Apa kabar, Kawan? Kabarku di sini baik-baik saja. Pasir pantai masih berwarna putih dan lembut ketika diinjak. Dedaunan kering masih menguning menutupi jalan-jalan tak beraspal dan akan berbunyi nyaring ketika beradu dengan kaki-kaki telanjang. Debur ombak masih terasa. Kicau burung masih terdengar. Ikan-ikan masih berenang berloncatan. Terumbu karang masih berwarna-warni. Pohon-pohon kelapa masih setia melambai. Pun kelapa muda masih saja segar untuk diteguk di tengah terik siang.

Apa kabar, Kawan? Kabarku di sini baik-baik saja. Kami akan tetap baik-baik saja walaupun penampungan air kami mulai kering. Tahukah kau, Kawan? Kami di sini masih setia pada air hujan. Air berkah yang turun dari langit. Apalah yang bisa kami lakukan selain mengharap belas kasihan langit? Kami akan bersorak gembira ketika air hujan turun dari langit. Hujan berarti nyawa. Hujan berarti kehidupan. Ketika tetes air pertama turun di musim penghujan, hanya rasa syukur yang bisa kami panjatkan. Dengan harapan sumur tadah hujan kami adakn kembali penuh. Namun, Kawan, tahukah kau keadaan kami jika kemarau panjang tiba? Badan kami berbau, baju kami tak dicuci. Yang bisa kami lakukan hanya berdoa, berlama-lama di gereja, mengharap belas kasihan Tuhan agar Ia menurunkan hujan segera.

Apa kabar, Kawan? Kabarku di sini baik-baik saja. Kawan, tahukah kalian bahwa kami disini hidup dalam kegelapan? Bagaimana tidak. Listrik di pulau kecil kami hanya menyala selama 4 jam sehari. Listrik akan menyala jam 6 sore dan listrik akan padam jam 10 malam. Ketika listrik padam, kegelapan sempurna menyelimuti pulau kecil kami. Televise bagi kami adalah barang ajaib. Bagaimana kotak kecil itu bisa menyala dan berisi begitu banyak gambar orang yang bergerak-gerak? Kadang aku takjub melihat kalian yang berada di ibukota makan sesuatu yang disebut es krim. Apakah itu es krim, Kawan? Kelihatanya lezat sekali. Asal kau tahu, Kawan. Kami di sini tidak mengenal es. Karena menyalakan kulkas di pulau kami adalah suatu kemustahilan.

Apa kabar, Kawan? Kabarku di sini baik-baik saja. Walaupun di sini tak banyak sekolah dibuka. Tahukah kau, Kawan, untuk menuju sekolah, kami harus menempuh jarak 7 kilo jalan kaki, dan 7 kilo lagi untuk pulang ke rumah. Jangan harap jalan kami beraspal, Kawan. Jalanan di pulau kami adalah berbatu-batu dan berdebu. Pun naik turun serta melingkar-lingkar rupa ular. Kami berangkat ke sekolah jam 5 pagi, ketika kalian masih lelap di peraduan. Percuma saja kami mandi pagi-pagi, Kawan. Sesampainya di sekolah badan kami akan berbau dan kulit kami semakin menghitam. Maka, Kawan, jika suatu saat nanti kalian bertemu dengan kami, jangan sekali-kali memprotes bau badan kami. Ini tuntutan, Kawan. Nasib kami masih jauh lebih baik daripada banyak kawan kami yang lain. Beberapa kawan kami malah harus mendayung selama 1 jam untuk sampai di pulau kami. Belum lagi ditambah jalan kaki selama satu jam dari pelabuhan menuju sekolah.

Apa kabar, Kawan? Kabarku di sini baik-baik saja. Walaupun kami di sini sangat miskin. Sekolah kami pun juga miskin. Buku adalah suatu hal yang mewah bagi kami, Kawan. Di tengah-tengah keributan tentang kurikulum mana yang akan digunakan, kami di sini tak memikirkan itu, Kawan. Asalkan kami bisa bersekolah, berhitung satu dua tiga serta membaca ini ibu Budi, itu sudah lebih dari cukup. Tak ada kemewahan sama sekali di sekolah kami. Tak adaperpustakaan. Tak ada laboratorium. Bahkan tak ada toilet untuk kami buang air. Jika hendak buang air, tak ada yang dapat kami lakukan selain berlari sekencang-kencangnya ke hutan dibelakang sekolah dan buang air di sana. Tak jarang kami pulang gatal-gatal karena ulat bulu yang iseng. Belajar di kelas merupakan suatu keberuntungan, Kawan. Tak jarang kami harus belajar di pantai karena kelas kami harus digunakan secara bergantian. Tak ada buku pelajaran dengan kurikulum terbaru. Yang ada hanyalah buku paket yang sudah tua, menguning, dan mengeriting ujung-ujungnya. Tapi kami suka sekali berangkat ke sekolah, Kawan.

Advertisement

Apa kabar, Kawan? Kabar kami di sini baik-baik saja. Apa kabar sekolah kalian? Ku harap kalian masih bersemangat dalam menuntut ilmu. Tahukah Kawan? Bagi kami sekolah adalah surga. Bagaimana kami bisa berkata begitu? Tentu saja, karena sekolah bagi kami adalah hal terbaik yang pernah kami alami di sini. Jika aku tidak bersekolah, pasti Mamak dan Papak akan menyuruh kami mencari ikan di laut atau pergi ke kebun menanam singkong, satu-satunya jenis umbi-umbian yang tumbuh di pulau kecil kami. Walaupun tak mengenakan seragam dan sepatu yang layak, kami tetap suka pergi ke sekolah, Kawan. Barisan huruf dan angka-angka di papan tulis tua kami terasa seperti misteri yang harus kami pecahkan tiap harinya, dan itu seru.

Apa kabar, Kawan? Kabar kami di sini baik-baik saja. Aku harap kalian pun begitu. Walaupun terkadang orang-orang tua di pulau kami belum mengetahui bahwa presiden sudah berganti untuk ketujuh kalinya, namun kami di sini sangat mencintai negara ini. Cinta kami begitu besar, walaupun mungkin orang-orang yang berdiri di puncak Ibukota sana tidak mengetahui keadaan kami. Walapun banyak yang bilang bahwa negeri ini sedang sekarat. Cinta kami pada Indonesia tak diragukan lagi. Lihatlah betapa takzimnya kami menyanyikan lagu Indonesia Raya walaupun bendera kami sudah mulai memudar warnanya. Meskipun terkadang kami harus sesekali menggaruk kaki yang gatal karena rumput-rumput liar membuat gatal kaki kami yang telanjang. Namun, kami cinta pada negeri ini, Kawan.

Apa kabar, Kawan? Kabar kami di sini baik-baik saja. Pun kami harap negeri ini juga akan baik-baik saja.

Cerita ini diambil dari pengalaman penulis ketika sedang mengabdi selama satu tahun sebagai guru di Pulau Biaro, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Provinsi Sulawesi Utara.