September tanggal sembilan belas nanti harusnya jadi lembaran baru dalam perjalanan cintaku dan kamu. Penantian panjangku untuk segera bersanding denganmu akan terwujud. Tujuh tahun lamanya kita bersama. Membagi susah maupun senang bersama. Waktu yang cukup bagi kita saling mengenal karakter masing-masing.

Tak ada keraguan dalam diriku saat memintamu jadi teman dalam hidupku.Aku percaya kau-lah akhiri dari petualanganku. Kaulah wanita yang kupilih jadi rumah tempatku pulang, bertukar cerita dan membagi rasa sakitku.

Wanita yang bertahun-tahun menemaniku. Melewati segala kesusahan yang kuhadapi. Kau menerima segala kekurangan maupun masa lalu yang kumiliki. Bersamamu kutemukan kenyaman. Sosokmu yang keibuan dan pembawaanmu yang tenang kontras dengan sikapku yang konyol dan masa bodoh. Hadirmu mengubah jalan hidup yang kupilih.Alur kehidupanku yang tak memiliki tujuan nyaris tak ada arah mengalir begitu saja mengikut arus tanpa terkendali berubah arah saat kau masuk dan dengan berani ikut campur dalam keputusanku.

Kau mencuri hatiku dengan sikapmu. Kau menyadariku untuk berhenti menyiksa diri sendiri, memaafkan masa lalu dan keluar dari bayangan perceraian orang tua yang membuat hidupku berada dijurang bernama kehancuran. Nyaris saja aku terjebur dalam pergaulan liar yang menjauhkan aku tidak hanya pada Tuhan namun pada orang-orang yang mengenalku. Hampir saja predikat ”anak nakal korban broken home” aku terima. Hampir saja. Jika saja aku tak bertemu denganmu tujuh tahun lalu entah bagaimana aku saat ini. Mungkin aku akan tenggelam dalam dunia hitam kehidupan malam, keluar dari satu diskotik ke diskotik lain bermain dengan banyak wanita untuk melampiaskan kesepianku.

Kau wanita yang menjadi perantara aku dengan Tuhan. Wanita yang membawaku menemukan hidayah. Perlahan aku kembali pada diriku yang aku rindu. Belajar menerima keadaan yang tak kuharapkan.Memaafkan mereka yang membuatku harus terjerumus dalam lubang kegelapan. Berhenti menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padaku.

Advertisement

Terima kasih atas segala kesabaran dan kebaikanmu selama ini. Terima kasih untuk ketulusanmu. Aku balas rasa simpatimu dengan rasa yang berbeda. Aku menyukaimu. Kau orang pertama yang tak melihatku dengan pandangan “aneh”. Penampilanku yang ‘urak-urakan’ sebut saja berantakan nyaris seperti tukang palak diterminal tak membuatmu takut. Tatapan yang berbeda yang kuterima, bukan ketakutan, bukan iba bukan pula tatapan benci. Tatapan yang sama yang kau beri kepada sahabatmu pada orang-orang disekitarmu, kau tak pernah mengganggapku orang asing. Kau perlakukan aku seperti kita telah berteman lama.

Terima kasih untuk tak pernah bertanya tentang apa yang terjadi padaku. Meski ku tahu rasa penasaran tergambar dengan jelas dari raut wajahmu. Terima kasih untuk menahannya. Begitu banyak kata “terimakasih” dalam ceritaku untuk mewakili rasa syukur atas memilikimu.

Perlu waktu yang lama bagiku mengumpulkan kepercayaan diri untuk memintamu menjadi kekasihku. Butuh satu tahun bagiku untuk masa pendekatan sebelum aku yakin kau juga memiliki rasa yang sama denganku. Terima kasih mau menerimaku. Jika saja tujuh tahun lalu aku mampu baik secara finansial maupun batin mungkin saja aku tak memintamu jadi kekasihku melainkan jadi pendamping hidupku. Lama mengenalmu mengajariku menjadi laki-laki yang dewasa ,bahwa cinta saja tak cukup untuk membangun sebuah kehidupan berumah tangga. Dan aku percaya orangtuamu akan menolakku. Mana bisa mereka percaya melepas putrinya pada laki-laki tak memiliki pekerjaan sepertiku.

Dan untuk pertama kalinya aku memiliki tujuan dalam hidupku. Menghalalkanmu, membangun masa depan bersamamu dan menikmati masa-masa tua disisimu adalah satu-satunya target dalam hidupku. Maukah kau menungguku? Sampai aku layak menjadi pimpin dalam hidupmu.

Kurang dari tiga bulan penantian panjangku akan berakhir. Mimpi hidup bersamamu bukan lagi bunga tidur. Akhirnya aku sampai pada titik “layak” untuk menjadi pendampingmu. Terima kasih untuk orangtuamu yang mempercayaiku. Terima kasih untuk kamu yang setia di sisiku. Aku bukan lagi pengangguran banyak acara. Memiliki penghasilan yang cukup dengan waktu yang super sibuk tak jarang karena kesibukkanku kita harus terpisah ribuan kilometer. Terima kasih atas dukunganmu selama ini untuk pengertianmu yang tak pernah merengek saat kita tak bertemu dalam waktu yang lama.

Malam yang tak pernah kuharapkan. Jika saja waktu dapat terulang. Jika saja aku bisa menjaga pandanganku. Jika saja aku bisa mengontrol diriku malam itu.Mungkin saja sembilan belas september esok akan jadi hari bersejarah bagiku. Maaf atas kekhilafanku.Jika saja aku bisa mengendalikan nafsuku.

Aku baru mengenalnya dalam hitungan hari. Kami bertemu atas dasar pekerjaan. Malam itu sudah larut. Meeting berjalan begitu alot. Jamuan makan selepas meeting yang tak dapat kami hindari. Kami semua lelah malam itu. Satu persatu rekanku meninggalkan restaurant yang terletak dilantai tiga sebuah hotel. Entah bagaimana ceritanya aku terlibat obrolan serius dengan dia, wanita sosialita dengan rok pendek selutut dengan parfum yang menyengat, wanita yang memegang peran penting dalam proyek yang sedang kami kembangkan. Obrolan yang tak kami sadari sampai membuai kami larut hingga pukul tiga dini hari. Dan tak kusadari aku menemukan diriku diatas ranjang sebuah kamar hotel dipagi harinya. Aku lupa yang terjadi malam sebelumnya yang ada dalam ingatanku aku terlalu banyak minum wiske, minuman yang telah lama tak pernah kusentuh. Aku semakin tersentak saat kudapati aku tak sendiri, ada wanita dengan balutan selimut berada tepat disampingku. Bukan wanita yang akan kunikahi tapi wanita yang baru ku kenal yang menemaniku menikmati wiske bersama.

Apa yang terjadi? Apa yang kulakukan? Tidak mungkin aku tidur dengannya? Tidak mungkin aku menghianati wanita yang kucintai?

Aku bangun meninggalkan wanita di sampingku. Aku tak peduli pada wanita yang menghabiskan malam bersamaku. Aku pecundang yang melarikan diri.Aku disergap rasa berdosa dan bersalah.

Maafkan aku atas dosa yang telah kulakukan. Aku tak mampu menyembunyikannya darimu. Aku sadari maafku tak ada artinya. Persiapan pernikahan yang hampir selesai akhirnya harus dihentikan. Undangan, gedung, cathering semua dibatalkan. Hatimu terluka. Dan aku adalah laki-laki yang melukainya. Aku menerima keputusanmu untuk membatalkan pernikahan ini. Aku tak memaksamu mengampuniku. Aku tak pantas jadi pendamping hidupmu. Maaf membuatmu harus menanggung semuanya. Aku tak berhak menerima maaf darimu. Aku laki-laki bodoh yang telah menyianyiakan ketulusanmu. Aku akan membawa rasa bersalah ini sampai aku mati. Beritahu aku caranya untuk menebus dosaku padamu?

Aku tak akan menghakimi diriku dan menghancurkan hidupku untuk kedua kalinya. Aku mungkin tak bisa kembali padamu. Bahkan untuk mendekatimu pun akan sulit. Percayalah, kau gadis yang baik dan berhati lembut. Kau pantas mendapatkan laki-laki yang setia yang mampu menjaga pandangan dan nafsunya. Laki-laki yang hanya menjadikanmu satu-satunya wanita yang dicintainya..