Kamu pasti akan bosan, mendapatiku complete dengan sikap labilku yang terus mengesalkanmu.

Aku yang selalu datang lalu kemudian selalu pergi dengan penuh ocehan yang intinya selalu sama.

"kapan aku memilikimu, utuh?"

Aku terus mengutuk diriku sendiri, mengapa aku bisa serendah ini mencintai kamu, milik orang lain. Padahal aku telah berkali-kali meminta maaf pada dia meski hanya dalam doa, maafkan aku telah terus mencoba merebut apa yang jadi miliknya. Namun aku terus melakukan dosa yang sama, mendekatimu, membuatku terus nyaman didekatmu.

"Aku terus memaki setiap potret kebersamaan kita, mengapa kita terus mengukir kenangan jika pada akhirnya harus aku hapus sendirian?"

Advertisement

Selalu, selalu seperti ini. Tidak hanya temanku, akupun penasaran dengan bagaimana ending dari kisah kita. Tidak hanya temanku, akupun menyesali kebodohanku memasuki hidupmu yang harusnya aku tau dari awal, kamu tidak akan pernah bisa memilih.

Kenapa tidak sekali saja kamu bilang "kamu tidak mencintaiku" biar dengan gampang aku bisa berdiri dan meninggalkanmu dengan optimis, aku tidak salah mengambil keputusan.

Kenapa kamu terus menahanku pergi dengan 1 kalimat "aku sayang kamu"

Kamu, pria egois yang mengesankanku.

kadang sepertinya aku ingin membunuhmu.

agak sadis tapi memang urung kulakukan, karna aku akan ikut mati bersama perasaan sakitku kehilanganmu.

Aku mencintaimu.

DPA