Realita kehidupan cinta para pemuda pemudi kini aku pandang dari kacamataku sendiri. Aku memutar otak untuk menemukan lebih manis mana hidupku dibanding dengan milik orang lain. Terkadang aku merasa dangkal tuk menengok, terkadang pula aku merasa terlalu dalam untuk menyelami. Sehingga aku tidak lagi cermat membedakan mana kepastian yang semu dan mana jawaban yang harus ditunggu. Ini karena aku sendiri yang begitu rajin memelihara kegelisahan untuk mendapatkan yang pasti dalam hidup. Terlebih kepastian hubungan 700 km yang sedang aku jalani. Ya, bisa dibilang aku salah satu yang berjuang untuk cinta pada jarak jauh. Awal mula aku berpura-pura bisa, namun aku yakin nantinya aku pasti terbiasa.

Galau dengan hubungan jarak jauh? Tentu saja. Meski kehadiran kekasih sudah datang dalam hidup, aku takut jika takdir ini tiba-tiba menghilang. Mulanya hatiku merasa miris akankah perbedaan jarak yang teramat jauh ini mampu membawa kisahku ke arah yang lebih terang. Aku mendengar dari banyak orang bahwa Long Distance Relationship (LDR) menjadi cobaan yang sangat berat bagi penjalin asmara. Ibarat kata ujian, persoalan-persoalan sulit memiliki banyak opsi yang mana harus terjawab dengan esai yang tidak menentu teorinya. Dan kata demi kata yang terlontar dari mulut orang-orang tetaplah sebuah kata. Aku merasakan sendiri betapa lebih tersiksa rasanya daripada ucapan mereka. Setia saja tidak cukup mengobati. Pertemuan yang hampir tidak pernah apalagi.

Aku harus tegar meski rindu ini terasa sangat menggelegar. Galau itu biasa, sedih itu pasti, rindu itu mutlak. Aku harus melawan perasaan sendu semacam ini. Aku masih punya hobi dan kesibukan diri ada apapun. Galau yang biasa ini sesegera harus aku jadikan sebagai galau yang keren.

Biasanya aku memandang langit dengan tatapan nanar. Membayangkan rupa menawan yang sudah sangat lama tidak aku jumpai. Berharap jika bayang-bayang wajahnya dibiaskan bersama cahaya matahari yang redup. Aktivitas yang lebih berarti tidak aku dapatkan. Hanya perasaan rindu dan rindu yang mendesak aku untuk terus berdiam diri. Jendelaku masih tetap di sini, terbuka di sebelah meja kesayangan. Aku melihat pulpen pun masih dengan tutupnya. Sama seperti aku yang masih menyimpan perasaan sama untuknya. Namun tampaknya kini tanganku ditakdirkan untuk melakukan kegiatan yang berbeda. Tak lagi berlama-lama bertopang dagu, aku menggores setiap tetesan tinta pulpen di atas kertas untuk membunuh waktu. Aku yakin jika setiap cerita dan berita yang aku tulis di atas bersihnya kertas ini kelak mampu membantuku menggapai impianku. Bukan penulis, tapi bagiku apapun profesi seseorang jika ia tidak pernah mau menulis maka sia-sia lah perjalanan hidupnya. Berbekal meyakini berbagi tulisan untuk orang lain itu membahagiakan, maka tak ada alasan lain yang mampu membela kesalahan membagi kerisauan hanya dengan diri sendiri. Seringkali aku juga mengirimkan tulisan-tulisanku kepada kekasihku. Di jaman serba praktis ini tentunya tulisan-tulisanku langsung mendapat respon dari si dia. Dia senang karena detik-detik penantianku untuknya dapat aku bariskan menjadi deret-deret kalimat indah untuk dibaca.

Perlahan sense of sharing yang ada dalam diriku berkembang. Menulis tidak hanya membutuhkan pemikiran dan ide, tapi juga hati yang tulus. Lelah? Hanya sedikit. Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa tak akan ada output bila tak ada input. Bahasanya yang teknikal ini sedikit menyinggung saraf kesadaranku. Meskipun tulisanku menjadi semakin baik, apalah salahnya pemanjaan diri juga tetap dilakukan. Sedangkan memantaskan diri masih banyak jalannya. Menulis dalam penantian seperti merajut benang sambil berjalan. Jika sekarang dari jauh kekasih hanya mendengar ceritaku, perlahan nanti jarak ini hanya berjarak sejengkal hingga dia menemani hari-hari di sampingku dan selalu menginspirasiku.

Advertisement

Pemanjaan diriku sebagai perempuan tidak seperti yang dilakukan perempuan-perempuan lainnya. Jika mereka sibuk ke salon untuk dandan, aku salah satu dari ratusan orang yang hobi makan. Taste of food yang aku punya pun tidak diragukan. Ini saatnya di tengah keletihan aku meracik makanan. Lagi-lagi aku galau. Bingung makanan apa saja yang akan aku hidangkan. Akhirnya aku memutuskan untuk menyiapkan menu European dengan beragam pasta: spaghetti, macaroni, fettuccine, dan lasagna, serta es krim tiga rasa: kelapa muda, vanila, dan nangka. Tak sekedar memilih menu, di balik itu aku memiliki alasan tersendiri yang aku ciptakan. Padahal untuk menemukan alasan itu sendiri pun aku galau. Setelah aku selesai memasak, memakannya sendiri seperti mengurangi rasa bumbu, hambar. Aku masih punya cinta jarak jauh yang menambah cita rasa masakanku. Aku melakukan video call dengan kekasihku, kutunjukkan bahwa pemanjaan diriku menjadi salah satu jalanku untuk memantaskan diri.

Kekasih bertanya-tanya, “Kenapa masakan Eropa, bukan Sunda?”

Aku pun berkata, “Kamu di Bandung, aku di Surabaya, lalu mengapa tidak kita bermimpi indah untuk hidup bersama di luar sana?”

Kekasih masih penasaran, “Hmm.. sabar saja ya. Dan kenapa mesti es krim tiga rasa? Apa kau akan menunjukkan adanya orang ketiga di antara kita?”

Aku tersenyum lebar. Jarak 700 km yang tidak tipis ini ternyata tidak setipis kekhawatirannya. “Orang ketiga itu nanti menjadi penerus generasi kita, dia lah keturunan kita,” ujarku membuyarkan keraguannya. Semua yang aku lakukan ini semata karena mimpiku dan mimpinya. Sehingga tak perlu bergalau ria dengan ketidakpastian hubungan, kami berdua menciptakan sendiri jalan lurusnya.

Sudah beberapa aktivitas berbeda aku lakukan, nyatanya galau tetap saja mendera. Aku masih berupaya agar si dia segera kembali ke kota asalnya. Melirik keterampilanku berada pada tangan, aku akan memberinya ‘kode’ lebih dari sekedar kata-kata. Karena yang aku inginkan adalah segera hidup bersama, meski hanya di rumah sepertinya akan terasa mewah. Aku tak kehabisan ide. Otakku berfantasi memberi kreasi, tanganku yang ringan juga cekatan dalam memilin hiasan. Rumah aku rombak beberapa letak isinya. Dekorasi aku ganti sedikit girly dengan warna violet dan ungu muda. Siapapun yang melihatnya akan tau aku ini sedang apa dan ingin apa. Semua meja aku tutupi taplak manis berwarna putih. Di atas meja kudekatkan vas beisikan bunga seruni ungu dan mawar putih. Tiap sudut dinding aku sematkan untaian pita panjang berwarna ungu muda. Tak kalah meriah, plafon di atas kugantungkan lampion-lampion yang sangat mini bervariasi warna putih dan violet muda. Aku pun tak percaya apakah ini hanya permainan rumah-rumahan. Tanpa peduli seakan muncul sisi kekanakan, namun ini tindakan nyata sebagai orang dewasa. Lagi-lagi berbekal media online, video call kulangsungkan dengannya. Masih terheran-heran sedangkan salah satu dari kami tidak ada yang sedang melakukan perayaan, entah ulang tahun ataukah anniversary hubungan. Tidak dalam rangka apa-apa karena kejutan setiap hari bagi pejuang LDR adalah hal istimewa. Kejutan ini buat kami tersipu-sipu malu bahkan mendekor rumah sekecil ini saja sudah siap, terlebih lagi menghidupkan dekorasi pernikahan kami.

Ini lah perjalanan cintaku, dimana hari kembalinya kekasih makin dekat. Hubungan jarak jauh bertahun-tahun bisa terasa singkat. Asalkan memantaskan diri terus-menerus kami lakukan. Galau akan ketidakpastian jadi terabaikan. Perjumpaan dan kebersamaan kami sangat patut untuk disyukuri. Menjaga nikmat ini senantiasa tiada bosannya agar kami yang sama-sama sudah datang menjadi pemeran utama cerita ini tidak mungkin menghilang begitu saja.