Ohh Tuhan Kucinta dia, Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia

Aku mengira akan indah seperti waktu pertama aku mengenalmu, tapi makin ke sini hatiku semakin sesak menahan segalanya yang aku simpan sendiri. Aku memang tidak berhak marah pada siapapun, karena hati ini yang memilih untuk terus bersama dengan hati yang tak pernah kuketahui isinya, apakah ada diriku juga atau tidak.

Apa aku akan hidup dengan kesalahpahaman seperti ini terus? Dia hanya hadir sebagai teman dekat yang berusaha selalu ada di saat aku butuhkan. Padahal tanpa dia tahu, setiap aku membutuhkannya itu berarti hati ini sedang kehilangan sosoknya.

Terkadang rindu itu lebih baik disimpan.

Saat dia tertawa aku bahagia, saat dia sedih hati ini merasakannya juga, saat dia bingung aku tak tau harus berbuat apa, saat dia mengeluh aku selalu mencoba menyemangatinya, saat dia marah padaku segala jenis penjelasan aku berusaha meredamnya. Apa semua itu tampak seperti teman biasa bagimu? Sungguhkah dia tak merasakannya, Tuhan? Aku tak pernah punya berani menanyakan itu padanya sekalipun.

Advertisement

Semua yang aku pendam aku ceritakan hanya pada-Mu, akan sangat bahagia jika Engkau sudi menyampaikan segala perasaan yang ditanamnya padaku dahulu bahwa telah berakar dengan sangat kuat di dalam hatiku. Tapi setelah dia mengetahuinya apakah ada tindakan yang berubah padaku? Bukannya selama ini dia sudah mengetahui apa yang aku inginkan? Oh, Tuhan.

Betapa menyiksa kehilanganmu, kau tak terganti, kau yang slalu ku nanti.

Aku malu pada diri sendiri ketika harus menangis separah kemarin, saat pertama kali aku kehilangan dia, mata bengkak, dada terasa sesak, suara serak, hidung merah, hanya air mata yang berbicara tanpa mampu menjelaskan pada siapapun. Kali ini untuk kesekian kalinya aku merasa kehilangan dia lagi padahal aku tak pernah mendapatkan hatinya lagi saat aku kehilangannya pertama kali.

Doa ini, akan setia menemaninya di manapun, kapanpun, bersama dengan siapapun dia. Karena dia benar-benar telah mencuri seluruh hatiku dengan indah pada awalnya takkan menjadi rusak karena goresan yang tiap kalinya dia buat akan memudar sembuhkan waktu.

Jadilah seperti pokok saat orang membaling batu kepadamu, kau membalasnya dengan buah yang ranum 'ass syahid imam hassan al-banna'

Ketika berbicara tentang pengorbanan mungkin aku tak banyak melakukan sesuatu untuknya, tapi ketika hati yang punya peranan untuk mengalahkan rasa yang berkecamuk di dalam hati dengan namamu itu bukanlah perkara mudah untuk dilewati setiap detiknya, tidak bisakah itu dinilai sebagai pengorbanan juga?

Kadang aku pernah berpikir, jika saja keinginanku untuk segera mendapatkan tambatan hati yang lain, yang lebih bisa menerima aku apa adanya,

bisakah aku melupakan dia?
bisakah aku tak mengingatnya lagi?
bisakah aku tersenyum melihatnya bahagia?
bisakah aku bahagia melihatnya bersama orang lain?
bisakah aku tetap tenang ketika mendengar namanya?
bisakah aku menyimpannya walaupun agak lebih jauh didalah hati?
bisakah aku tegar dengan pilihan baru ketika dia kembali mengetuk hatiku?
dia bahkan tahu bagaimana hati pernah hancur karenanya, sekali lagi hanya maaf yang aku dengar darimu, maaf jika kamu telah melukai hatiku. apakah itu bisa menyembuhkan luka?