Purwokerto! Baru kutahu ternyata tak hanya Jawa Ngapak nya yang unik, tapi ada hal-hal lain yang pantas diberi label ‘asik’. Perjalanan ke Purwokerto pada mulanya tidak untuk berplesir ria, namun lebih kepada kewajiban tugas negara. Ya, tugas negara yang membawa berkah! Purwokerto memiliki surga dari kuliner hingga destinasi wisatanya. Mari kita mulai dari Soto Sokaraja, soto khas Purwokerto dan daerah-daerah sekitarnya. Teman yang juga tuan rumah merekomendasikan makanan ini untuk kucoba. Berbekal rasa penasaran dan tawaran gratisan, satu warung Soto Sokaraja dekat Universitas Muhammadiyah Purwokerto diputuskan menjadi tempat eksekusi. Pesanan datang, tampilan sotonya sedikit berbeda dengan kuah coklat dan kerupuk warna warni. Ah aku lupa berpesan, aku benci tauge mentah bertebaran diatas makanan, walhasil terjadilah perpindahan tauge-tauge mentah dari mangkokku ke mangkok teman. Detik kemudian kusadari titik beda Soto Sokaraja dengan Soto Ayam atau Soto Daging lain yang selama ini pernah kucoba, aroma kacang! Ternyata Soto Sokaraja dibumbui kacang tanah yang dtumbuk. Mirip bumbu pecel yang dicampur di kuah Soto. Kamu yang sudah biasa makan Soto Sokaraja, maafkan aku yang baru tahu eksperimen unik ini. Kesimpulan dari Soto Sokaraja, ternyata lidahku masih lebih mencintai Soto kuah kuning, hehe..

Mari kita tinggalkan sejenak Soto-Bumbu-Kacang dan mulai menemukan tanah surga Purwokerto. Telaga Sunyi, salah satu wisata alam yang masuk dalam kawasan Wisata Baturaden. Letaknya di dataran tinggi membuat wisata ini berhawa adem-adem sejuk ala puncak. Sebelum keberangkatan ke Purwokerto kucoba mencari tempat-tempat menarik melalui internet. Mesin pencarian Google menunjukkan potret Telaga Sunyi yang mempesona, beraura dingin dan bening parah. Aku meminta teman tuan rumah mengantar kesana. Terima kasih kakak Google, kamu jujur! Foto yang terpampang ternyata bukan tipuan atau polesan. Air telaga ini bening sebening-beningnya. Dasar telaga terlihat sangat jelas meskipun pada bagian kedalaman lima meter. Namun nama telaga ini yang justru menipu. Telaga Sunyi tidak sunyi karena banyak mas-mas berkulit putih mandi. Mungkin mereka tak kuasa menahan hasrat nyemplung karena melihat dingin dan beningnya air Telaga Sunyi. Aku jadi hanya bisa ber’kecipak-kecipik’ kaki, adeeeem..

Belum puas jeprat jepret, tiba-tiba hujan mengguyur. Penjaga setempat menginstruksikan mas-mas berkulit putih untuk naik karena hujan deras bisa mengakibatkan air telaga meluap dan arus menderas, sehingga pengunjung dilarang mandi diwaktu hujan. Ah, hujan makin deras, kami berlari-lari kecil ke tempat parkir dimana ada pendopo sederhana untuk berteduh dan seorang ibu yang memonopoli penjualan minuman dan makanan kecil disana, ayey! Tak rela keseruan plesir berkurang, kami harus menemukan kebahagiaan lain ditengah jebakan hujan, tempe mendoan! Ibu penjual menyediakan tempe mendoan berukuran besar dan panas baru diangkat dari penggorengan. Tempe mendoan pertamaku. Sederhana sebetulnya, tempe tepung yang digoreng, titik. Hanya saja teksturnya unik, tempe didalam tidak terlalu matang tapi lapisan tepungnya kriuk. Guyuran hujan dan dinginnya suasana pedesaaan membuat kami kalap menghabiskan lima buah mendoan ukuran besar per orang, dan iya, seporsi mi instan. Sambi lahap menyuap mendoan, bahasan obrolan kami tertuju pada uniknya Jawa Ngapak Purwokerto. Bagiku yang penutur asli bahasa Jawa bagian timur, Ngapak terdengar menggelikan. Intonasi yang tegas dan pengucapan huruf-huruf yang dibuat dobel di beberapa tempat membuatku agak kesulitan meniru. Kebetulan kami berasal dari penutur bahasa yang bermacam-macam: Jawa, Osing dan Ngapak. Satu jenis bahasa saja sudah beragam variasi dan kosakatanya. Aih, cantiknya Indonesia!

Ayo bekelana lagi mencari kepingan surga di tanah Nusantara, aku sudah ke Purwokerto. Kamu? #IniPlesirku