lezat. Itulah makna dari berubah. Dan perubahan semacam ini menurutku tidak perlu ditakutkan."

Tanpa dia menjelaskan seruntut itupun aku juga melihat dengan jelas bahwa sedang berubah. Aku sendiri sempat terheran-heran melihat sebuah pouch berisi alat make-up lengkap dia keluarkan dari tas Carriernya (ya, dia perempuan yang senang bepergian sendirian dengan tas carrier naik kereta keluar kota). Dan aku juga cukup takjub ketika dia menghidangiku sepiring pancake (cukup) lezat untuk sarapan. Padahal dia yang ku kenal selama ini adalah wanita (semi) tomboy yang begitu nyaman dengan dirinya sendiri. Penemuan dirinya itu ia temukan bersama dengan calon penamping hidupnya saat ini. Ah, aku mendapati bahwa diriku terkukung oleh zona nyaman yang mulai membahayakan. Kenyamanan yang mengurungku pada keakuanku dan kenyamanan diri.

"Cinta, akan melahirkan persahabatan sejati yang saling membangun diri."

Seminggu kemudian,aku dan pria tak kasat mata itu bertemu.

Tepatnya aku memutuskan untuk bertemu. Sejujurnya aku enggan untuk menjalani pertemuan-pertemuan semacam itu. Ketakutan konyolku adalah karena aku tahu kemana perasaanku selanjutnya akan membawaku. Ketertarikan itu akan mengajakku kemana. Kalau awalnya aku merasa, sedang menemukan seseorang.Lalu apa maknanya menemukan kalau tanpa pertemuan. Aku takut jatuh cinta?

"Jatuh cinta tidak akan membuatku kehilangan logikaku."

Aku berusaha meyakinkan diriku.

Aku akhirnya mengiyakan pertemuan yang sejak lama begitu kuhindari itu.

Akupun bertemu langsung dengan seseorang yang beberapa waktu ini sedang begitu kupertimbangkan. Kali ini perjumpaan nyata, bukan lagi maya.

Aku menjabat tangannya. Dan ya, aku melihatnya masih tampan. Ya, mungkin tidak setampan yang kujumpai tahunan lalu. Mungkin juga karena selama perjalananku sepuluh tahun ini aku banyak berjumpa dengan laki-laki tampan maka kadar ketampanannya agak berkurang. Atau ketampanannya berkurang karena dia (sama denganku) mulai menua? Entahlah tapi terang saja, aku yang nekat menemuinya hanya dengan setelan jeans dan kaos, tanpa embel-embel dempulan bedak atau polesan gincu, atau semprotan parfum harum apapun nyatanya membuatku menyapa diriku sendiri.

"Hallo Upik Abu, apa kabar?"

Kami kemudian duduk di sebuah warung cepat saji sambil menikmati minuman dingin.

Kami bercerita banyak. Dia bercerita banyak.

Didepannya aku seperti sebuah kerupuk bulat putih diwarung makan yang dimasukkan kedalam semangkuk soto. Menyusut dan menjadi sangat kecil.

Aku yang selama ini mengidam-idamkan seorang laki-laki dewasa sebagai pendamping hidup. Dihadapkan pada seorang laki-laki sungguhan yang benar dewasa, nyatanya malah mengkerut.

"Aku ini apa? Wawasanku belum seberapa. Caraku memandang hidup dan kehidupan belum apa-apa. Aku hanya anak ingusan yang masih belum paham hidup itu apa."

Entahlah, didepanku dia seperti menjelma sebagai sebuah cermin besar yang didepannya aku dapat melihat diriku sendiri dengan jelas. Aku yang selama ini nyaman dengan diriku sendiri. Aku yang selama ini merasa bisa apa-apa sendiri. Aku yang selama ini merasa cukup dengan apa adanya aku. Menjadi bukan apapun di depannya.

Kami kemudian ke toko buku, kami hanya berkeliling rak mengomentari satu buku dan buku lainnya, satu penulis dan penulis lainnya, sambil menyelinginya dengan bercakap-cakap.

Aku merasa aku sedang meresensi diriku sendiri. Bahwa nyatanya yang selama ini kutulis tentang diriku sendri masih melum sepenuhnya menghasilkan jalan cerita sebagus yang aku kira. Aku menjadi editor untuk tulisanku sendiri, dan nyatanya aku menemui banyak kesalahan dalam menginterpretasikan diriku sendiri.

Aku gagal jatuh cinta. Aku batal jatuh cinta. Aku mendapati diriku sendiri tidak cukup layak untu menjatuhcintai seorang pria dengan mimpi yang besar. Aku tidak cukup pantas untuk mendeskripsikan sesuatu yang selama ini kusebut ketertarikan itu sebagai jatuh cinta karena nyatanya jatuh cinta tidak sesederhana menemukan seseorang yang layak kita cintai.

Cantuh cintaku kali ini, membawaku pada penemuan diri. Aku berkaca.

Jatuh cinta ini membawaku pada pemahaman, bahwa terlebih dahulu aku harus mengenali diriku sendiri sebelum aku belajar mengenal orang lain, sebelum aku membuka diri untuk dikenal oleh orang lain.

"Aku harus menemukan diriku sendiri sebelum menemukan seseorang yang akan menemukanku."

Jatuh cinta itu tidak semudah kelihatannya, tidak semudah kedengarannya, jatuh cinta nyatanya rumit dan sulit. Untuk semua perempuan yang menganggap cukup dengan dirinya sendiri, untuk semua perempuan yang nyaman dengan kemandirian dan kegigihan, kecerdasan. Persiapkanlah dirimu untuk jatuh cinta. Mulalilah berkaca.

Aku teringat sepenggal kisah yang ditulis oleh Dee Lestari dalam Novelnya Rectoverso.

“Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.”

Kurang lebih sama, aku mengoreksi diriku dengan ketimpangan yang nyata. Bahwa aku tidak cukup sepadan.

Aku memerlukan waktu untuk pelayakan diri.

Dan kalaupun pelayakan diriku tidak cukup sepadan untuk bersamanya, tidak masalah bagiku, ini ‘perjumpaan’ ini akan menjadi titik tolak serius dalam hidupku.

Tidak masalah jika kali ini yang kunikmati jika hanya punggungnya, punggungnya sudah cukup menjadi cermin besar untuk aku merefleksi dan membiaskan sebuah makna penemuan diri.

Hai, kehidupan ini cukup deras untuk hanya membiarkanmu mengapung begitu saja terbawa arus kehidupan. Kamu harus menemukan patener mendayung, untuk menemukan arahmu.

Cinta sejati tidak akan tumbuh dari berapa banyapun persahabatan yang kamu miliki.

Karena cinta sejati akan menumbuhkan persahabatan.

Jika kamu mengingini akan ada seseorang yang bersamamu mengukir memori dan jejak langkah kaki di perjalanan hidupmu ini, persiapkan kaki-kaki yang kuat untuk berjalan bersamanya. Kita kelak akan saling menggendong, dalam kelemahan, maka mengukur kekuatan diri dari sekarang adalah penting.

Sebelum matahari terbenam begitu saja, kita perlu menyiapkan diri untuk bisa bersama sama menikmati senja dengan seseorang yang kita cintai.

"Selamat berkaca dan menemukan dan melayakan diri."

Bisikku sambil menikmati udara sore, sesaat sebelum matahari terbenam, ditengah hiruk pikuk bubaran kantor kota Jakarta.