berkali kali ku bolak balikkan selembar kertas berserat serat putih. mengetuk ngetuk pena ke meja sarat dengan beberapa tanda tanya. dari mana aku harus memulai, apa yg pertama kali harus aku ceritakan, haruskah kuceritakan terlebih dulu tentang pertemuan kita yang masih terbungkus polos dan lugu tanpa sebelumnya tidak saling tahu? atau harus kuceritakan tentang hari ini ketika hari beranjak sore kemudian selidik mataku dibalik sela sela jendela melihatmu berjalan menyusuri koridor. dan berpura pura tidak tahu ada kamu disitu, aku ikut menyusuri koridor yang sama. menapaki kembali langkah kakimu yang terkopi diatas lantai kampus. aku memandangimu dari belakang. melalui retinaku, kemudian kuperhatikan bahumu yang memberi garis tegas kekiri dan kekanan menimbulkan imajinasi lain bahwa kepalaku sedang bersandar dibagian itu.

angin menjelang sore hari ini membawa wangi dari dirimu, memaksaku untuk menghirup segarnya. entah itu berasal dari sela sela rambutmu atau dari pintalan pintalan benang kemeja berwana birumu. Berlalu, kamu berjalan tanpa sadar ada aku dibelakangmu yang sesekali menikmati permainan dentingan jari jari mu diatas reiling koridor. senyumku mengembang untuk sesaat. karena tak lama permainan mu berhenti. kamu menyadari keberadaanku lewat jendela kaca hitam didepa sana yang merefleksikan bayanganmu dengan latar belakang aku.

cepatnya kepala mu yang berpaling kebelakang membuat aku terkesiap. namun sekali lagi, senyummu yang menyapa mampu mencairkan suasana. sehingga akhirnya kita saling menyambut senyuman satu sama lain dan membuatku berani menyapamu terlebih dahulu.

kali ini, kita berjalan bersisian. ditengah tengah. diantara dua dinding koridor yang jaraknya terpisah tidak lebih dari 9 kaki. kita mulai percakapan dengan basa basi bertukar kabar dan terus berlanjut dengan pertanyaan pertanyaan lain yang menimbulkan jawaban timbal balik hingga akhirnya kita berpisah di ujung koridor yang membawamu lebih dulu kedalam ruang kuliahmu. sedang aku kembali berjalan menyusuri tangga menuju ruang kuliahku setelah kita saling mengakhiri percakapan.

aku memegang railing tangga yang sedikit beruap dan basah karena keringat dingin dari telapak tanganku sendiri. aku menghela, dan setiap hentakan kakiku menaiki tangga mewakili tone detak jantungku yang kian lama semakin teratur dibanding ketika aku berada didekatmu, seperti tadi. terlalu dekat. dan aku merasa tercekat. segalanya, nafasku. jantungku. bahkan kata kataku.

Advertisement

aku bersandar di sandaran kursi. kutenggakkan kepalaku untuk menikmati pemandangan langit langit kamar sedang fikiranku berputar putar kebeberapa jam sebelum aku meramu beberapa bait kejadian hari ini bersamamu. lagi lagi senyumku mengembang.

detik jam diatas meja memanggilku untuk meliriknya, sedang rasa kantuk merayuku untuk segera bergelut dengan selimut dan segera mengakhiri tulisan hari ini tentangmu. kububuhkan sedikit kata kata penutup disudut kanan bawah kertas. tidak panjang, bahkan nyaris pendek tapi cukup manis untuk dibaca. Dia itu, kamu..