"Hai mas, ternyata sudah setahun semenjak terakhir kita berjumpa. Sudah setahun pula hubungan kita kandas. Bayangan erat genggaman tanganmu masih terasa, wangi tubuhmu saat memelukku pun masih ku ingat samar".

Kini kita menjalani hubungan yang bisa dibilang tanpa status. Kau memintaku untuk menunggumu, percaya padamu, bertahan padamu. Ya, aku pun menyanggupinya. Jujur aku tak pernah menyangka, bahwa aku telah melewati waktu satu tahun untuk menunggumu.

Dan dalam satu tahun hubungan kita tak banyak yang berubah, kita masih sering berkomunikasi layaknya pasangan LDR lainnya. Aku pun semakin terbiasa dengan sifatmu yang acuh dan tak acuh. Setiap hari, perlahan tapi pasti, aku semakin mengenal siapa dirimu sebenarnya. Kau lelaki absurd yang dapat membuatku menetap di tempat yang sama untuk waktu yang lama.

"Aku yakin kau lelah mendengar ungkapan rinduku padamu. Kau juga lelah mendengar rengekan ku. Tak ada yang bisa aku lakukan, karena bertemu denganmu pun aku tak bisa".

Ketika rasa hampir menyerahku tiba, kau datang dengan kata-kata yang bagiku sangat meyakinkan. Bahwa kau masih butuh waktu untuk berjuang sedikit lagi. Kau ingin mengejar karirmu terlebih dahulu. Kau ingin mempersiapkan segala sesuatu untuk hari spesial kita nanti. Aku hanya bisa tersenyum kecil saat kau bersungguh-sungguh mengatakannya. Benarkah kau melakukan itu untukku? Entah karena rasa trauma juga takut akan hal sebelumnya, aku menahan diri agar hati ini tidak terbang terlalu tinggi.

Advertisement

"Aku pernah diberikan angan yang sangat tinggi, tapi karena terlalu tinggi pula lah saat aku jatuh sangat terasa sakitnya".

Bisakah kali ini aku percaya padamu?

Entah sudah berapa banyak orang yang menyuruhku untuk menyerah dan pergi melupakanmu. Tapi aku belum bisa melakukannya. Aku hanya ingin memercayaimu. Aku masih ingin berjuang di sini bersamamu dengan jarak yang membentang antara kita.

Bolehkah aku tetap mempertahankan semua ini sayang?

Memang banyak lelaki yang datang padaku. Tapi aku tetap memilihmu. Aku masih tetap padamu.

Mungkin memang aku yang bodoh. Aku terlalu bodoh dalam hal mencintaimu. Tapi jika suatu hari kau menemukan wanita yang lebih baik dariku. Katakanlah sejujurnya, janganlah kau berbohong padaku. Aku akan mundur perlahan untuk melihatmu bahagia dari kejauhan. Walaupun bukan dengan diriku. Aku tak ingin memaksakan hati seseorang yang tak bisa mencintaiku juga. Aku hanya ingin kau bahagia.

Aku sungguh sangat mencintaimu 🙂

~anonymous

Planet luar angkasa, 16 Januari 2015