Teringat akan kisah lama, kisah yang lebih indah dari dongeng 1001 malam, yang selalu menyejukkan sanubari,memecah senyum diantara deburan ombak di tepi pantai, kisah seperti inilah yang membuat kita terkadang terbenam tenggelam di lautan kenangan, ya itulah CINTA.

One day you will ask me which is more important? My life or yours? I will say mine and you will walk away not knowing that you are my life – Kahlil Gibran

Setiap individu pasti pernah merasakan cinta tanpa terkecuali, banyak orang menganggap cinta hanya untuk 2 sejoli yang bergandengan tangan berjalan di pinggiran pantai sambil menatap lautan yang luas, bagiku cinta yang sesungguhnya adalah persahabatan, cinta yang kuanggap akan kekal setelah cinta kepada Allah SWT, Muhammad SAW, Orang Tua, Keluarga, bagiku tak ada tempat untuk cinta semu yang sesaat.

Cerita ini bermula ketika SMP, diriku seorang anak cupu, pendiam dan kutu buku bertemu dan berkenalan dengan kamu seorang perempuan yang bahkan tak bisa kubayangkan bisa bersahabat dengan dirimu sampai dewasa ini, jika dideskripsikan mungkin dirimu itu adalah perempuan idamanku. .

Kedekatanku baru terjadi ketika masa-masa SMA, tak pernah terbesit sedikitpun diri ini untuk menjadikannya pacar, walau kami saling suka, rasa sayang pasti timbul bahkan sangat menggelora namun hati ini ingin menjaga kesuciannya, menjaga hati ini untuk sesuatu yang lebih indah di masa depan kelak.

Advertisement

Jika kuingat memori indah itu, menitiklah air mata ini, kamu yang selalu ada disampingku menopangku ketika rapuh, membuat bibir ini tersenyum ketika kesedihan dan duka lara menghantam, masa-masa kelamku saat terbawa arus pergaulan remaja, namun kamu selalu ada, selalu menyadarkanku untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Entah kekuatan apa yang ada pada dirimu, selalu bisa membuatku sadar seakan matamu memancarkan cahaya terang, setiap kata-kata yang terucap dari bibirmu seolah menjadi embun yang menyejukkan hati ini, ketika tanganmu menghangatkan seluruh tubuh ini, kamu adalah keajaiban.

I would rather walk with a friend in the dark, than alone in the light – Helen Keller

Ketika mendengar dirimu jatuh sakit, hariku seolah berubah menjadi kelam, ketika kamu membutuhkan support, diri ini tak ada disampingmu, sungguh kejamnya aku ini, kamu yang selalu ada disampingku selama ini namun saat kamu butuh diriku, aku malah tak bisa berbuat apa-apa, cuma doa yang bisa kupanjatkan.

Masih segar diingatan ini pada 29 Februari, aku menerima kabar yang membuat kaki ini gemetar, badanku tak kuat lagi menopang, hari ini seolah separuh nyawa melayang, hari dimana kudengar kamu harus meninggalkanku untuk selama-lamanya.

Hancur rasanya hati ini, ingin rasanya meminta kepada Tuhan agar kita bisa bertukar tempat, mengapa orang sebaik kamu harus cepat kembali ke pangkuan-Nya, masih belum bisa diriku menerima kenyataan ini, sekali lagi diriku terbenam dalam kepedihan yang sangat menyakitkan.

Butuh waktu lama, akhirnya aku bisa menerima kenyataan ini, percaya atau tidak mungkin ragamu memang sudah tiada namun keajaibanmu selalu ada, ketika kepedihan itu menyerang seolah telinga ini mendengar bisikanmu ,"Aku akan selalu ada di sampingmu sampai kapanpun." kamu memang penuh dengan keajaiban untuk hidupku.

Tenanglah kamu disana, tunggu aku dengan sabar, suatu hari nanti kita akan bertemu lagi, akan kuceritakan apa yang sudah kulakukan dalam hidup ini, kamu pasti akan menyukainya, dan akan kusimpan cinta ini, cinta yang tumbuh dari persahabatan, cinta yang kuanggap dalam bentuk yang sesungguhnya.