Aku tau sejak awal pertemuan kita seharusnya aku tak berharap sesuatu,aku harusnya mendengarkan logika dan mengabaikan hati,sekarang aku menyesali pilihanku. Logika tak memberiku pilihan. Sangat sulit berhenti saat semuanya telah dimulai, sangat sulit melepaskan apa yang sudah digenggam.

Aku tau dalam cerita kita banyak yang harus di hadapi. Perbedaan, banyak sekali perbedaan yang diciptakan oleh logika kita, tapi hati mengatakan semua akan baik-baik saja dan nyatanya sampailah kita kepada pertanyaan, "Siapa yang harus mengalah?" Dan cerita kita harus berakhir dengan pernyataan, "Angsa dan bebek memang tak ditakdirkan bersatu". Sungguh kisah tragis yang amat indah.

Ketika akhirnya kita memilih untuk berpisah di persimpangan, aku merangkak berusaha meneruskan hidup tanpamu yang menyebut Tuhan dengan sebutan yang berbeda, aku berusaha bangkit dengan segenap kekuatan yang tesisa di sayapku yang patah. Aku bangkit setelah berdiam sekian lama. Aku sembuh oleh kekuatan dalam kerapuhan.

Namun, takdir masih ingin memberiku kejutan lagi. Kembali aku dipertemukan dengan sosok mahakarya Tuhan yang mengenal Tuhan dengan cara berbeda denganku. Haruskah kembali aku jatuh? Kali ini aku tak ingin luka lagi. Seketika aku memutuskan untuk mendengarkan nasihat logika dan membuang jauh apapun yang hatiku katakan. Aku tau saat ini hatiku amat terluka, tapi di depanmu aku belajar untuk tampak baik seolah tak ada apapun yang terjadi setelah pergulatan dahsyat antara sang pemilik logika dan perasaan.

Aku ingin menjadi bodoh saat ini, aku ingin logikaku berhenti bekerja karena sesungguhnya hatiku telah lelah berpura-pura. Aku ingin memulai kisah baru dengan dia, meski kutau ujungnya mungkin tak berakhir bahagia. Dapatkah kita melukis senyum sejenak? Dapatkah kita memiliki syair lagu kita sendiri? Dapatkah kita menyelipkan irama diantara syair milik kita?

Advertisement

Kenapa takdir begitu jahat?

Dan di sinilah aku saat ini, dilanda bimbang dalam cerita tanpa kejelasan, berusaha memanjat tebing untuk menggapai sesuatu yang tak mungkin dicapai, menuliskan cerita tentang kebodohanku yang telah jatuh kedua kalinya untuk apa yang tak bisa disebut sebagai kesalahan.

Inilah aku cerita cinta yang tak pernah ingin dituliskan namun ditakdirkan untuk tertulis.