Sesungguhnya, Tuhan Maha pembolak balik perasaan manusia. Dari rasa yang sebenarnya tidak ada, menjadi nyata karena terbiasa. Terbiasa oleh tempat dan waktu yang kita lalui bersama. Sepercik bara api yang kurasakan indah saat ku bersamamu, walau ku tau kau bersamanya.

Kita hanya mencoba menjalani garis Tuhan. Aku yang hanya mencoba menikmati saat Tuhan menitipkan kau bersamaku. Berbagi rasa hingga ku ingin hanya aku lah yang membuatmu bahagia. Tak peduli dengan apa yang diucap orang akan bayang masa lalumu.

Salahkah jika aku ingin menjaga rasa ini? Bersamamu? Aku ingin bahagia bersamamu. Ya, pada waktu itu. Sekali lagi, aku hanya ingin menikmati masa saat Tuhan menitipkan mu.

Hingga tak ku sadari, ternyata kau telah masuk ke hati ku yang terdalam. Sedalam kenangan yang sudah tertata rapi di memoriku tentang nada-nada indah yang kau beri untuk aku banggakan. Namun, terlalu rapuh hati ini untuk tetap menggenggam mu. Rasa rindu tak terbendung semakin meretakkan tempat dimana kau berada. Waktu lah yang sedikit demi sedikit menghilangkan harum bunga yang kau tanam.

Tak terasa, rindu oleh bara api yang membesar di dalam sekam, kini perlahan padam. Dan hilang

Advertisement

Terkadang, Tuhan hanya mempertemukan, bukan menyatukan. Tidak ada yang pernah aku sesali saat bersamamu. Tentang rasa itu. Aku tak tahu apakah kau juga menyimpan bibit rasa yang kau berikan pada ku? Aku tak mau tau. Hingga akhirnya Tuhan pula lah yang memberikan jawaban itu. Nyatanya, kau tak bisa (mungkin tak pernah) meninggalkan bayangan yang sudah lama kau tinggalkan. Sekarang, aku bertahan agar bara api itu tidak menyala di dalam sekam yang telah basah oleh air mata.

Dariku, yang sedang belajar ikhlas jika kau pergi (kembali padanya).